• Bantu Korban Gempa di Flores

Oleh : Polce Lerek

17 Agustus 2026. Hari ini Indonesia memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Delapan puluh satu tahun bangsa ini berdiri sebagai negara merdeka.

Namun, di tengah suasana perayaan kemerdekaan, saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur, sedang menghadapi duka akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. Permukiman dan fasilitas publik terdampak, korban jiwa berjatuhan, sementara banyak warga harus meninggalkan rumah dan bertahan di luar, tidur beralaskan tanah dan berselimutkan udara malam yang dingin.

Di tengah bencana itu, ada sebuah pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan kepada dunia pendidikan: Ketika saudara kita sedang menderita, apa yang dapat kita ajarkan kepada anak-anak tentang arti kemanusiaan? Jawabannya bukan hanya teori. Kita mengajarkan mereka untuk peduli.

Sekolah Bukan Hanya Tempat Mencetak Anak Pintar

Sekolah mengajarkan matematika, bahasa, sains, teknologi, dan berbagai pengetahuan untuk mempersiapkan masa depan. Tetapi pendidikan tidak boleh berhenti pada kecerdasan.

Pendidikan juga harus membentuk hati.

Ketika seorang siswa melihat anak seusianya kehilangan rumah, buku, pakaian, atau tempat belajar akibat bencana, lalu berkata, “Saya ingin membantu,” saat itulah pendidikan berubah menjadi tindakan kemanusiaan.

Melalui gerakan donasi, siswa belajar tentang empati, solidaritas, gotong royong, tanggung jawab, dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

Donasi Bukan Perlombaan

Gerakan donasi di sekolah harus dilakukan secara sukarela dan bermartabat. Jangan ada paksaan. Jangan ada target nominal yang membuat siswa merasa terbebani. Jangan pula mengukur kepedulian berdasarkan jumlah uang yang diberikan.

Seorang siswa yang mampu memberikan Rp100.000 tidak otomatis lebih peduli daripada siswa yang hanya mampu memberikan Rp5.000. Bisa jadi, Rp5.000 itu adalah sebagian besar dari apa yang ia miliki.

Karena itu, pendidikan harus mengajarkan bahwa nilai sebuah pemberian bukan semata-mata terletak pada nominal, tetapi pada ketulusan dan pengorbanan di baliknya.

Memberi dari Kekurangan

Inilah pelajaran yang sangat penting untuk ditanamkan sejak dini: Jangan menunggu kaya untuk belajar berbagi. Memberi dari kelebihan adalah sebuah kebaikan. Tetapi ketika seseorang rela menyisihkan sesuatu dari keterbatasannya untuk membantu sesama, di sana anak belajar tentang pengorbanan. Mungkin hanya sebagian kecil uang saku. Mungkin sebuah buku. Mungkin pakaian yang masih layak. Mungkin tenaga untuk mengemas bantuan. Mungkin waktu untuk membantu.Atau bahkan hanya doa. Nilainya mungkin kecil secara materi, tetapi besar secara kemanusiaan. “Saya mungkin tidak memiliki banyak, tetapi saya tidak ingin saudara saya menghadapi penderitaan sendirian.” Inilah pendidikan karakter yang sesungguhnya.

Tidak Punya Uang Bukan Berarti Tidak Bisa Peduli

Setiap anak harus memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Siswa yang tidak mampu berdonasi dengan uang tidak boleh merasa rendah diri. Ia tetap bisa membantu melalui tenaga, waktu, barang yang layak digunakan, dukungan, atau doa. Sebab kepedulian tidak selalu berbentuk uang. Yang terpenting adalah anak belajar bahwa penderitaan orang lain bukan sesuatu yang boleh kita abaikan.

“Satu Sekolah, Satu Kepedulian untuk Flores”

Bayangkan jika sekolah-sekolah di seluruh Indonesia bergerak bersama. Satu kelas mengumpulkan bantuan. Satu sekolah menggalang kepedulian. Kemudian bantuan disalurkan melalui lembaga atau pihak yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin satu sekolah hanya mampu memberikan sedikit. Tetapi jika ribuan sekolah bergerak bersama, sedikit itu dapat menjadi kekuatan besar. Dan yang lebih penting, sebuah pesan akan sampai kepada korban: “Kalian tidak sendiri.” Inilah makna solidaritas kebangsaan.

Ketika Flores terluka, daerah lain tidak boleh berpaling. Sebab Indonesia bukan hanya tentang wilayah dan pulau. Indonesia adalah persaudaraan.

Donasi Juga Mengajarkan Kejujuran

Gerakan kemanusiaan harus sekaligus menjadi pendidikan integritas. Setiap bantuan adalah amanah. Karena itu, proses pengumpulan dan penyalurannya harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Siswa perlu belajar bahwa berbuat baik harus dilakukan dengan jujur, terbuka, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, sekolah tidak hanya mengajarkan kepedulian, tetapi juga membentuk karakter yang berintegritas.

Jangan Biarkan Korban Hanya Menjadi Berita

Bencana sering menjadi perhatian besar selama beberapa hari. Foto beredar. Video ditonton. Donasi dikumpulkan. Kemudian berita berganti. Namun bagi korban, kehidupan tidak serta-merta kembali normal ketika berita berhenti. Rumah masih harus dibangun. Penghasilan harus dipulihkan. Anak-anak harus kembali belajar. Dan trauma harus dipulihkan. Karena itu, rasa iba tidak boleh berhenti sebagai tontonan. Rasa iba harus berubah menjadi tindakan. Dan sekolah dapat menjadi tempat terbaik untuk mengubah rasa iba menjadi kepedulian nyata.

Dari Ruang Kelas, Kita Bangun Indonesia yang Peduli

Mungkin gerakan itu bermula dari sesuatu yang sederhana: Seorang anak menyisihkan uang sakunya. Seorang guru mengajak muridnya peduli. Satu kelas mengumpulkan buku. Satu sekolah mengirimkan bantuan. Tampaknya kecil. Tetapi dari hal-hal kecil itulah karakter besar tumbuh. Hari ini mereka belajar membantu korban gempa di Flores.

Besok mereka akan menjadi guru, dokter, pengusaha, pemimpin, pejabat, profesional, dan orang-orang yang menentukan arah bangsa. Nilai kepedulian yang mereka pelajari hari ini akan menentukan bagaimana mereka memperlakukan sesamanya di masa depan.

Karena itu, pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya membuat anak pintar. Pendidikan harus membuat anak menjadi manusia. Flores membutuhkan bantuan ketika bencana datang. Tetapi Indonesia juga membutuhkan generasi yang tidak apatis terhadap penderitaan sesamanya.

Maka, dari sekolah kita mulai. Dari ruang kelas kita tanamkan. Dari sedikit yang kita miliki, kita belajar memberi. “Jangan menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Sebab dari sedikit yang kita miliki, mungkin ada kehidupan orang lain yang dapat kita bantu.”

Memberi dari kelebihan adalah kebaikan. Memberi dari kekurangan, dengan ketulusan dan tanpa paksaan, adalah pelajaran tentang pengorbanan, persaudaraan, dan kemanusiaan.

Donasi dari Sekolah, Kita Belajar Peduli. Dari Kepedulian Anak-Anak Hari Ini, Kita Bangun Indonesia yang Lebih Manusiawi Esok Hari. ***