• Sekolah Boleh Rusak, Harapan Tak Boleh Runtuh

SoE, Podium One.net – Ketika gempa bumi mengguncang Pulau Flores, yang roboh bukan hanya rumah-rumah warga dan sejumlah fasilitas umum. Di tengah bencana, dunia pendidikan pun ikut merasakan dampaknya.

Kerusakan fasilitas pendidikan, terganggunya proses belajar mengajar, hingga kondisi psikologis peserta didik dan para guru menjadi bagian dari luka panjang yang harus dihadapi masyarakat di wilayah terdampak.

Di tengah situasi tersebut, solidaritas kemanusiaan terus tumbuh dari berbagai penjuru Nusa Tenggara Timur. Kali ini, kepedulian datang dari keluarga besar dunia pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Keluarga Besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan bergerak menggalang bantuan kemanusiaan bagi para korban bencana gempa bumi di Pulau Flores. Hingga Rabu, 26 Agustus 2026, dana yang berhasil dihimpun dari para insan pendidikan telah mencapai puluhan juta rupiah dan diperkirakan terus bertambah hingga menembus lebih dari Rp100 juta.

Bantuan tersebut direncanakan akan disalurkan bersamaan dengan distribusi bantuan kemanusiaan kloter kedua dari Kabupaten Timor Tengah Selatan menuju wilayah terdampak bencana.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Apris Manafe, SE., M.Si, mengatakan, berdasarkan data sementara hingga pukul 13.00 Wita, dana yang berhasil dikumpulkan melalui Musyawarah Kerja Kepala Sekolah atau MKKS dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah atau K3S telah mencapai Rp95 juta.

“Uang tunai yang sudah terkumpul dari MKKS dan K3S per 26 Agustus 2026 pukul 13.00 Wita sebesar Rp95 juta,” jelas Apris Manafe saat ditemui Podium One.net di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Rabu (26/8/2026).

Namun, angka tersebut bukanlah akhir dari gerakan kemanusiaan yang dilakukan keluarga besar pendidikan di Kabupaten TTS.

Penggalangan dana, kata Apris, masih terus berlangsung. Para guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan dan berbagai elemen dalam lingkungan pendidikan terus memberikan sumbangsih sebagai wujud kepedulian terhadap saudara-saudara mereka yang sedang menghadapi masa sulit di Pulau Flores.

Dana bantuan tersebut ditampung melalui rekening Bank NTT yang secara khusus digunakan untuk penggalangan bantuan kemanusiaan bagi korban bencana gempa Flores.

Seluruh dana yang terkumpul nantinya akan dilaporkan kepada Bupati Timor Tengah Selatan untuk mendapatkan pertimbangan dan arahan terkait mekanisme penyaluran, apakah bantuan akan diserahkan dalam bentuk uang tunai atau dikonversi menjadi barang-barang kebutuhan yang paling dibutuhkan oleh para korban.

Namun lebih dari sekadar nilai rupiah, gerakan ini sesungguhnya membawa pesan yang jauh lebih besar.

Pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas.

Pendidikan juga hadir ketika seorang guru mengajarkan kepada peserta didiknya arti kepedulian. Pendidikan menjadi nyata ketika sekolah tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menumbuhkan rasa kemanusiaan, solidaritas dan empati terhadap penderitaan sesama.

Gempa yang melanda Flores telah meninggalkan duka mendalam. Korban jiwa, warga yang mengalami luka-luka, serta masyarakat yang harus meninggalkan rumah dan mengungsi menjadi gambaran nyata betapa dahsyatnya dampak sebuah bencana.

Di sisi lain, kerusakan juga dialami oleh berbagai fasilitas publik, termasuk fasilitas pendidikan.

Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Apris Manafe mengatakan, sebagai bagian dari komunitas pendidikan, pihaknya memahami bahwa bencana tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak.

Bagi seorang anak, sekolah bukan hanya tempat menerima pelajaran. Sekolah adalah ruang untuk bertumbuh, bermain, berinteraksi dan membangun masa depan.

Ketika ruang belajar rusak, kegiatan pendidikan terganggu. Ketika guru dan peserta didik menjadi korban atau terdampak langsung oleh bencana, maka proses pemulihan tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali gedung sekolah, tetapi juga membutuhkan perhatian, kepedulian dan dukungan kemanusiaan.

“Kami tergerak hati karena bencana yang menimpa wilayah Flores telah menelan korban jiwa, baik korban meninggal dunia maupun luka-luka. Banyak warga juga harus mengungsi. Kerusakan yang dialami pun cukup beragam, mulai dari rumah warga, fasilitas publik hingga fasilitas pendidikan,” paparnya.

Menurut Apris, kondisi tersebut sangat mungkin berdampak terhadap aktivitas belajar para peserta didik di wilayah terdampak.

Tidak sedikit anak-anak yang harus menghadapi situasi sulit setelah bencana. Sebagian mungkin kehilangan tempat tinggal, sebagian harus berada di lokasi pengungsian, sementara proses belajar mengajar pun berpotensi tidak dapat berjalan secara normal akibat kerusakan sarana dan prasarana pendidikan.

Atas dasar keprihatinan itulah, lanjut Apris, keluarga besar pendidikan di Kabupaten TTS memilih untuk tidak tinggal diam. Gerakan penggalangan dana ini sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi seluruh insan pendidikan. Bahwa di tengah kesibukan menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing, seorang pendidik juga memiliki peran untuk menanamkan nilai kemanusiaan kepada generasi muda.

Melalui gerakan kemanusiaan ini kata Apris, para guru dan kepala sekolah di Kabupaten TTS menunjukkan bahwa pendidikan memiliki wajah yang lebih luas. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang angka, nilai ujian atau kelulusan, tetapi juga tentang bagaimana membentuk manusia yang mampu merasakan penderitaan orang lain dan terdorong untuk membantu.

Apris berharap, bantuan yang diberikan nantinya dapat sedikit meringankan beban para korban, khususnya para guru, tenaga kependidikan dan peserta didik yang terdampak bencana di Pulau Flores.

“Bantuan ini memang mungkin tidak seberapa, tetapi kami berharap setidaknya dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, khususnya komunitas pendidikan di Pulau Flores,” ungkap Apris.

 Apris pun menyampaikan apresiasi yang tinggi dan terima kasih berlimpah bagi para guru hebat yang tergabung dalam MKKS dan K3S. Sekalipun di tengah keterbatasan, mereka tetap peduli dan turut merasakan kondisi yang dialami para korban Gempa Flores.

Di tengah reruntuhan akibat bencana, bantuan kemanusiaan memang tidak serta-merta mampu menghapus seluruh duka. Namun, uluran tangan yang datang dari sesama setidaknya mengirimkan sebuah pesan bahwa para korban tidak menghadapi masa sulit itu sendirian. Dari ruang-ruang sekolah di Kabupaten Timor Tengah Selatan, solidaritas kini bergerak menuju Flores.

Bukan hanya membawa bantuan. Tetapi juga membawa pesan pendidikan tentang kemanusiaan. Bahwa ketika bencana meruntuhkan bangunan, kepedulian harus menjadi kekuatan untuk membangun kembali harapan.

Dan ketika anak-anak di wilayah bencana kehilangan ruang belajar mereka, seluruh keluarga besar pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa harapan mereka untuk kembali belajar tidak ikut runtuh bersama bangunan yang roboh.

Penulis : Polce Lerek

Editor : Polce Lerek