Kupang, Podium One.net – Masa depan pertanian Nusa Tenggara Timur tidak boleh berhenti pada aktivitas menanam dan memanen. Petani harus didorong naik kelas menjadi pemilik masa depan, dengan pendapatan yang meningkat, kehidupan keluarga yang lebih sejahtera, serta generasi muda yang berani melihat pertanian sebagai pilihan masa depan.
1,8 Juta Hektare Lahan Kering Jadi Kekuatan NTT
Menurut Gubernur, NTT memiliki potensi pertanian yang sangat besar. Salah satu kekuatan tersebut adalah sekitar 1,8 juta hektare lahan kering yang dapat menjadi basis pengembangan pertanian apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Namun, potensi tersebut tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan.
Diperlukan teknologi, inovasi dan kerja bersama agar lahan yang tersedia mampu menghasilkan produktivitas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi petani.
Di sisi lain, berbagai tantangan masih membayangi sektor pertanian NTT.
Persoalan ketersediaan air, perubahan iklim, biaya produksi, akses pasar, harga komoditas hingga regenerasi petani merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan penanganan secara berkelanjutan.
Karena itu, menurut Melki, keberadaan HKTI tidak boleh berhenti pada aktivitas organisasi atau rapat-rapat formal.
HKTI harus hadir langsung di tengah kehidupan petani.
Turun ke desa. Duduk bersama petani. Mendengarkan persoalan mereka. Kemudian bersama-sama mencari jalan keluarnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena persoalan pertanian sering kali berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Petani di daerah dengan keterbatasan air menghadapi persoalan yang berbeda dengan petani yang memiliki akses pasar tetapi terbebani biaya produksi.
Dengan demikian, kebijakan dan program pertanian membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kondisi nyata di lapangan.
HKTI NTT Berkomitmen Keliling 21 Kabupaten dan 1 Kota
Sementara itu, Ketua DPD HKTI NTT Fernando Jose Osorio Soares menyampaikan komitmennya untuk membawa organisasi tersebut lebih dekat dengan petani.
HKTI NTT akan berkeliling ke 21 kabupaten dan 1 kota di NTT untuk melihat secara langsung kondisi pertanian dan mendengarkan persoalan yang dihadapi petani.
Prosesi pelantikan tersebut turut dihadiri langsung Ketua Umum DPN HKTI Sudaryono, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), serta Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma.
Di hadapan jajaran pengurus HKTI yang baru dilantik, Gubernur Melki menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak semestinya hanya diukur dari luas lahan yang ditanam ataupun jumlah tonase hasil panen.
Ukuran akhirnya jauh lebih penting: apakah pendapatan petani meningkat, apakah keluarga petani semakin sejahtera, dan apakah anak-anak muda NTT mulai melihat sektor pertanian sebagai masa depan.




“Petani NTT jangan hanya jadi penanam. Kita ingin mereka menjadi pemilik masa depan.”
Langkah tersebut sejalan dengan harapan agar HKTI tidak hanya dikenal sebagai organisasi yang berada di tingkat provinsi, tetapi benar-benar hadir sampai ke desa-desa.
“Ini yang kita butuhkan: organisasi yang hadir sampai ke tanah tempat petani bekerja,” demikian pesan yang disampaikan dalam agenda tersebut.
Kehadiran organisasi petani di tingkat lapangan diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi antara petani, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pertanian dan MBG Perlu Dibangun dalam Satu Ekosistem
Gubernur Melki juga mengapresiasi kehadiran Ketua Umum DPN HKTI Sudaryono, yang dalam pemerintahan juga menjabat sebagai Kepala BGN.
Menurutnya, kehadiran Sudaryono di NTT membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara sektor pertanian dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keterkaitan keduanya cukup strategis.
Di satu sisi, MBG membutuhkan pasokan bahan pangan yang berkualitas dan berkelanjutan. Di sisi lain, pengembangan pertanian lokal membutuhkan kepastian pasar agar hasil produksi petani memiliki nilai ekonomi.
Jika keduanya dapat dihubungkan dalam sebuah ekosistem, maka kebutuhan pangan untuk program pemerintah berpotensi menjadi bagian dari penguatan ekonomi petani lokal.
Namun, hal tersebut membutuhkan tata kelola yang baik, kualitas produksi yang terjaga, kesinambungan pasokan, serta mekanisme kemitraan yang jelas.
Mendorong Anak Muda Kembali ke Desa
Bagi NTT, pembangunan pertanian juga tidak dapat dipisahkan dari persoalan regenerasi.
Gubernur Melki menekankan pentingnya menciptakan kondisi yang membuat generasi muda tidak memandang pertanian sebagai pekerjaan tradisional yang tidak menjanjikan.
Sebaliknya, pertanian harus dikembangkan menjadi sektor yang mampu memberikan pendapatan, inovasi dan masa depan.
Karena itu, diperlukan perubahan cara pandang.
Petani masa depan bukan hanya orang yang bekerja di sawah atau kebun, tetapi juga dapat menjadi pelaku usaha, pengelola teknologi pertanian, pengembang produk pangan, hingga bagian dari rantai bisnis pertanian yang lebih luas.
Di titik inilah pesan Gubernur Melki menemukan relevansinya.
“Pertanian NTT harus maju. Petaninya harus sejahtera. Anak mudanya harus berani pulang ke desa dan berkata: Saya mau jadi petani.”
Kalimat tersebut menjadi penegasan bahwa membangun pertanian bukan semata-mata membangun lahan dan meningkatkan produksi.
Membangun pertanian berarti membangun manusia yang bekerja di dalamnya.
Sebab, ketika petani semakin sejahtera, desa memiliki basis ekonomi yang lebih kuat. Dan ketika generasi muda melihat pertanian sebagai masa depan, regenerasi sektor pangan dapat terus berlangsung.
Dari lahan kering hingga sawah, dari desa hingga pusat pemerintahan, tantangan pertanian NTT masih panjang.
Tetapi arah perjuangannya semakin jelas: petani tidak cukup hanya menjadi penanam. Mereka harus memiliki posisi yang lebih kuat dalam menentukan, mengelola dan menikmati masa depan pertanian NTT.
(Polce Lerek)