- “Pertumbuhan Harus Berubah Menjadi Pendapatan”
KEFAMENANU, PodiumOne.net – Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur yang mencapai 5,01 persen tidak boleh berhenti sebagai angka dalam laporan statistik.
Bagi Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang nyata: lapangan pekerjaan, usaha yang bergerak, pendapatan keluarga yang meningkat, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pesan tersebut tidak hanya disampaikan dalam forum pemerintahan. Melki Laka Lena langsung menerjemahkannya melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.
Usai mengikuti rangkaian Rapat Paripurna bersama DPRD NTT, kemudian Apel Kesadaran ASN dan penanaman pohon bersama Wakil Menteri Dalam Negeri RI Ribka Haluk di Kupang, Senin (21/9/2026), Gubernur Melki langsung bergerak menuju Desa Noebaun, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Di desa tersebut, Melki menyerahkan delapan unit mesin jahit industri kepada kelompok UMKM sekaligus membuka pelatihan pembuatan tas dan aksesori berbahan tenun khas NTT.
Langkah tersebut menjadi gambaran bagaimana pertumbuhan ekonomi harus diturunkan dari level makro ke tingkat paling dekat dengan masyarakat: desa dan rumah tangga.
Bukan Sekadar Produk, Tetapi Penghasilan Keluarga
Berhadapan langsung dengan pelaku UMKM dan masyarakat Desa Noebaun, Melki menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya sedang membangun produk.
Lebih jauh dari itu, pemerintah sedang berupaya membangun sumber penghasilan baru bagi keluarga.
“Yang dibangun bukan sekadar produk. Yang sedang kita bangun adalah penghasilan keluarga,” tegas Melki.
Menurutnya, NTT memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan salah satunya berada di tangan para perempuan pengrajin tenun.
Tenun NTT tidak boleh hanya dipandang sebagai kain tradisional. Potensi tersebut harus dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Saya melihat satu potensi besar yang selama ini ada di tangan mama-mama: tenun NTT,” ujarnya.
Karena itu, tenun didorong untuk diolah menjadi tas, dompet, aksesori, dan berbagai produk kreatif lainnya yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dari Tenun Menjadi Produk, Produk Menjadi Pendapatan
Melki menjelaskan, proses tersebut merupakan bagian dari konsep hilirisasi ekonomi.
Bahan baku berasal dari daerah, diproduksi dan diolah oleh masyarakat daerah, kemudian menghasilkan produk bernilai ekonomi yang dapat dipasarkan lebih luas.
“Tenun jangan hanya berhenti sebagai kain. Kita olah menjadi tas, dompet, dan berbagai aksesori yang punya nilai jual lebih tinggi. Inilah hilirisasi yang saya maksud: bahan dari daerah, diolah oleh orang daerah, menjadi produk bernilai dan menghasilkan uang untuk keluarga,” jelasnya.
Konsep tersebut memiliki kaitan langsung dengan bagaimana pemerintah ingin menerjemahkan pertumbuhan ekonomi 5,01 persen.
Sebab pertumbuhan ekonomi akan semakin bermakna apabila aktivitas produksi meningkat, UMKM berkembang, pasar terbuka, dan masyarakat memperoleh tambahan pendapatan dari kegiatan ekonomi yang mereka jalankan sendiri.
Delapan Mesin Jahit Harus Bergerak
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Melki menyerahkan delapan mesin jahit industri kepada delapan kelompok tenun.
Namun, bantuan tersebut tidak dimaksudkan sekadar menjadi inventaris kelompok.
Melki justru memberikan pesan tegas agar bantuan tersebut segera dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi.
“Bantuan ini jangan disimpan. Mesinnya harus bekerja. Tangannya harus terampil. Produksinya harus jalan. Pasarnya harus diperluas,” tegasnya.
Pesan tersebut menggambarkan prinsip sederhana dalam pembangunan ekonomi: bantuan harus menghasilkan aktivitas ekonomi.
Mesin harus menghasilkan produk.
Produk harus menemukan pasar.
Pasar harus menghasilkan pendapatan.
Dan pendapatan harus kembali memperkuat ekonomi keluarga.
Dengan demikian, bantuan pemerintah tidak berhenti pada penyerahan barang, tetapi harus berlanjut menjadi proses produksi yang berkelanjutan.
Pemerintah Siapkan Ekosistem dan Pasar
Melki juga menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya memberikan bantuan peralatan.
Pemerintah Provinsi NTT sedang menyiapkan ekosistem pendukung agar produk-produk UMKM dari desa dapat menembus pasar yang lebih luas.
Salah satunya melalui NTT Mart serta penguatan digital marketing.
Langkah tersebut penting karena tantangan UMKM bukan hanya kemampuan memproduksi barang, tetapi juga bagaimana produk tersebut dikenal, dipasarkan, dan memiliki akses terhadap konsumen.
Dengan dukungan pemasaran yang lebih luas, produk yang lahir dari desa diharapkan tidak hanya berputar di pasar lokal, tetapi dapat menjangkau konsumen di berbagai daerah.
Ayo Bangun NTT Dimulai dari Desa
Bagi Melki, pembangunan ekonomi NTT tidak selalu harus dimulai dari kota.
Desa memiliki kekuatan ekonomi yang besar apabila potensi lokal mampu diolah menjadi produk bernilai tambah.
“Kita ingin semangat Ayo Bangun NTT benar-benar terasa sampai ke desa: dari tenun menjadi produk, dari produk menjadi usaha, dari usaha menjadi pendapatan,” tandasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi gambaran konkret dari prinsip “pertumbuhan jangan berhenti di angka.”
Angka 5,01 persen adalah indikator pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, pekerjaan pemerintah belum selesai ketika angka tersebut tercapai.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas, terutama bagi masyarakat di desa.
Jika mesin jahit mulai berputar, pengrajin semakin terampil, produksi meningkat, pasar semakin luas, dan pendapatan keluarga bertambah, maka pertumbuhan ekonomi mulai menemukan bentuk nyatanya dalam kehidupan masyarakat.
Ekonomi Tumbuh, Masyarakat Harus Sehat
Kegiatan di Desa Noebaun juga dirangkai dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat.
Agenda tersebut menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia.
Masyarakat yang sehat memiliki kemampuan lebih besar untuk bekerja, berproduksi, mengembangkan usaha, dan mengambil bagian dalam pembangunan.
Karena itu, pembangunan ekonomi dan pelayanan kesehatan berjalan dalam satu garis yang sama: membangun manusia agar mampu membangun daerahnya sendiri.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati TTU Kamillus Elu, Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Selfi H. Nangge, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Abrianto Kore, jajaran Pemerintah Kabupaten TTU, Camat Noemuti, Kepala Desa Noebaun, serta masyarakat dan para pelaku UMKM.
Dari Desa Noebaun, pesan pertumbuhan ekonomi NTT 5,01 persen mendapatkan makna yang lebih konkret.
Pertumbuhan bukan hanya tentang angka yang naik. Pertumbuhan adalah ketika tangan-tangan masyarakat bekerja, usaha bergerak, produk lokal memiliki pasar, dan pendapatan keluarga ikut meningkat.
Itulah tantangan berikutnya: memastikan 5,01 persen pertumbuhan ekonomi NTT benar-benar terasa sampai ke desa-desa.
(PodiumOne.net/Tim)