SoE, Podium One.net – Di tengah keterbatasan anggaran, upaya membangun sektor perikanan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tidak berhenti. Di sejumlah lokasi, Dinas Perikanan TTS terus mengembangkan budidaya ikan konsumsi melalui pola kerja sama operasional atau KSO dengan pemilik lahan.
Salah satunya berlangsung di Kolam KSO Oeklofo, Desa Oinlasi, Kecamatan Mollo Selatan, tempat ribuan benih ikan jenis nila dan karpel terus dipelihara dengan segala keterbatasan yang ada.
Di balik permukaan kolam yang tampak tenang, tersimpan sebuah perjuangan. Bukan hanya perjuangan untuk membesarkan ikan, tetapi juga ikhtiar pemerintah daerah menjaga agar potensi perikanan tetap produktif ketika ruang fiskal semakin terbatas.
Petugas lapangan Dinas Perikanan TTS, Martinus Koa, saat ditemui media ini di lokasi budidaya ikan air tawar Oeklofo, Rabu (12/8/2026), menjelaskan bahwa kawasan tersebut merupakan lokasi KSO antara Dinas Perikanan dan pemilik lahan, Musa Mella.
Menurut Martinus, terdapat 24 kolam dengan ukuran bervariasi, sekitar 10 hingga 12 meter persegi. Namun, keterbatasan anggaran membuat tidak seluruh kolam dapat dimanfaatkan.
Saat ini, baru 11 kolam yang terisi ikan. Sementara 13 kolam lainnya masih tertimbun endapan tanah akibat material yang terbawa aliran air saat musim hujan.
Bahkan, ketebalan endapan di sejumlah kolam telah mencapai pinggang orang dewasa.
“Untuk mengeruk endapan tanah tentu membutuhkan waktu, tenaga dan dana. Kami siap tenaga, tetapi anggarannya sangat terbatas sehingga kolam yang tertimbun tanah belum bisa dikeruk,” ujar Martinus.
Ketika Pakan Harus Dihemat
Persoalan tidak berhenti pada kondisi kolam. Ketersediaan pakan ikan juga menjadi tantangan tersendiri.
Efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah daerah turut berdampak pada kegiatan operasional budidaya. Pakan yang tersedia untuk 11 kolam aktif pun harus digunakan sehemat mungkin.
Jika dalam kondisi normal ikan diberi pakan dua kali sehari, kini pemberian pakan harus dikurangi menjadi satu kali sehari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan perikanan tidak semata-mata berbicara tentang tersedianya benih dan kolam. Budidaya ikan membutuhkan rangkaian pendukung yang saling berkaitan, mulai dari kualitas kolam, ketersediaan air, pakan, tenaga pengelola hingga pembiayaan operasional.
Ketika salah satu mata rantai melemah, produktivitas pun ikut terpengaruh.
Namun, keterbatasan bukan alasan untuk menghentikan langkah.
September, 1.000 Ekor Ditargetkan Dipanen
Di tengah berbagai kendala tersebut, secercah hasil mulai terlihat. Sejumlah ikan yang dibudidayakan di 11 kolam aktif kini telah memasuki tahap siap panen.
Dinas Perikanan TTS menargetkan sekitar 1.000 ekor ikan konsumsi dapat dipanen pada September 2026 untuk kemudian dipasarkan kepada masyarakat.
Ikan tersebut ditargetkan dijual dengan harga sekitar Rp35.000 per kilogram.
Yang menarik, kegiatan budidaya ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan ikan konsumsi, tetapi juga memiliki tujuan ekonomi bagi pemerintah daerah. Hasil penjualan ikan tersebut akan menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dinas Perikanan.
Dengan demikian, kolam-kolam sederhana di Oeklofo bukan sekadar tempat membesarkan ikan. Ia menjadi bagian dari upaya menciptakan siklus ekonomi: benih dibudidayakan, ikan dipanen, hasilnya dipasarkan, dan pendapatannya kembali memberi kontribusi bagi daerah.
Produktivitas di Tengah Keterbatasan
Apa yang berlangsung di Oeklofo memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan sektor perikanan tidak selalu harus menunggu kondisi anggaran ideal.
Optimalisasi aset, kerja sama dengan pemilik lahan, pemanfaatan tenaga lapangan dan pengelolaan sumber daya secara efisien dapat menjadi jalan keluar ketika kemampuan fiskal pemerintah terbatas.
Namun, agar potensi tersebut berkembang lebih besar, persoalan mendasar seperti pengerukan kolam, penyediaan pakan dan penguatan sarana budidaya tetap membutuhkan dukungan anggaran yang memadai.
Sebab, jika 24 kolam dapat kembali berfungsi secara optimal, kapasitas produksi tentu akan jauh lebih besar dibandingkan kondisi saat ini.
Dari 11 kolam yang masih bertahan, Dinas Perikanan menaruh harapan pada target panen September.
Seribu ekor ikan mungkin bukan angka yang besar. Tetapi di tengah keterbatasan, seribu ekor ikan itu adalah bukti bahwa produktivitas masih bisa tumbuh—bahwa kolam yang terbatas masih mampu menghasilkan, dan bahwa harapan membangun ekonomi perikanan TTS belum padam.
Kini, perhatian berikutnya tertuju pada bagaimana hasil panen tersebut dapat dipasarkan dengan baik dan bagaimana pendapatan yang dihasilkan dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan budidaya ikan secara lebih luas dan berkelanjutan di TTS.
Reporter/Editor : Polce Lerek