SoE, PodiumOne.net – Ancaman krisis air bersih di Kota SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kian nyata. Memasuki penghujung Oktober 2026, debit air di sejumlah sumber utama yang menopang kebutuhan masyarakat dilaporkan terus mengalami penurunan. Kondisi ini berpotensi memperberat pelayanan distribusi air bersih kepada pelanggan, terutama jika musim kemarau masih berlanjut.
Penurunan debit tersebut terjadi di sejumlah sumber air, mulai dari Oenasi, Nifuhuki 1, Nifuhuki 2, Kesetnana, hingga Bonleu. Bahkan, sumber air Bonleu yang selama ini menjadi salah satu penopang pasokan air bersih bagi masyarakat kini mengalami penyusutan debit yang cukup signifikan.
Direktur Perumda Air Minum Kabupaten TTS, Frans Steven Tafui, SP, kepada media ini, Jumat (23/10/2026), saat ditemui di lokasi bak penyaringan air kawasan Bu’at, mengungkapkan bahwa penurunan debit air diperkirakan akan semakin terasa pada akhir Oktober 2026.
Menurut Steven, berdasarkan kondisi yang ada saat ini, debit air di sejumlah sumber berpotensi kembali turun hingga 50 persen dari ketersediaan debit saat ini. Jika prediksi tersebut terjadi, tantangan pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat akan semakin berat.
Lima Sumber Air Mengalami Penurunan Debit
Data yang disampaikan menunjukkan bahwa penurunan debit terjadi di hampir seluruh sumber air yang disebutkan.
Sumber air Oenasi, yang sebelumnya menghasilkan 11 liter per detik, kini turun menjadi 7 liter per detik. Sementara itu, Nifuhuki 1 mengalami penurunan dari 10 liter menjadi 7 liter per detik, sedangkan Nifuhuki 2 menyusut dari 10 liter menjadi 5 liter per detik.
Kondisi serupa terjadi pada sumber air Kesetnana, yang debitnya turun dari 3,5 liter menjadi 2 liter per detik. Adapun sumber air Bonleu mengalami penurunan dari 30 liter menjadi 18 liter per detik.
Khusus Bonleu, penurunan tersebut berarti pasokan air yang tersedia kini berkurang 40 persen dibandingkan kondisi sebelumnya. Apabila prediksi penurunan lanjutan sebesar 50 persen dari debit saat ini benar-benar terjadi, debit Bonleu berpotensi hanya tersisa 9 liter per detik.
Situasi ini menjadi peringatan penting bahwa ketersediaan air baku tidak dapat dianggap selalu mencukupi, terutama ketika curah hujan belum mampu memulihkan sumber-sumber air yang mengalami penyusutan.
Kebocoran Pipa Ikut Menghambat Distribusi Air
Di tengah menurunnya debit sumber air, Perumda Air Minum TTS juga menghadapi persoalan kebocoran pipa di sejumlah titik distribusi. Akibatnya, pasokan air dari sumber Bonleu kepada pelanggan belum dapat berjalan secara maksimal.
Steven menjelaskan, penurunan debit air yang terjadi bersamaan dengan kebocoran jaringan berdampak langsung terhadap tekanan air dan kelancaran distribusi kepada masyarakat.
“Penurunan debit dan kebocoran yang terjadi memicu berkurangnya tekanan air sehingga distribusi kepada pelanggan tidak maksimal. Kami berharap pelanggan yang tidak mendapatkan distribusi air segera melapor ke kantor Perumda agar dapat segera kami tanggulangi,” ujar Steven.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan pelayanan air bersih bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan air baku, tetapi juga kondisi jaringan perpipaan yang menyalurkan air hingga ke rumah-rumah pelanggan.
Karena itu, laporan masyarakat mengenai gangguan distribusi menjadi salah satu informasi penting bagi petugas untuk mengidentifikasi lokasi terdampak dan menentukan langkah penanganan.
Perbaikan kebocoran jaringan, pemantauan tekanan air, serta pengaturan distribusi menjadi bagian penting dalam menghadapi keterbatasan pasokan selama musim kemarau.
Bak Penyaringan Bu’at Dibersihkan, Perumda Siapkan Antisipasi Musim Hujan
Selain menghadapi penurunan debit air, Perumda Air Minum TTS juga mulai melakukan langkah antisipasi untuk menjaga kualitas pelayanan ketika memasuki musim penghujan.
Steven mengatakan, pihaknya tengah membersihkan bak penyaringan air di kawasan Bu’at. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung proses penyaringan dan menjaga kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan ketika kondisi cuaca mulai berubah.
Upaya ini penting karena perubahan musim dapat memengaruhi kondisi air baku, termasuk meningkatnya material lumpur dan sedimen yang terbawa aliran air. Dengan demikian, pemeliharaan fasilitas penyaringan menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas air sebelum disalurkan kepada masyarakat.
Namun, di tengah ancaman kekurangan air pada musim kemarau, ketersediaan pasokan dan kualitas air tetap membutuhkan perhatian secara bersamaan. Air yang tersedia harus cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga harus melalui proses pengolahan yang layak sebelum didistribusikan.
Mobil Tangki Bisa Menjadi Solusi Darurat, Pemerintah Diminta Mendukung
Menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan penanganan pelanggan yang tidak memperoleh distribusi air melalui mobil tangki, Steven mengakui bahwa langkah tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PRKP).
Meski demikian, menurutnya, pelaksanaan penyaluran air menggunakan mobil tangki milik pemerintah membutuhkan dukungan kebijakan dan pembiayaan operasional, khususnya untuk penyediaan bahan bakar.
Steven menyampaikan bahwa dukungan pemerintah diperlukan agar mobil tangki dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang mengalami kekeringan dan kesulitan memperoleh air bersih.
Skema ini dapat menjadi salah satu pilihan penanganan darurat, terutama bagi wilayah atau kelompok pelanggan yang mengalami gangguan distribusi dalam waktu cukup lama. Namun, pelaksanaannya perlu disertai koordinasi lintas perangkat daerah, penentuan wilayah prioritas, serta pengaturan jadwal penyaluran agar bantuan menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Di tengah kondisi debit air yang terus menyusut, distribusi melalui mobil tangki bukanlah pengganti permanen bagi sistem perpipaan. Akan tetapi, langkah tersebut dapat menjadi jembatan pelayanan ketika pasokan reguler belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menjaga Air Bersih Membutuhkan Kerja Bersama
Penurunan debit di lima sumber air tersebut menjadi pengingat bahwa ketersediaan air bersih merupakan persoalan mendasar yang memerlukan penanganan berkelanjutan. Perumda Air Minum TTS perlu terus memantau debit sumber, menangani kebocoran jaringan, serta menjaga fasilitas pengolahan dan penyaringan.
Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan dapat mempertimbangkan dukungan operasional untuk penyaluran air darurat melalui mobil tangki, terutama bagi pelanggan yang terdampak langsung.
Masyarakat juga dapat berperan dengan menggunakan air secara hemat, menghindari pemborosan, serta segera melaporkan kebocoran atau gangguan distribusi kepada pihak Perumda.
Sebab, ketika sumber air semakin menyusut, setiap liter air menjadi semakin berharga. Antisipasi yang dilakukan sejak dini, koordinasi antarlembaga, dan keterlibatan masyarakat akan menentukan seberapa baik kebutuhan air bersih warga SoE dapat tetap dilayani di tengah tekanan musim kemarau.
Polce Lerek | PodiumOne.net