SoE, PodiumOne.net – Ketika program revitalisasi sekolah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) diterpa berbagai isu di ruang publik, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) TTS Apris A. Manafe, SE., M.Si. memilih menjawabnya dengan cara yang sederhana: turun langsung melihat pekerjaan di lapangan.
Bukan memperpanjang polemik melalui pernyataan, Apris memilih memeriksa sendiri progres pembangunan, melihat kondisi material, berdialog dengan pihak sekolah, mengidentifikasi kendala, sekaligus memastikan pekerjaan berjalan sesuai target.
Bagi Apris, revitalisasi sekolah tidak cukup hanya dilihat dari laporan administratif.
Pekerjaan harus terlihat, progres harus terukur, kendala harus diketahui dan hasil akhirnya harus memberikan manfaat bagi peserta didik.
Pada Senin, 28 September 2026, Apris Manafe turun langsung memantau sejumlah satuan pendidikan penerima program revitalisasi, di antaranya SD Inpres Oehela, Kecamatan Batu Putih, SMP Negeri Hane serta salah satu PKBM di wilayah Hane.
Kunjungan tersebut menjadi gambaran bahwa di tengah munculnya berbagai informasi mengenai program revitalisasi, Dinas P&K TTS memilih membawa pembahasan kembali pada fakta lapangan.
Dari Isu ke Fakta Lapangan
Program revitalisasi sekolah tahun 2026 mencakup sedikitnya 52 SD dan 5 SMP di Kabupaten TTS. Kegiatannya meliputi pembangunan ruang kelas baru (RKB) dan rehabilitasi sejumlah fasilitas pendidikan.
Namun, besarnya jumlah sekolah penerima program bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Yang lebih penting adalah bagaimana pekerjaan dilaksanakan, bagaimana anggaran digunakan, sejauh mana progres fisiknya, apa saja hambatan yang dihadapi dan apakah hasil pekerjaan memenuhi standar serta benar-benar bermanfaat bagi sekolah.
Karena itu, Apris memilih melihat langsung kondisi tersebut.
Di SD Inpres Oehela, misalnya, ia melakukan peletakan batu pertama pembangunan dua ruang kelas baru sekaligus memantau rehabilitasi tiga ruang kelas.
Material pembangunan telah berada di lokasi ( material on side). Setelah peletakan batu pertama, pekerjaan RKB langsung dilanjutkan oleh tenaga kerja. Sementara rehabilitasi tiga ruang kelas juga telah berjalan dan mendekati penyelesaian.
Fakta tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelaksanaan revitalisasi tidak berada pada satu kondisi yang sama. Ada sekolah yang baru memulai pekerjaan, ada yang telah memasuki tahap lanjutan, dan ada pula yang menghadapi kendala teknis di lapangan.
Anggaran Cair, Pekerjaan Mulai Bergerak
Apris menjelaskan, sebagian besar revitalisasi SD baru mulai bergerak karena pencairan anggaran berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu sebelumnya.
Ada sekolah yang memperoleh pembangunan ruang kelas baru, sementara sekolah lainnya mendapatkan rehabilitasi.
“Program revitalisasi untuk SD sebagian besar baru dimulai karena anggarannya baru cair sekitar dua sampai tiga minggu yang lalu. Ada kegiatan tambahan ruang kelas baru dan ada kegiatan rehabilitasi juga. Seperti tadi di SD Negeri Oehela itu ada rehabilitasi tiga ruangan dan rehabilitasinya hampir selesai,” jelas Apris.
Untuk pembangunan dua ruang kelas baru di Oehela, pekerjaan memang baru dimulai. Namun, Apris menargetkan pembangunan tersebut dapat diselesaikan pada November 2026.
Dari total 52 SD penerima revitalisasi, sekolah lainnya juga mulai bergerak. Distribusi material dan tenaga kerja telah berada di sejumlah lokasi.
Menurut Apris, sekitar 70 persen dana telah berada di tangan kepala sekolah sebagai bagian dari mekanisme pelaksanaan kegiatan.
Artinya, kondisi fisik sebuah sekolah tidak selalu dapat dinilai hanya dari kapan anggaran masuk. Faktor geografis, akses jalan, distribusi material, ketersediaan tenaga kerja dan cuaca turut menentukan kecepatan pekerjaan.
Ketika Jalan Menjadi Kendala
Salah satu persoalan nyata ditemukan di SD GMIT Kuafatu.
Saat melakukan pemantauan, Apris bertemu langsung dengan pihak sekolah dan menanyakan alasan pekerjaan belum berjalan maksimal.
Persoalannya bukan semata-mata pada pelaksanaan pembangunan, tetapi akses menuju lokasi revitalisasi.
Sekolah masih harus membuka dan memperbaiki jalan agar kendaraan pengangkut material, terutama truk, dapat mencapai lokasi pekerjaan. Pihak sekolah bahkan menyewa excavator untuk membuka akses tersebut.
“Sekolah masih membuka jalan menuju lokasi revitalisasi. Kendalanya seperti itu. Mereka menyewa excavator untuk membuka jalan. Beberapa bulan sebelumnya hujan, sehingga akses jalan ke sekolah sulit dilalui kendaraan truk yang membawa material ke lokasi,” jelas Apris.
Kondisi ini menjadi contoh bahwa keterlambatan pekerjaan tidak selalu dapat dibaca hanya dari angka pencairan anggaran.
Ada persoalan teknis dan geografis yang harus dilihat secara obyektif sebelum publik menarik kesimpulan.
Target 80–90 Persen pada November
Untuk revitalisasi SD, Apris menyebut rata-rata waktu pelaksanaan pekerjaan sekitar 120 hari kalender.
Dengan rentang waktu tersebut, sekolah penerima program masih memiliki kesempatan menyelesaikan pekerjaan sesuai ketentuan.
Ia memperkirakan pada November 2026, progres fisik 52 SD penerima revitalisasi setidaknya dapat mencapai 80–90 persen.
Target tersebut tentu tetap bergantung pada perkembangan masing-masing sekolah di lapangan.
Karena itu, ukuran yang lebih objektif bukan sekadar melihat apakah sebuah bangunan sudah selesai atau belum, melainkan membandingkan kondisi awal, progres fisik, penggunaan anggaran, spesifikasi teknis, waktu pelaksanaan dan hasil akhir pekerjaan.
Progres SMP Lebih Maju
Sementara itu, perkembangan revitalisasi pada sejumlah SMP relatif lebih maju dibandingkan sebagian SD.
Apris menyebut progres terendah pada salah satu SMP berada di kisaran 50 persen, sedangkan sejumlah sekolah lainnya telah mendekati penyelesaian.
Salah satu faktor yang memengaruhi progres adalah adanya dana yang sempat mengalami pemblokiran selama sekitar satu bulan.
Apris mencontohkan SMP Negeri Teas. Dana sekolah tersebut telah masuk sekitar tiga bulan sebelumnya, namun sempat mengalami pemblokiran selama satu bulan sehingga dilakukan adendum waktu untuk memberikan ruang penyelesaian pekerjaan.
“Progres fisik SMP ada yang sekitar 50 persen dan yang hampir selesai 100 persen. Dan untuk sekolah yang progresnya belum maksimal kita dorong terus agar pekerjaan fisik terus maju dan selesai tepat waktu, tepat mutu dan memiliki asas manfaat,” ujar Apris.
Ia menargetkan pekerjaan fisik SMP dapat selesai maksimal pada November atau awal Desember 2026.
“Saya optimis SMP selesai sesuai jadwal kontrak,” katanya.
Mengejar Cepat, Tetapi Mutu Tetap Dijaga
Bagi Dinas P&K TTS, penyelesaian pekerjaan bukan satu-satunya target.
Kecepatan harus berjalan bersama kualitas.
Apris juga memperhatikan detail pekerjaan ketika berada di lapangan, termasuk kualitas pembesian yang menurutnya telah dilakukan sesuai ukuran dan jarak yang dipersyaratkan.
Ia juga menyoroti pekerjaan rehabilitasi toilet di salah satu sekolah. Pekerjaan yang semula direncanakan pada bagian tertentu kemudian dikerjakan lebih menyeluruh oleh pihak sekolah dengan tetap menggunakan anggaran yang tersedia.
Menurut Apris, setiap penyesuaian pekerjaan tetap harus ditempatkan dalam kerangka pengelolaan kegiatan yang benar dan tidak boleh mengabaikan ketentuan teknis maupun akuntabilitas anggaran.
“Intinya selesai semua. Bagi saya, semangat mereka untuk melihat wajah sekolah berubah juga merupakan nilai positif dari kegiatan swakelola sekolah,” ungkapnya.
Swakelola Membangun Rasa Memiliki
Pelaksanaan revitalisasi melalui mekanisme swakelola juga dinilai memiliki sisi lain yang penting, yakni tumbuhnya rasa tanggung jawab pihak sekolah terhadap lingkungan pendidikan mereka.
Apris melihat adanya semangat dari sekolah untuk memperbaiki sarana pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.
“Kalau saya melihat itu, ada semangat dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Mereka ingin melihat wajah sekolah berubah sehingga mereka juga semakin semangat di sekolah. Artinya, itu juga menjadi nilai positif dari kegiatan swakelola sekolah,” jelasnya.
Dengan demikian, revitalisasi tidak hanya menghasilkan perubahan fisik bangunan, tetapi juga mendorong keterlibatan sekolah dalam menjaga dan membangun lingkungan pendidikan mereka.
Isu Dijawab dengan Data dan Pekerjaan
Program revitalisasi menggunakan anggaran publik. Karena itu, masyarakat memiliki hak untuk mengawasi dan mempertanyakan prosesnya.
Namun, pengawasan akan jauh lebih bermakna apabila dibangun di atas data dan fakta.
Ketika sebuah bangunan belum selesai, pertanyaan yang perlu diajukan antara lain: kapan anggaran dicairkan, berapa progres pekerjaan, berapa lama waktu pelaksanaan, apa kendalanya, apakah terdapat perubahan atau adendum, bagaimana spesifikasi teknisnya dan bagaimana hasil akhirnya?
Sebaliknya, ketika sebuah bangunan terlihat sudah selesai, publik tetap berhak mengetahui apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan perencanaan, spesifikasi teknis dan anggaran yang telah ditetapkan.
Di sinilah transparansi menjadi penting.
Transparansi bukan hanya menyampaikan keberhasilan, tetapi juga menjelaskan progres, kendala, keterlambatan, mekanisme pelaksanaan dan langkah penyelesaian secara terbuka.
Apris Manafe Memilih Bekerja
Di tengah isu yang berkembang mengenai revitalisasi sekolah, langkah Apris Manafe di lapangan memberikan pendekatan yang berbeda.
Ia tidak menjadikan perdebatan sebagai pusat perhatian.
Ia memilih datang ke sekolah, melihat pekerjaan, bertanya kepada pelaksana, menemukan kendala dan mendorong pekerjaan agar terus bergerak.
Dari Oehela hingga Hane, dari pekerjaan RKB hingga rehabilitasi, persoalan yang ditemukan bukan hanya dibicarakan dari balik meja. Kondisi lapangan menjadi dasar untuk melihat apa yang sudah berjalan dan apa yang masih harus diperbaiki.
Pada akhirnya, keberhasilan revitalisasi sekolah tidak ditentukan oleh ramainya perdebatan mengenai program tersebut.
Ukuran yang lebih konkret adalah pekerjaan yang selesai, mutu bangunan yang dapat dipertanggungjawabkan, penggunaan anggaran yang transparan dan manfaat yang benar-benar dirasakan peserta didik.
Karena itu, masyarakat tidak perlu memilih antara percaya atau curiga.
Yang lebih penting adalah melihat fakta, membaca data, mengawasi proses dan menilai hasilnya secara objektif.
Dan bagi Kadis P&K TTS Apris A. Manafe, jawaban terhadap berbagai isu tersebut kini sedang diletakkan di tempat yang paling mudah diperiksa: **di lapangan, melalui pekerjaan yang nyata. **
Polce Lerek