• Potensi 360 Hektare Sawah Desa Abi Menanti Dukungan Irigasi untuk Dukung Swasembada Pangan Nasional
  • Gerakan Tanam Serentak Nasional Komoditi padi Sawa di Desa Abi Periode Agustus 2026

SoE, PodiumOne.net – Di tengah gegap gempita Gerakan Tanam Nasional (Gertamnas) Padi Sawah periode Agustus 2026, ratusan penyuluh dan petani di Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kembali menunjukkan bahwa perjuangan menuju swasembada pangan nasional tidak hanya berbicara tentang benih yang ditanam.

Ada persoalan yang jauh lebih mendasar.

Air.

Tanpa air yang cukup dan jaringan irigasi yang memadai, hamparan sawah yang luas belum tentu mampu menghasilkan pangan secara maksimal.

Persoalan inilah yang kini menjadi pekerjaan rumah penting di Desa Abi, sebuah wilayah yang sesungguhnya menyimpan potensi pertanian sangat besar.

Melalui Gertamnas Padi Sawah, para penyuluh pertanian bersama petani Kelompok Tani Feto Mone turun langsung ke sawah untuk melakukan penanaman padi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026, dan dihadiri Ketua Tim Kerja Swasembada Pangan Nasional Kabupaten TTS, Zakarias Toto, didampingi Kepala Desa Abi Anderias Heli dan Koordinator Penyuluh BPP Kecamatan Oenino Maks Riwu, bersama jajaran penyuluh pertanian dan kelompok tani.

Pelaksanaan Gertamnas di Desa Abi dipusatkan pada lahan sawah Kelompok Tani Feto Mone dengan luas tanam mencapai 32 hektare.

Zakarias Toto: Target Luas Tanam TTS 2.049 Hektare

Ketua Tim Kerja Swasembada Pangan Nasional Kabupaten TTS, Zakarias Toto, menjelaskan bahwa kegiatan Gertamnas di Desa Abi merupakan bagian dari rangkaian upaya mengejar target luas tanam sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten TTS.

Menurut Zakarias, selain Gertamnas seluas 32 hektare di lahan Kelompok Tani Feto Mone, terdapat pula target Luas Tambah Tanam (LTT) pada lahan Optimalisasi Lahan (Oplah) periode Agustus 2026 sebesar 25 hektare.

Target tersebut merupakan bagian dari upaya memenuhi sasaran tanam pada musim tanam pertama dan musim tanam kedua hingga September 2026.

Secara keseluruhan, Kabupaten Timor Tengah Selatan mendapat target luas tanam mencapai 2.049 hektare untuk musim tanam pertama dan kedua.

Namun, menurut Zakarias, tantangan yang dihadapi bukan hanya bagaimana menambah luas lahan yang ditanami, tetapi juga bagaimana meningkatkan intensitas pemanfaatan lahan dalam satu tahun.

Saat ini, Indeks Pertanaman (IP) Kabupaten TTS masih berada pada angka 1,39, sementara target yang ingin dicapai adalah IP 2.

“Artinya, masih diperlukan peningkatan frekuensi tanam dan perluasan areal pertanian agar satu bidang lahan dapat dimanfaatkan secara lebih produktif dalam satu tahun sehingga target IP 2 bisa terpenuhi hingga akhir September 2026 mendatang,” tegas Zakarias.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa mengejar target swasembada pangan bukan sekadar memperluas areal tanam.

Lahan yang sudah tersedia juga harus mampu dimanfaatkan secara lebih intensif.

Secara sederhana, Indeks Pertanaman menggambarkan berapa kali suatu lahan dapat ditanami dalam satu tahun. Ketika IP meningkat, maka peluang peningkatan produksi pangan juga semakin besar.

Karena itu, peningkatan IP dari 1,39 menuju 2 menjadi salah satu pekerjaan penting bagi Kabupaten TTS.

Mengejar IP 2, Air Menjadi Faktor Penentu

Target tersebut tentu membutuhkan kerja keras.

Tim Kerja Swasembada Pangan Nasional Kabupaten TTS menargetkan tambahan luas tanam sedikitnya 200 hektare hingga maksimal 300 hektare hingga September 2026.

Namun, untuk meningkatkan luas tanam dan mendorong IP menuju angka 2, persoalan air tidak bisa diabaikan.

Di sinilah persoalan pembangunan pertanian di Desa Abi menjadi semakin penting.

Sebab, semangat petani untuk menanam harus berjalan beriringan dengan kemampuan menyediakan air bagi tanaman.

360 Hektare Potensi Sawah, Tetapi Belum Optimal

Koordinator Penyuluh BPP Kecamatan Oenino, Maks Riwu, mengungkapkan bahwa Desa Abi memiliki potensi lahan sawah yang sangat besar, diperkirakan mencapai 360 hektare.

Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi TTS untuk meningkatkan produksi pangan.

Namun, menurut Maks Riwu, optimalisasi potensi tersebut masih terbentur keterbatasan fasilitas irigasi.

Persoalannya bukan semata-mata petani tidak mau menanam.

Bukan pula karena penyuluh tidak melakukan pendampingan.

Masalahnya adalah bagaimana air dapat sampai ke seluruh areal persawahan secara berkelanjutan.

Saat ini sebagian petani masih mengandalkan sistem pengairan tradisional dari aliran Sungai Benenain.

Sementara itu, pembangunan saluran tersier melalui program Optimalisasi Lahan baru dilakukan pada dua titik, yakni di Kelompok Tani Feto Mone dan Kelompok Tani Adika, dengan total panjang saluran sekitar 300 meter.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara besarnya potensi lahan dengan kesiapan infrastruktur pengairan.

Padahal, kawasan pertanian Desa Abi berada tidak terlalu jauh dari sumber air Bendungan Temef.

Di sinilah persoalan menjadi semakin kompleks.

Sumber Air Ada, Tantangannya Bagaimana Mengalirkannya

Upaya mengalirkan air menuju areal pertanian masyarakat sebenarnya telah dilakukan.

Namun, kondisi geografis menjadi salah satu kendala.

Perbedaan ketinggian antara sumber air dan areal persawahan mencapai sekitar 15 meter. Kondisi ini membuat air belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengairi seluruh potensi lahan sawah yang ada.

Karena itu, pembangunan irigasi tidak dapat hanya dilihat dari keberadaan sumber air.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun sistem jaringan yang mampu membawa air dari sumber menuju lahan secara efektif.

Mulai dari irigasi primer, yang berfungsi membawa air dari sumber atau bangunan utama; kemudian irigasi sekunder, yang menyalurkan air dari jaringan utama menuju kawasan pelayanan; hingga irigasi tersier, yang mendistribusikan air secara lebih langsung ke petak-petak sawah petani.

Ketiga tingkatan jaringan tersebut harus saling terhubung.

Jika salah satu bagian tidak berfungsi optimal, maka distribusi air ke lahan pertanian juga akan terganggu.

Dan bagi Desa Abi, persoalan tersebut menjadi sangat penting karena ada 360 hektare potensi lahan sawah yang menunggu untuk dioptimalkan.

Maks Riwu: Potensi Besar Harus Ditopang Infrastruktur

Bagi Maks Riwu, gerakan tanam tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial.

Gertamnas harus menjadi momentum untuk melihat secara lebih nyata apa yang dibutuhkan petani agar mampu meningkatkan produksi secara berkelanjutan.

Penyuluh dapat mendampingi petani. Benih dapat disediakan. Pupuk dapat diberikan.

Teknologi pertanian dapat diperkenalkan. Tetapi tanpa dukungan air dan jaringan irigasi yang memadai, produktivitas lahan akan tetap menghadapi keterbatasan.

Karena itu, potensi 360 hektare sawah di Desa Abi membutuhkan dukungan pembangunan infrastruktur irigasi secara lebih serius dan terintegrasi. Irigasi primer dan sekunder menjadi kebutuhan penting untuk membawa air dari sumber menuju kawasan pertanian, sementara jaringan tersier diperlukan agar distribusi air dapat menjangkau petak-petak sawah petani.

Dengan sistem pengairan yang terintegrasi, potensi lahan yang selama ini belum optimal diharapkan dapat ditingkatkan pemanfaatannya.

Pemerintah Desa Akui Keterbatasan Anggaran

Kepala Desa Abi, Anderias Heli, menyatakan pemerintah desa tetap berkomitmen mendukung program swasembada pangan nasional.

Namun, kemampuan pemerintah desa melakukan intervensi pembangunan infrastruktur masih terbatas karena keterbatasan anggaran.

Dukungan desa selama ini lebih diarahkan pada kebutuhan langsung petani, seperti bantuan benih dan pupuk bagi kelompok tani.

Pada tahun 2025, Dana Desa sempat dialokasikan untuk mendukung pengadaan benih dan pupuk bagi empat kelompok tani.

Namun memasuki tahun 2026, ruang fiskal pemerintah desa semakin terbatas sehingga pembangunan jaringan irigasi berskala besar belum mampu dilakukan secara maksimal.

Karena itu, pemerintah desa berharap dukungan datang dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat.

Terutama untuk pembangunan jaringan irigasi yang mampu menghubungkan sumber air dengan kawasan pertanian masyarakat.

Penyuluh Bergerak, Petani Tidak Boleh Berhenti

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, penyuluh pertanian tetap menjadi salah satu ujung tombak.

Penyuluh bukan hanya hadir ketika benih mulai ditanam.

Mereka mendampingi petani dalam menentukan pola tanam, memilih benih, menerapkan teknologi, meningkatkan produktivitas, hingga membantu petani memahami berbagai program pemerintah di sektor pertanian.

Gerakan tanam nasional pada akhirnya bukan hanya tentang berapa hektare lahan yang berhasil ditanami.

Lebih dari itu, gerakan tersebut harus mampu memastikan bahwa lahan yang ditanam dapat terus menghasilkan.

Sebab, menanam tanpa dukungan air yang memadai hanya akan menghasilkan target di atas kertas. Tetapi menanam dengan sistem irigasi yang baik dapat menghasilkan produksi pangan yang berkelanjutan.

Di Desa Abi, semangat itu telah terlihat. Penyuluh bergerak.  Penyuluh dan Petani turun ke sawah. Benih mulai ditanam. Tetapi tantangan terbesar masih menunggu: bagaimana memastikan air dapat mengalir secara cukup dan berkelanjutan ke seluruh kawasan pertanian.

360 Hektare: Potensi atau Pekerjaan Rumah?

Potensi 360 hektare sawah Desa Abi kini berada di persimpangan. Di satu sisi, angka tersebut merupakan peluang besar untuk memperkuat produksi pangan TTS.

Di sisi lain, tanpa infrastruktur irigasi yang memadai, potensi tersebut belum mampu memberikan hasil maksimal. Karena itu, pembangunan irigasi primer, sekunder dan tersier bukan sekadar pembangunan fisik. Ia merupakan investasi untuk masa depan pangan masyarakat.

Jika jaringan irigasi mampu dibangun dan diintegrasikan dengan baik, petani tidak hanya memiliki lahan, tetapi juga memiliki kepastian yang lebih besar dalam mengatur pola tanam dan meningkatkan produksi. Dan ketika luas tanam meningkat, peluang Kabupaten TTS untuk mengejar target Indeks Pertanaman 2 juga semakin terbuka.

Dari Desa Abi, pesan itu menjadi jelas:  Swasembada pangan tidak cukup hanya dengan menggerakkan petani untuk menanam. Petani membutuhkan air, irigasi, teknologi, sarana produksi dan pendampingan yang berkelanjutan.

Sebab, di balik setiap hektare sawah yang ditanami, ada harapan untuk menghasilkan pangan. Dan di balik 360 hektare potensi sawah Desa Abi, ada peluang besar yang menunggu untuk diwujudkan.

Kini, tantangannya bukan lagi sekadar **“mau menanam atau tidak.” **Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Apakah kita mampu menyediakan infrastruktur agar 360 hektar lahan itu benar-benar produktif?”

Jika pemerintah, penyuluh dan petani mampu bergerak dalam satu irama, maka Desa Abi bukan hanya menjadi lokasi Gertamnas. Desa Abi berpeluang menjadi salah satu kekuatan produksi pangan baru di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Penyuluh terus bergerak mendampingi petani. Petani terus berupaya meningkatkan produktivitas lahan. Namun, semua itu membutuhkan dukungan ketersediaan air dan jaringan irigasi yang memadai. Dari Desa Abi, dengan potensi 360 hektar lahan sawahnya, langkah menuju peningkatan produksi dan swasembada pangan nasional terus begerak.

Reporter/Editor: Polce Lerek