34 Tahun Mengabdi, Sekda Sipa Purna Tugas: Jabatan Berakhir, Keteladanan Tetap Dikenang

SoE, PodiumOne.net – Ada masa ketika sebuah jabatan harus berakhir. Namun, ada pula pengabdian yang tidak selesai hanya karena sebuah surat keputusan memasuki batas waktu.

Bagi Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si, 1 Oktober 2026 menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang sebagai aparatur sipil negara setelah 34 tahun mengabdi untuk pemerintah dan masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Sehari sebelum memasuki masa purna tugas, Rabu (30/9/2026), Pemerintah Kabupaten TTS menggelar acara perpisahan bersama Sekretaris Daerah Kabupaten TTS tersebut di Aula Mutis, Kabupaten TTS.

Acara berlangsung sederhana, namun penuh kekhidmatan dan suasana haru. Ratusan aparatur sipil negara hadir bersama Bupati TTS Eduard Markus Lioe, Wakil Bupati Johny Army Konay, Ketua DPRD TTS Mordekali Liu, anggota DPRD serta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah.

Tidak ada kemeriahan berlebihan. Yang terasa justru suasana kekeluargaan—seolah seluruh ruangan sedang mengantar seorang rekan kerja yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari perjalanan birokrasi pemerintahan daerah.

Bukan Sekadar Sekda, Tetapi Sosok yang Dikenang

Bagi Bupati TTS Eduard Markus Lioe, masa kebersamaan selama 1 tahun 7 bulan 10 hari bersama Sekda Sipa meninggalkan kesan tersendiri.

Bupati menilai, salah satu karakter paling kuat yang melekat pada diri Sekda Sipa adalah ketenangannya dalam memimpin.

Dalam menghadapi persoalan birokrasi, Sipa disebut tidak mudah terbawa emosi. Bahkan ketika seorang bawahan melakukan kesalahan, teguran tidak disampaikan di hadapan orang banyak.

Bawahan dipanggil secara pribadi. Di ruangan itulah teguran, nasihat dan arahan diberikan.

“Hal yang paling membekas adalah kepemimpinan Sekda yang totalitas dalam bekerja, mampu merangkul bawahan dan bersinergi dengan mitra kerja pemerintah. Jika bawahan membuat kesalahan, tidak langsung ditegur di depan umum, tetapi dipanggil ke ruangan. Teguran, nasihat dan arahan disampaikan,” ujar Bupati Lioe.

Kemudian Bupati menyampaikan satu kalimat yang sederhana, tetapi menggambarkan sosok Sipa yang dikenalnya selama memimpin pemerintahan bersama.

Menurut Bupati, berbagai persoalan pemerintahan yang dihadapi selama masa kebersamaan mereka dapat diselesaikan dengan tenang.

“Sejak bersama selama 1 tahun 7 bulan 10 hari mengendalikan roda pemerintahan, sampai saat ini saya belum pernah melihat seorang Sekda Sipa marah. Berbagai persoalan birokrasi pemerintah, bagi pelayanan masyarakat diselesaikan dengan tenang. Nada bicara pelan mengalun. Dan itulah Sekda Sipa yang saya kenal,” kata Bupati Lioe.

Memimpin dengan Merangkul

Sebagai Sekretaris Daerah sekaligus Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Sipa menjalankan posisi strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Namun, jabatan strategis itu tidak membuat dirinya mengambil jarak dengan orang-orang di sekitarnya.

Menurut Bupati Lioe, Sipa mampu membangun sinergitas antarlembaga, termasuk dengan DPRD Kabupaten TTS sebagai mitra pemerintah daerah dalam pembahasan dan pelaksanaan berbagai program pembangunan untuk masyarakat.

Di tengah kompleksitas birokrasi, kepemimpinan tidak selalu harus hadir melalui suara yang keras.

Kadang-kadang, kepemimpinan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk mendengar, merangkul, memberi arahan dan menyelesaikan persoalan tanpa mempermalukan orang lain.

Di situlah sosok Sipa meninggalkan kesan bagi banyak orang yang pernah bekerja bersamanya.

Dari Birokrasi Dasar hingga Sekda dan Penjabat Bupati

Perjalanan karier Drs. Seperius Edison Sipa tidak dibangun dalam waktu singkat.

Ia meniti jenjang birokrasi dari bawah dan melewati berbagai tahapan pengabdian.

Dalam perjalanan kariernya, Sipa pernah dipercaya sebagai Kepala SKB Mollo Utara, Kasubdin PLS Dinas P&K TTS, Sekretaris Dinas P&K TTS, Kepala Dinas P&K TTS, Sekretaris Daerah Kabupaten TTS hingga Penjabat Bupati TTS.

Rentang perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah karier birokrasi dibangun melalui proses panjang, pengalaman dan kepercayaan yang diberikan dari waktu ke waktu.

Namun, semakin tinggi jabatan yang diemban, sosok yang terlihat justru tetap sama.

Sederhana.

Rendah hati.

Murah senyum.

Dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Sapaan “Kakak” yang Membuat Jarak Terasa Dekat

Kesan humanis terhadap Sipa tidak hanya datang dari lingkungan birokrasi.

Di kalangan jurnalis dan pekerja pers, sosoknya juga dikenal cukup dekat.

Sapaan “Kakak” menjadi salah satu ciri ketika Sipa berkomunikasi dengan para wartawan. Bahkan dengan pejabat dan bawahan di lingkungan Birokrasi Pemkab TTS.

Dalam menjalankan tugas jurnalistik, para pekerja pers merasakan adanya ruang komunikasi yang terbuka. Sipa juga dikenal memfasilitasi kebutuhan peliputan sesuai tugas dan kewenangan pemerintah.

Hubungan tersebut tidak dibangun semata-mata karena posisinya sebagai pejabat.

Justru, kesan yang tertinggal adalah hubungan antarmanusia—antara seorang pejabat pemerintahan dengan para pekerja media yang menjalankan tugas di lapangan.

Karena itu, ketika masa pengabdiannya berakhir, suasana perpisahan di Aula Mutis bukan hanya menjadi acara seremonial.

Ada ikatan emosional yang ikut terlepas.

Memori Jabatan Diserahkan, Kenangan Tidak Ikut Dikembalikan

Dalam acara tersebut, Sekda Sipa menyerahkan memori jabatan serta seluruh aset yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten TTS.

Bupati dan Wakil Bupati TTS kemudian memberikan cinderamata berupa pengalungan selimut dan cincin kepada Sipa serta SK Pensiun.

Cinderamata juga diserahkan oleh sejumlah Organisasi Perangkat Daerah.

Suasana haru semakin terasa ketika cinderamata diserahkan.

Beberapa ASN terlihat meneteskan air mata.

Tangisan itu menjadi bagian dari sebuah perpisahan yang sesungguhnya tidak mudah dilakukan.

Sebab yang dilepas bukan hanya seorang pejabat yang memasuki masa pensiun.

Yang dilepas adalah seorang rekan kerja, seorang senior, seorang pemimpin dan seorang yang merupakan  bagian dari perjalanan panjang birokrasi Kabupaten TTS.

Terima Kasih untuk Keluarga yang Telah Mengikhlaskan

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lioe juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang tulus atas seluruh tugas, pengabdian dan kerja keras Sipa selama menjadi aparatur negara dan Sekretaris Daerah Kabupaten TTS.

Ucapan terima kasih itu juga diarahkan kepada keluarga besar Sipa, Oematan dan Kase, yang telah mendedikasikan seorang putera terbaiknya untuk menjadi abdi negara dan abdi masyarakat.

Sebuah pengabdian panjang tentu tidak pernah berdiri sendiri.

Di belakang seorang aparatur yang bertahun-tahun menjalankan tugas negara, ada keluarga yang ikut menunggu, memahami, mendukung dan terkadang harus menerima berkurangnya waktu bersama orang yang mereka cintai.

Karena itu, purna tugas bukan hanya menjadi momentum bagi seorang pejabat untuk mengakhiri pekerjaannya.

Ia juga menjadi momentum untuk mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang selama ini berjalan bersama dalam perjalanan pengabdian tersebut.

Ketika Jabatan Berakhir, Karakter Tetap Berbicara

Ada sebuah ungkapan klasik:

“Berikan seseorang kekuasaan, maka di situlah karakter aslinya akan terlihat.”

Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa jabatan dan kewenangan dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk memperlihatkan nilai-nilai yang sesungguhnya ia pegang.

Kekuasaan dapat menguji kerendahan hati.

Jabatan dapat menguji cara seseorang memperlakukan orang lain.

Dan kewenangan dapat memperlihatkan bagaimana seseorang menggunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Dalam perjalanan karier Sipa, terdapat sebuah hal yang menarik untuk direnungkan.

Ia memulai karier dari bawah.

Kemudian dipercaya menduduki berbagai jabatan, hingga akhirnya menjadi Sekretaris Daerah dan pernah dipercaya menjalankan tugas sebagai Penjabat Bupati TTS.

Namun, menurut kesan yang disampaikan oleh orang-orang yang mengenalnya, termasuk insan persn perubahan jabatan tidak mengubah cara Sipa berinteraksi dengan sesama.

Tetap sederhana.

Tetap rendah hati.

Tetap murah senyum.

Tetap familiar.

Dan tetap membuka ruang komunikasi.

Jika jabatan adalah pakaian yang suatu saat harus dilepas, maka karakter adalah sesuatu yang tetap melekat pada diri seseorang.

Jabatan Sekretaris Daerah hari ini berakhir.

Memori jabatan telah diserahkan.

Aset negara telah dikembalikan.

Namun, 34 tahun pengabdian tidak mungkin dikembalikan kepada waktu.

Ia telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan birokrasi Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Dan bagi mereka yang pernah bekerja, berdiskusi, mendapat arahan, bersinergi ataupun sekadar bertegur sapa dengan Sipa, mungkin yang paling lama tinggal bukanlah gelar atau jabatan.

Melainkan cara ia memperlakukan manusia.

Selamat Memasuki Masa Purna Tugas

Terhitung 1 Oktober 2026, Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si resmi mengakhiri tugas dan pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara.

Dari ruang-ruang birokrasi menuju kehidupan yang lebih tenang bersama keluarga.

Dari agenda pemerintahan menuju hari-hari yang mungkin akan terasa berbeda.

Namun satu hal tetap sama:

pengabdian yang telah diberikan tidak akan hilang hanya karena jabatan telah berakhir.

Selamat memasuki masa purna tugas, Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menganugerahkan kesehatan, kekuatan, kebahagiaan dan umur panjang dalam menjalani masa purna tugas bersama keluarga tercinta.

34 tahun mengabdi.
Satu perjalanan panjang.
Satu keteladanan yang ditinggalkan.

Penulis : Polce Lerek