SoE, PodiumOne.net – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, pelestarian budaya daerah menjadi tanggung jawab bersama agar warisan leluhur tidak tergerus zaman. Menyadari pentingnya hal tersebut, Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Eduard Markus Lioe, secara resmi membuka Festival Budaya Daerah Tahun 2026 yang melibatkan ratusan siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari berbagai sekolah di Kabupaten TTS.

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten TTS itu dipusatkan di kompleks Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) TTS, Selasa (20/10/2026), turut dimeriahkan tarian kolosal SMA Garuda Unggul TTS.

Festival ini bukan sekadar panggung pertunjukan dan ajang perebutan juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya, menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah, sekaligus mengembangkan kreativitas dan karakter sejak dini.

Merawat Tradisi, Menjaga Jati Diri Daerah

Dalam sambutannya, Bupati Eduard Markus Lioe menegaskan bahwa Festival Budaya Daerah Tahun 2026 merupakan momentum penting untuk memperkenalkan, melestarikan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kekayaan budaya daerah, khususnya di kalangan generasi muda.

Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Identitas, Membangun Generasi Muda Berbudaya”, festival ini membawa pesan kuat bahwa kemajuan pembangunan harus berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri masyarakat.

“Kita ingin agar pembangunan daerah tidak hanya menghasilkan kemajuan dalam bidang ekonomi, infrastruktur, pendidikan, dan teknologi, tetapi juga tetap berakar pada nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri masyarakat kita,” tegas Bupati.

Menurutnya, merawat tradisi berarti memastikan warisan leluhur tetap hidup, dikenal, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi penerus. Tradisi tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu atau sekadar dikenang dalam acara seremonial, melainkan harus terus dipraktikkan dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Pesan tersebut menjadi penting bagi masyarakat TTS, yang memiliki kekayaan tradisi, seni, bahasa, dan kearifan lokal sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya daerah.

Tarian Tradisional hingga Stand Up Comedy, Panggung Pembentukan Karakter

Festival Budaya Daerah Tahun 2026 memberikan ruang khusus bagi anak-anak untuk menampilkan kemampuan dan kreativitas melalui berbagai cabang perlombaan, antara lain tarian Maekat, tarian Tel Sain, tarian Bonet, tarian kreasi, serta stand-up comedy.

Bupati menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, setiap cabang lomba memiliki nilai pendidikan yang dapat membentuk karakter, keberanian, kedisiplinan, dan kemampuan berekspresi peserta didik.

Seni tari tradisional, misalnya, tidak hanya mengajarkan gerakan dan kekompakan, tetapi juga menanamkan penghargaan terhadap warisan budaya. Sementara itu, tarian kreasi membuka ruang bagi siswa untuk berinovasi, mengembangkan imajinasi, dan memadukan unsur tradisional dengan gagasan baru secara bertanggung jawab.

Adapun stand-up comedy menjadi sarana untuk melatih keberanian tampil di depan umum, kemampuan berbicara, berpikir kreatif, serta menyampaikan gagasan secara santun dan menghibur.

Dengan demikian, festival budaya tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga wahana pendidikan karakter yang melengkapi proses pembelajaran di sekolah.

Kepada para peserta tingkat SD dan SMP, Bupati menegaskan bahwa mereka merupakan bagian penting dari masa depan kebudayaan daerah.

“Kalian bukan hanya peserta lomba, tetapi juga calon penerus yang akan menentukan budaya daerah kita tetap hidup dan berkembang di masa yang akan datang,” pesannya.

Ia mengingatkan para siswa agar tidak semata-mata mengejar kemenangan dan piala. Festival harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk belajar, mengenal budaya, membangun persahabatan, meningkatkan kepercayaan diri, dan menghargai kemampuan orang lain.

Menurutnya, kemenangan memang membanggakan, tetapi keberanian untuk tampil, kemauan untuk belajar, dan kecintaan terhadap budaya jauh lebih penting.

Kepada peserta yang meraih juara, Bupati berpesan agar terus berlatih dan mengembangkan kemampuan. Sementara peserta yang belum berhasil diminta tidak berkecil hati, melainkan menjadikan pengalaman tersebut sebagai motivasi untuk terus berkarya dan mencoba kembali pada kesempatan berikutnya.

Globalisasi Menjadi Peluang sekaligus Tantangan

Lebih lanjut, Bupati menyoroti tantangan pelestarian budaya di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Kemudahan akses internet dan media sosial memungkinkan anak-anak mengenal berbagai budaya dari luar daerah maupun luar negeri.

Menurutnya, perkembangan tersebut merupakan peluang besar untuk memperluas wawasan. Namun, di sisi lain, kondisi itu juga menjadi tantangan apabila generasi muda lebih mengenal budaya luar daripada tradisi yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.

Karena itu, keluarga, sekolah, masyarakat, tokoh adat, seniman, budayawan, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama untuk memperkenalkan serta menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak dini.

Bupati mengajak para guru dan orang tua agar terus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar seni dan budaya. Para seniman dan budayawan juga diharapkan menjadi sumber inspirasi, pendamping, sekaligus penggerak bagi tumbuhnya kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.

Kepada generasi muda, ia berpesan agar tidak pernah merasa malu terhadap budaya sendiri. Sebaliknya, mereka harus bangga, memahami nilai-nilainya, dan mampu memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

Pesan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan berarti menolak kemajuan, melainkan membangun generasi yang terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Budaya Harus Berkembang dan Memberi Manfaat bagi Masyarakat

Bupati juga berharap pelestarian budaya daerah dapat dikembangkan melalui kreativitas dan pemanfaatan teknologi digital.

Tarian tradisional dapat diperkenalkan melalui media digital, cerita-cerita budaya dapat dikemas secara menarik, sedangkan berbagai karya seni berpotensi menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif.

Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak hanya menjadi warisan yang dijaga, tetapi juga sumber inspirasi, kebanggaan, dan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Artinya, pelestarian budaya perlu bergerak melampaui kegiatan seremonial. Diperlukan upaya berkelanjutan agar seni tradisional tetap dipelajari di sekolah, ditampilkan di tengah masyarakat, didokumentasikan dengan baik, dan memperoleh ruang untuk berkembang melalui kreativitas generasi muda.

Pemerintah Kabupaten TTS, lanjut Bupati, berkomitmen memberikan perhatian terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Namun, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Kolaborasi seluruh elemen masyarakat diperlukan agar nilai-nilai budaya benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan arah pembangunan daerah.

Festival Budaya sebagai Investasi Masa Depan

Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat menjadikan Festival Budaya Daerah Tahun 2026 sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan, mempererat kebersamaan, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas daerah.

Ia menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada panitia, dewan juri, sekolah, guru pendamping, orang tua, seniman, budayawan, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Marilah kita merawat tradisi, menguatkan identitas, dan membangun generasi muda yang berbudaya, kreatif, percaya diri, dan berkarakter,” ajaknya.

Dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Bupati Eduard Markus Lioe kemudian secara resmi membuka Festival Budaya Daerah Tahun 2026. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sukses, aman, dan meriah, serta memberikan manfaat bagi peserta dan masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Pembukaan festival ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan kebudayaan TTS tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak tradisi yang masih tersimpan, tetapi juga oleh seberapa besar komitmen generasi penerus untuk mengenal, mencintai, menjaga, dan mengembangkannya.

Ketua Panitia Okran Betty dalam laporannya menjelaskan, Festival Budaya Daerah TTS menghadirkan sejumlah perlombaan yang menyasar pelajar tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Adapun jenis kegiatan yang gelar  meliputi:

1. Lomba Tarian Bonet, sebagai ruang untuk menampilkan dan memperkenalkan kekayaan seni tari tradisional.

2. Lomba Tarian Maekat, untuk mendorong kecintaan pelajar terhadap seni dan tradisi daerah.

3. Lomba Tarian Kreasi, sebagai wadah pengembangan kreativitas dengan tetap berpijak pada kekayaan budaya lokal.

4. Lomba Tarian Telesaian, untuk memberikan kesempatan kepada pelajar menampilkan kemampuan seni dan tradisi.

5. Lomba Stand Up Komedi berbahasa daerah, sebagai upaya menghidupkan penggunaan bahasa daerah melalui kreativitas, humor, dan ekspresi generasi muda.

Rangkaian perlombaan tersebut diharapkan menjadi panggung bagi pelajar untuk mengembangkan bakat, membangun kepercayaan diri, serta memahami bahwa kebudayaan daerah memiliki nilai dan daya tarik yang dapat terus dikembangkan secara kreatif.

Penggunaan bahasa daerah dalam lomba komedi juga menjadi salah satu bentuk pendekatan edukatif untuk menjaga keberadaan bahasa lokal agar tetap digunakan dan dicintai oleh generasi muda.

Bukan Sekadar Festival, Tetapi Investasi Kebudayaan

Festival Budaya Daerah TTS juga diarahkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan daya tarik pariwisata, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, serta menghidupkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan, kegiatan kebudayaan seperti ini berpotensi membuka ruang bagi pelaku seni, kelompok kreatif, dan masyarakat untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik.

Dampak yang diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara. Lebih jauh, festival ini diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap budaya lokal, menjaga keberlangsungan warisan leluhur, menemukan bakat-bakat baru di bidang seni, serta memberikan peluang peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Polce Lerek | PodiumOne.net