Sikka, Podium One.net — Malam di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (16/9/2026), terasa berbeda. Di tengah suasana pengungsian dan kehidupan warga yang masih dibayangi bencana gempa, kehadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo membawa pesan sederhana, tetapi kuat: masyarakat yang sedang menghadapi bencana tidak boleh merasa berjalan sendirian.
Jokowi memutuskan bermalam bersama para penyintas gempa di posko pengungsian di Pulau Palue. Keputusan itu membuat kunjungannya tidak sekadar menjadi agenda bertemu warga, tetapi menghadirkan pengalaman langsung untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang masih bertahan di tengah kondisi pascabencana.
Disambut Doa Adat dan Air Kelapa
Setibanya di Palue, Jokowi tidak langsung memasuki rangkaian kegiatan formal. Ia terlebih dahulu disambut masyarakat melalui ritual Pa’e atau doa adat.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Thambo Wae, tradisi pemercikan air kelapa yang dimaknai masyarakat sebagai simbol kenyamanan, kedamaian, dan kesejukan bagi tamu yang memasuki wilayah Kampung Cawalo.
Suasana adat semakin terasa ketika Jokowi dikalungi sarung adat Palue oleh dua Laki Mosa atau tua adat.
Pengalungan sarung adat juga dilakukan oleh dua perwakilan warga dari Dusun Cawalo dan Dusun Tudu, Desa Rokirole.
Bagi masyarakat setempat, rangkaian penyambutan tersebut bukan sekadar seremoni. Ia merupakan cara masyarakat Palue menunjukkan penghormatan sekaligus memperkenalkan identitas budaya mereka kepada tamu yang datang.
Kehadiran Jokowi Dianggap Sebagai Kekuatan Moral
Koordinator Kegiatan Kunjungan Joko Widodo di Desa Rokirole, Benyamin Cawa, mengatakan penyambutan tersebut merupakan bentuk penghormatan masyarakat Palue terhadap tamu yang datang.
“Sebagai budaya kami orang Palue, apalagi di Rokirole, namanya tamu baru, kami pasti menyambut dengan tradisi,” ujarnya.
Namun, di balik prosesi adat tersebut terdapat makna yang jauh lebih dalam. Bagi warga yang tengah menghadapi situasi bencana, kehadiran seorang tokoh nasional di tengah-tengah mereka menjadi bentuk dukungan moral.
“Ini sebuah kekuatan untuk membangkitkan semangat kami bahwa kami tidak sendirian menghadapi bencana ini.” (Benyamin Cawa)
Kalimat itu menggambarkan kebutuhan penting masyarakat dalam situasi bencana: bukan hanya bantuan material, tetapi juga rasa bahwa mereka diperhatikan, didengar, dan tidak ditinggalkan.
Warga Ingin Jokowi Melihat Langsung Kehidupan Pengungsian
Perasaan serupa disampaikan Koordinator Posko Utama Rokirole, Nikodemus W. Lowo.
Nikodemus mengaku bahagia karena Jokowi akhirnya hadir dan berada bersama masyarakat di Pulau Palue.
“Kami sangat bahagia karena kehadiran Bapak Jokowi di tempat ini, di tanah kelahiran kami.”(Nikodemus W. Lowo)
Menurut Nikodemus, sebelumnya warga sempat mengira kunjungan Jokowi ke Palue batal karena rencana tersebut pernah ditunda. Karena itu, kabar bahwa Jokowi tetap datang dan bahkan memutuskan bermalam bersama warga di posko pengungsian menjadi sesuatu yang menggembirakan.
Menariknya, warga tidak mempersiapkan daftar tuntutan panjang untuk disampaikan kepada Jokowi.
Mereka justru berharap Jokowi melihat dan merasakan sendiri kehidupan masyarakat yang masih berada di pengungsian.
“Kami berpikir Pak Jokowi ini mantan eksekutif negara, terus beliau ini orang yang cukup dihargai di mata negara, sehingga kami berpikir Pak Jokowi tentu punya sesuatu yang bisa berikan untuk kami,” tutur Nikodemus.
Dari Pengungsian, Ada Pesan tentang Ketahanan Warga
Kunjungan tersebut memperlihatkan satu sisi penting dalam penanganan bencana. Ketika masyarakat kehilangan rasa aman akibat gempa, keberadaan di tengah mereka dapat menjadi bagian dari proses membangun kembali kepercayaan dan semangat.
Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Ia juga dapat mengubah kehidupan sosial, ekonomi, serta rasa aman masyarakat.
Karena itu, pemulihan membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan kembali bangunan yang rusak. Masyarakat membutuhkan pendampingan, akses terhadap kebutuhan dasar, kepastian pemulihan, dan ruang untuk menyampaikan kondisi mereka secara langsung.
Nikodemus meyakini berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Palue telah diketahui Jokowi melalui pemberitaan media maupun informasi lainnya.
Namun bagi warga, melihat langsung kondisi kehidupan di posko pengungsian memiliki arti tersendiri.
Di tengah malam yang masih menyimpan jejak bencana, masyarakat Palue mendapatkan sebuah pesan sederhana dari kehadiran tersebut: mereka tidak sendiri.
Dan mungkin, bagi warga yang sedang berjuang bangkit dari bencana, perasaan itulah yang menjadi salah satu modal paling penting untuk menatap hari berikutnya.
(Tim Redaksi Podium One.net)