Kupang, Podium One.net – Seporsi nasi, ayam, sayur dan semangka menjadi menu sederhana yang mempertemukan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama para siswa di SDK St. Arnoldus Penfui, Kota Kupang, Rabu (16/9/2026).
Bukan sekadar menikmati makanan bersama, momen tersebut menjadi kesempatan bagi Kepala BGN dan Gubernur NTT untuk melihat secara langsung bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diterima dan dirasakan oleh anak-anak sekolah.
Dari meja makan para siswa, perhatian kemudian mengarah pada persoalan yang lebih besar: bagaimana memastikan makanan bergizi, aman dan berkualitas dapat dinikmati anak-anak NTT, bukan hanya di perkotaan, tetapi juga hingga pelosok daerah kepulauan tersebut.
Kunjungan Kepala BGN Sudaryono ke NTT diawali dengan kedatangannya di Bandara El Tari Kupang, Rabu (16/9/2026). Ia disambut Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma.
Namun, kedatangan tersebut tidak berhenti pada agenda penyambutan.
Sudaryono bersama Gubernur NTT langsung bergerak meninjau pelaksanaan MBG di sejumlah sekolah di Kota Kupang. Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung pelaksanaan program sekaligus mendengar pengalaman para penerima manfaat.
Dorong MBG Menjangkau Pelosok NTT
Di sela-sela agenda tersebut, Sudaryono menegaskan pentingnya memperluas jangkauan layanan MBG hingga wilayah pelosok NTT.
“Pokoknya Pak Gubernur, kita segera membuka yang di pelosok-pelosok NTT ya. Penting itu,” ujar Sudaryono.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pelaksanaan MBG di NTT tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan, tetapi juga bagaimana membangun sistem pelayanan gizi yang mampu menjangkau wilayah dengan kondisi geografis dan akses distribusi yang beragam.
Bagi NTT yang terdiri atas banyak pulau dan wilayah dengan karakter geografis berbeda, perluasan layanan tentu membutuhkan dukungan fasilitas, distribusi bahan pangan, pengelolaan dapur, keamanan pangan serta koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah dan pengelola SPPG.
Karena itu, dapur MBG di daerah bukan sekadar tempat menyiapkan makanan. Dapur menjadi salah satu mata rantai penting yang menentukan apakah makanan yang sampai kepada siswa memenuhi aspek gizi, keamanan, kebersihan dan kualitas pelayanan.
Kepala BGN dan Gubernur Makan Bersama Siswa
Setelah tiba di Kota Kupang, Sudaryono didampingi Gubernur NTT meninjau pelaksanaan MBG di SDK St. Arnoldus Penfui.
Kehadiran kedua pejabat tersebut disambut antusias pihak sekolah dan para siswa.
Dalam kesempatan itu, Sudaryono berdialog dengan anak-anak. Ia mendengarkan secara langsung pengalaman siswa selama menerima makanan melalui program MBG.
Suasana semakin hangat ketika Kepala BGN Sudaryono dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena turut menikmati menu MBG bersama para siswa.
Menu yang tersaji cukup sederhana: nasi, ayam, sayur dan semangka.
Namun, kesederhanaan menu tersebut menghadirkan gambaran penting mengenai bagaimana program pemerintah dirasakan langsung oleh penerima manfaat.
Dalam unggahan melalui akun Facebook-nya, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyampaikan bahwa hal terpenting dari MBG bukan semata-mata makanan yang diberikan, tetapi bagaimana anak-anak pulang dalam kondisi kenyang dan memiliki semangat belajar yang lebih kuat.
Menurutnya, makan bersama para siswa juga menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung apakah makanan yang diberikan benar-benar dinikmati anak-anak, sesuai kebutuhan mereka, serta memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
Sekolah Akan Dilibatkan Menilai Kinerja Dapur MBG
Hal menarik lainnya muncul dalam kunjungan tersebut ketika Kepala BGN Sudaryono menyampaikan rencana penguatan sistem evaluasi terhadap dapur MBG atau SPPG.
Kepada pihak sekolah, Sudaryono menjelaskan bahwa ke depan akan dibangun sistem yang memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian terhadap dapur yang memasok makanan MBG ke sekolahnya.
Penilaian tersebut tidak hanya menyangkut keberadaan makanan, tetapi juga berbagai aspek pelayanan.
Sekolah nantinya dapat memberikan informasi apakah dapur tersebut kooperatif atau tidak, bagaimana rasa makanan, apakah makanan dihabiskan siswa, hingga berbagai masukan terkait kualitas layanan.
Melalui sistem online, pihak sekolah juga diharapkan dapat menyampaikan komentar, masukan, saran dan pendapat kepada BGN.
Dengan mekanisme tersebut, BGN dapat memperoleh informasi langsung dari sekolah sebagai salah satu pihak yang setiap hari berinteraksi dengan penerima manfaat.
Sistem ini pada akhirnya dapat menjadi instrumen pemantauan untuk melihat performa masing-masing dapur MBG/SPPG secara lebih terukur.
Artinya, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari berapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi juga dari kualitas makanan, keamanan pangan, respons siswa, tingkat penerimaan makanan serta kualitas pelayanan dapur.
MBG Bukan Sekadar Seporsi Makanan
Gubernur NTT menyampaikan apresiasi kepada Kepala BGN Sudaryono beserta rombongan atas perhatian dan kunjungannya ke NTT.
Pemerintah Provinsi NTT, kata dia, siap memperkuat kolaborasi dengan BGN dan seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaan MBG di NTT dapat berjalan semakin baik.
Pesan yang dibawa dari kunjungan tersebut cukup jelas: anak-anak NTT berhak mendapatkan makanan yang bergizi, aman dan berkualitas.
Namun, untuk mewujudkannya hingga pelosok, diperlukan sistem yang kuat.
Mulai dari dapur penyedia makanan, kualitas bahan pangan, proses pengolahan, kebersihan, distribusi, hingga mekanisme pengawasan dan evaluasi harus berjalan dalam satu mata rantai yang saling terhubung.
Di sinilah pentingnya keterlibatan sekolah.
Sekolah bukan hanya menjadi tempat menerima dan membagikan makanan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sistem pengawasan dengan menyampaikan kondisi nyata yang dirasakan siswa.
Pada akhirnya, MBG bukan sekadar tentang seporsi makanan yang tiba di meja anak sekolah.
Di balik seporsi nasi, ayam, sayur dan buah, terdapat tujuan yang lebih besar: membantu memenuhi kebutuhan gizi anak, mendukung proses belajar, serta membangun fondasi generasi yang sehat.
Dan dari Kota Kupang, pesan itu kini diarahkan lebih jauh—agar manfaat MBG tidak berhenti di pusat kota, tetapi perlahan bergerak menembus batas geografis hingga pelosok-pelosok NTT.
Anak-anak NTT tidak hanya membutuhkan makanan. Mereka membutuhkan makanan yang bergizi, aman, berkualitas dan hadir secara berkelanjutan.
(Polce Lerek)