SoE, PodiumOne.net — Di tengah duka akibat bencana gempa bumi yang mengguncang Flores dan menelan korban jiwa, kepedulian dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mulai bergerak. Dunia pendidikan bersama aparatur sipil negara (ASN) mengambil bagian dalam upaya meringankan beban saudara-saudara sebangsa yang terdampak bencana.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Apris Manafe, SE., M.Si., bersama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), mulai menginisiasi gerakan donasi bagi korban gempa Flores.
“Saya sudah koordinasi dengan MKKS dan K3S. Besok rekening donasi bagi korban gempa Flores mulai dibuka melalui Bank NTT,” ujar Apris.
Ia menjelaskan, khusus lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, gerakan open donasi mulai berjalan pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Dari Guru untuk Saudara Sebangsa
Gerakan kepedulian tersebut juga disampaikan melalui grup WhatsApp kepala sekolah se-Kabupaten TTS. Para kepala sekolah dan guru diajak menjadikan momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81 sebagai kesempatan memperkuat solidaritas terhadap korban bencana di Flores.
Dalam imbauannya, Apris mengajak para guru untuk menyumbangkan sedikit dari apa yang mereka miliki.
“Teman-teman kepala sekolah dan para guru hebat, sehubungan dengan gempa Flores dan adanya korban jiwa, maka di tengah suasana memperingati HUT RI ke-81, saya mengajak kita semua untuk menunjukkan rasa empati dan simpati bagi saudara-saudara kita di Flores dengan menyumbang sedikit yang kita miliki.”
Apris juga meminta Ketua MKKS dan Ketua K3S Kabupaten TTS menjadi perwakilan untuk membuka dan menandatangani rekening donasi melalui Bank NTT SoE.
“Kita buka ruang bagi seluruh guru hebat memberi sumbangan secara sukarela,” tegasnya.
Gerakan Rp10.000 dari ASN
Sementara itu, informasi yang dihimpun PodiumOne.net menyebutkan, berdasarkan hasil rapat Forkopimda Kabupaten TTS terkait dukungan terhadap bencana Flores, telah disepakati sejumlah bentuk dukungan dari unsur ASN, baik PNS maupun PPPK.
Salah satunya melalui Gerakan Rp10.000, disertai bantuan lainnya sesuai kemampuan masing-masing.
Pengumpulan dukungan tersebut dikoordinasikan oleh pimpinan perangkat daerah masing-masing dan mulai dilakukan hari ini hingga besok.
Seluruh bantuan yang telah terkumpul selanjutnya dikumpulkan di Sekretariat Posko Dukungan Bencana Flores yang berada di Tugu Lilin SoE.
Gerakan ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap korban bencana tidak hanya datang dari satu kelompok, tetapi mulai bergerak bersama melalui berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat.
Bukan Besarnya Nominal, Tetapi Besarnya Kepedulian
Gerakan donasi ini tidak semestinya dipahami semata-mata sebagai persoalan berapa besar uang yang terkumpul.
Ada pesan kemanusiaan yang jauh lebih besar di dalamnya.
Memberi dari kelebihan adalah kebaikan. Namun memberi dari sedikit yang kita miliki dengan tulus adalah bentuk nyata empati dan solidaritas.
Bagi dunia pendidikan, nilai ini bahkan menjadi bagian dari pembelajaran karakter.
Guru tidak hanya mengajarkan anak-anak tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan keteladanan bahwa ketika sesama anak bangsa mengalami musibah, kita tidak boleh berpaling.
Dari TTS untuk Flores
Ketika Flores berduka, TTS ikut merasakan.
Ketika saudara-saudara di Flores membutuhkan pertolongan, masyarakat TTS menunjukkan bahwa jarak antarpulau tidak boleh menjadi jarak kemanusiaan.
Dari guru, kepala sekolah, ASN, hingga berbagai elemen masyarakat, pesan yang ingin disampaikan sederhana:
“Kalian tidak sendiri. Kami ada bersama kalian.”
Sebab dalam situasi bencana, bantuan mungkin dapat meringankan kebutuhan untuk sementara. Tetapi solidaritas memberikan kekuatan untuk bangkit.
Dan dari kepedulian yang sederhana hari ini, kita sedang mengajarkan kepada generasi berikutnya bahwa menjadi Indonesia berarti tidak hanya menikmati kemerdekaan bersama, tetapi juga berdiri bersama ketika sesama anak bangsa sedang menghadapi penderitaan.
**Dari sedikit yang kita miliki, kita belajar memberi. Dari kepedulian kita, Flores belajar bahwa mereka tidak sendiri.**