SoE, PodiumOne.net — Kemarau panjang bukan lagi sekadar perubahan musim. Di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kondisi ini mulai memberikan tekanan nyata terhadap ketersediaan air bersih.

Sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan pelayanan masyarakat mengalami penurunan debit dengan tingkat yang berbeda-beda. Bahkan, pada sejumlah sumber utama, penurunannya cukup signifikan. Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan masyarakat terhadap air bersih justru terus berjalan.

Rumah tangga membutuhkan air. Fasilitas pelayanan publik membutuhkan air. Aktivitas ekonomi masyarakat juga bergantung pada ketersediaan air. Di sisi lain, Perumda Air Minum SoE harus tetap menjaga pelayanan kepada ribuan pelanggan ketika kemampuan sumber air terus tertekan oleh kemarau.

Hingga akhir Agustus 2026, Perumda Air Minum SoE mencatat 6.645 pelanggan aktif, sementara 1.465 pelanggan berstatus tidak aktif. Angka tersebut menggambarkan besarnya tanggung jawab pelayanan yang harus dipertahankan di tengah kondisi sumber air yang semakin terbatas.

Di bawah kepemimpinan Direktur Frans Steven Tafui, S.P., Perumda Air Minum SoE menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari modifikasi dan pergantian pompa, optimalisasi sumber air yang tersedia, persiapan sumber cadangan, pengaturan jadwal distribusi, hingga mendorong rehabilitasi jaringan dan pengembangan sumber air baru.

Namun, tantangannya tidak sederhana. Selain debit air yang menurun, persoalan teknis jaringan, pipa yang mengalami kebocoran, pengeboran liar, serta ketersediaan listrik untuk mengoperasikan sejumlah sumber cadangan juga menjadi bagian dari persoalan pelayanan.

Lantas, seberapa serius penurunan debit air di sejumlah sumber utama Perumda Air Minum SoE?

Bagaimana strategi pelayanan kepada ribuan pelanggan? Dan sejauh mana sumber-sumber air yang selama ini menjadi andalan mampu bertahan menghadapi kemarau panjang?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, PodiumOne.net melakukan wawancara eksklusif bersama Direktur Perumda Air Minum SoE, Frans Steven Tafui, S.P., di ruang kerjanya, Selasa, 22 September 2026.

Wawancara Eksklusif

Wartawan PodiumOne.net, Polce Lerek:

Pak Direktur, musim kemarau tahun 2026 berlangsung cukup panjang dan kondisi sejumlah sumber air mengalami penurunan debit. Dalam situasi seperti ini tentu diperlukan skema pelayanan agar pelanggan tetap mendapatkan haknya atas kebutuhan air bersih. Bagaimana kondisi riil pelayanan Perumda Air Minum SoE saat menghadapi musim kemarau tahun ini? Dan berapa jumlah pelanggan aktif yang saat ini menjadi tanggung jawab pelayanan Perumda?

Direktur Perumda Air Minum SoE, Frans Steven Tafui, S.P.:

Baik, terima kasih.

Untuk kondisi pelanggan aktif sampai dengan akhir Agustus 2026, jumlahnya mencapai 6.645 pelanggan aktif. Sementara pelanggan yang berstatus tidak aktif sebanyak 1.465 pelanggan. Menyangkut sumber air untuk mengantisipasi musim kemarau yang berkepanjangan ini, kami sudah melakukan berbagai langkah. Di antaranya melakukan modifikasi dan pergantian pompa pada sejumlah sumber air, khususnya sumber bor.

Beberapa sumber yang menjadi perhatian antara lain Sumber Air Bonleu, sumur bor Kesetnana, Nifuhuki 1 dan Nifuhuki 2, Oenasi, Bisuaf, dan Oesoe. Selain itu, kami juga menyiapkan sumber air cadangan yang berasal dari sumur bor SMK 1 dan Civic Center.

Debit Air Terus Tertekan

Polce Lerek:

Pak Direktur, tadi disampaikan bahwa sejumlah sumber air mengalami penurunan debit. Kalau kita melihat kondisi sumber-sumber air utama saat ini, seberapa besar sebenarnya penurunan debit yang terjadi pada masing-masing sumber? Dan apa yang menjadi penyebab sehingga penurunan debit tersebut terjadi?

Frans Steven Tafui:

Saat ini memang terjadi penurunan debit mata air. Sejumlah sumber air mengalami penurunan yang variatif. Untuk sumber air utama Bonleu, penurunan debit mencapai sekitar 50 persen, dari sebelumnya 20 liter per detik menjadi 10 liter per detik.

Hal ini disebabkan oleh persoalan teknis dan nonteknis, di antaranya pengeboran liar serta kebocoran akibat pipa yang sudah keropos karena termakan usia. Untuk sumber air Nifuhuki 1, terjadi penurunan debit dari 10 liter per detik menjadi 6 liter per detik.

Sementara Nifuhuki 2 terjadi penurunan dari 8 liter per detik menjadi 6 liter per detik. Kemudian sumber air Kesetnana mengalami penurunan dari sekitar 2,5 liter per detik menjadi sekitar 2 liter per detik. Untuk sumber air Oesoe, debit turun dari 3 liter per detik menjadi 2 liter per detik. Sedangkan sumber air Bisuaf mengalami penurunan dari 2,5 liter per detik menjadi 1,5 liter per detik.

Sumber AirDebit SebelumnyaDebit Saat IniProsentase Penurunan
Bonleu20 liter/detik10 liter/detik50%
Nifuhuki 110 liter/detik6 liter/detik40%
Nifuhuki 28 liter/detik6 liter/detik25%
Kesetnana2,5 liter/detik±2 liter/detik±20%
Oesoe3 liter/detik2 liter/detik±33,3%
Bisuaf2,5 liter/detik1,5 liter/detik40%

Jadi memang kondisi masing-masing sumber berbeda-beda. Kalau kemarau terus berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, penurunan debit ini tentu berpotensi terus terjadi.

Angka-Angka Yang Menunjukkan Tekanan Kemarau

PodiumOne.net — Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan kemarau tidak terjadi secara seragam pada seluruh sumber air.

Bonleu, yang menjadi salah satu sumber penting dalam pelayanan, mengalami penurunan sekitar separuh dari debit sebelumnya. Nifuhuki 1 turun dari 10 menjadi 6 liter per detik. Nifuhuki 2 turun dari 8 menjadi 6 liter perdetik. Kesetnana turun dari 2,5 menjadi sekitar 2 liter per detik. Oesoe turun dari 3 menjadi 2 liter per detik. Sementara Bisuaf turun dari 2,5 menjadi 1,5 liter per detik.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Perumda Air Minum SoE karena berkurangnya debit secara langsung berpengaruh terhadap kemampuan distribusi.

Di tengah situasi tersebut, Perumda harus mengatur bukan hanya berapa banyak air yang tersedia, tetapi juga bagaimana air yang tersedia dapat menjangkau wilayah pelayanan seluas mungkin.

Pola Distribusi Di Tengah Keterbatasan Air

Polce Lerek:

Dengan kondisi debit yang terus mengalami tekanan seperti ini, bagaimana dampaknya terhadap jam pelayanan kepada pelanggan? Apakah Perumda harus mengubah pola distribusi?

Frans Steven Tafui:

Kondisi penurunan debit air ini sangat memengaruhi jam pelayanan kepada pelanggan. Karena itu, untuk wilayah pelayanan yang jaringannya luas, kami melakukan pengaturan jadwal distribusi.

Untuk wilayah dengan cakupan jaringan yang luas, air dialirkan sekitar enam jam setiap kali distribusi agar dapat menjangkau seluruh wilayah yang ada.

Sedangkan untuk wilayah dengan cakupan jaringan yang lebih sempit, pelayanan dapat dilakukan sekitar tiga jam. Pengaturan ini merupakan salah satu strategi agar sumber air yang tersedia dapat dibagi secara merata kepada pelanggan.

Bonleu: Sumber Andalan Dengan Debit Yang Tertekan

Polce Lerek:

Untuk pelanggan yang berada di wilayah Kota SoE, bagaimana pola pelayanan tersebut diterapkan? Khususnya untuk wilayah yang mendapatkan pelayanan dari sumber Bonleu dan sumur bor?

Frans Steven Tafui:

Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, untuk sumber mata air Bonleu, cakupan wilayah pelayanannya relatif luas karena sumber ini banyak digunakan oleh pelanggan.Karena itu, ketika distribusi dilakukan, waktu alirnya sekitar enam jam agar air dapat menjangkau wilayah pelayanan yang luas. Sementara untuk jangkauan pelayanan yang sempit sekitar tiga jam. Jadi jadwal tersebut disesuaikan dengan kondisi debit sumber air dan luas wilayah pelayanan.

Ketika air tidak mengalir, ke mana pelanggan harus melapor?

Polce Lerek:

Dalam kondisi seperti ini, keluhan pelanggan tentu menjadi salah satu persoalan penting. Ketika ada pelanggan yang tidak mendapatkan air, bagaimana mekanisme Perumda menangani keluhan tersebut? Dan apakah Perumda menyediakan pelayanan distribusi air menggunakan mobil tangki bagi pelanggan yang mengalami krisis air bersih?

Frans Steven Tafui:

Untuk pelayanan mobil tangki, saat ini kami tidak memiliki layanan tersebut. Namun, setiap keluhan pelanggan yang tidak mendapatkan air tetap kami tangani. Kami meminta pelanggan menyampaikan langsung laporan kepada kantor Perumda Air Minum SoE. Tidak melalui Facebook ataupun media lainnya.

Kalau laporan disampaikan kepada kami, petugas akan segera turun melihat kondisi di lapangan dan mencari tahu apa yang menjadi hambatan sehingga pelanggan tidak mendapatkan air.

Secara umum, pelanggan tetap mendapatkan pelayanan. Namun terkadang memang terdapat gangguan pada jaringan distribusi. Gangguan tersebut tetap kami pantau dan kami berusaha menangani agar pelayanan kepada pelanggan dapat kembali normal.

Bonleu Dan Oefatuoni: Antara Kebutuhan Dan Infrastruktur

Polce Lerek:

Ke depan, salah satu kebutuhan penting tentu bukan hanya mempertahankan pelayanan yang ada, tetapi juga memperkuat infrastruktur.

Bagaimana rencana Perumda terkait rehabilitasi jaringan pipa Bonleu dan pengembangan sumber-sumber air potensial lainnya, termasuk Oefatuoni?

Frans Steven Tafui:

Khusus untuk jaringan pipa Bonleu, kami bersyukur karena melalui perubahan APBD tahun 2026, Pemerintah Daerah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 juta untuk proses penyusunan DED, atau Detail Engineering Design.

DED ini sangat penting karena menjadi dokumen teknis dan perencanaan yang diperlukan untuk mengusulkan pembangunan secara lebih besar kepada pemerintah pusat melalui Balai Prasarana Wilayah. Kami berharap program tersebut dapat diakomodir untuk pelaksanaan pada tahun 2027.

Selain jaringan Bonleu dan Oefatuoni, kami juga akan melanjutkan pembangunan sumber air Meokono yang selama beberapa tahun sempat terhenti. Untuk pembangunan tersebut, dana yang tersedia kurang lebih Rp800 juta.

Di samping itu, kami juga sedang melakukan proses kerja sama dengan investor untuk membantu memperluas jaringan pelayanan dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang selama ini belum tersentuh. Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk wilayah Kota SoE, tetapi juga diharapkan dapat menjangkau wilayah kecamatan.

Oefatuoni: Sumber Air Yang Menunggu Dukungan Listrik

Polce Lerek:

Kita masuk ke sumber air Oefatuoni.

Pada masa pemerintahan sebelumnya, sudah dibangun bangunan fasilitas pendukung di sumber mata air dan jaringan di beberapa titik diwilayah Kelurahan Nonohonis, Namun sampai saat ini pemanfaatannya belum optimal.

Apa yang menjadi kendala sehingga sumber air Oefatuoni belum dioperasikan untuk pelayanan masyarakat?

Frans Steven Tafui:

Untuk sumber air Oefatuoni, kendala utama saat ini adalah jaringan listrik. Kami sudah mengajukan permohonan kepada PLN dan jaringan listrik tersebut direncanakan masuk dalam penganggaran tahun 2027.

Sementara untuk jaringan pipa sebenarnya tidak menjadi kendala utama karena kami masih memiliki stok pipa yang dapat digunakan untuk mendukung pelayanan.

Untuk pembangunan jaringan yang lebih terstruktur dan permanen, kami masih menunggu dukungan melalui APBN dengan dokumen DED yang saat ini sedang diproses.Tetapi apabila listrik sudah tersedia di lokasi, jaringan yang ada saat ini sebenarnya dapat kami manfaatkan.

Sistemnya dapat dilakukan dengan pola bypass, sehingga air tidak harus ditampung terlebih dahulu, tetapi dapat langsung didistribusikan kepada pelanggan melalui jaringan yang melewati jalur Oefatuoni.

Jika sumber Oefatuoni sudah dapat dioperasikan, potensi jangkauan pelayanannya antara lain wilayah Nonohonis, Oenasi, dan sebagian Nifuboko.

Jadi, untuk pemanfaatan sumber Oefatuoni, kami masih menunggu penyelesaian dokumen DED dan dukungan anggaran dari pemerintah pusat untuk pembangunan dan perluasan jaringan.

2027: Memperkuat Infrastruktur Air Bersih

Polce Lerek:

Berarti rehabilitasi jaringan Bonleu dan Oefatuoni menjadi bagian dari agenda pengembangan pelayanan ke depan?

Frans Steven Tafui:

Betul.

Untuk rehabilitasi jaringan pada dua sumber air tersebut, yaitu Bonleu dan Oefatuoni, programnya sudah masuk dalam rencana pemerintah pusat untuk tahun 2027. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pemerintah pusat adalah adanya sejumlah program strategis nasional di Kabupaten TTS.

Di antaranya pembangunan SMA Garuda dan Sekolah Rakyat. Selain itu terdapat pula Markas Yonif TP 929 Meo Matane Mutis di kawasan Bisuaf serta rencana pembangunan Kompi Brimob di wilayah TTS.

Dengan adanya program-program strategis nasional tersebut, kebutuhan terhadap dukungan fasilitas air bersih tentu menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan. Karena itu, kami berharap dukungan pemerintah pusat terhadap rehabilitasi jaringan Bonleu dan Oefatuoni dapat direalisasikan sehingga kapasitas pelayanan air bersih di Kabupaten TTS dapat semakin diperkuat.

Ketika Kemarau Menguji Ketahanan Pelayanan Air

PodiumOne.net — Kemarau panjang bukan hanya persoalan berkurangnya air di sumber-sumber alam. Bagi masyarakat perkotaan, kekeringan juga menjadi ujian terhadap kemampuan sistem pelayanan publik dalam memastikan air tetap mengalir ke rumah-rumah pelanggan.

Perumda Air Minum SoE mencatat 6.645 pelanggan aktif hingga akhir Agustus 2026, dengan tantangan pelayanan yang semakin kompleks di tengah penurunan debit sejumlah sumber air. Data yang disampaikan Direktur Perumda menunjukkan tekanan tersebut terjadi pada sejumlah sumber utama.

Di balik angka-angka tersebut terdapat persoalan yang lebih luas: keberlangsungan sumber air, kondisi jaringan perpipaan, kebocoran, aktivitas pengeboran liar, kebutuhan listrik, kapasitas pompa, hingga dukungan anggaran untuk pembangunan infrastruktur.

Karena itu, pengaturan distribusi menjadi langkah yang harus dilakukan untuk menjaga pelayanan dalam jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang, Perumda mendorong rehabilitasi jaringan Bonleu dan Oefatuoni, Pembangunan dan pengembangan sumber Meokono, pengoperasian sumber-sumber cadangan, serta penjajakan kerja sama dengan investor.

Persoalan air bersih pada akhirnya bukan hanya tentang ada atau tidaknya air. Persoalannya adalah bagaimana sumber air yang tersedia dapat dijaga, dipompa, dialirkan melalui jaringan yang layak, didukung energi listrik yang memadai, dan akhirnya sampai kepada masyarakat. Kemarau panjang menjadi pengingat bahwa ketahanan air membutuhkan perencanaan yang berkelanjutan.

Dan di tengah debit sumber yang terus tertekan, tantangan terbesar Perumda Air Minum SoE bukan hanya menjaga air tetap tersedia, tetapi memastikan setiap tetes air yang masih ada dapat dikelola seefektif mungkin untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Eksklusif PodiumOne.net — Menggali fakta, menghadirkan perspektif, dan menyajikan informasi publik secara edukatif.