SoE, PodiumOne.net — Upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui penyediaan sanitasi layak terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten TTS, pemerintah kembali melaksanakan program pembangunan fasilitas sanitasi bagi masyarakat di Desa Benlutu, Kecamatan Batu Putih, pada Tahun Anggaran 2026.

Sebanyak 64 unit fasilitas sanitasi berupa WC sehat dibangun untuk 64 penerima manfaat. Program tersebut bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Infrastruktur Bidang Sanitasi dan dilaksanakan dengan pola swakelola masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala Dinas PRKP Kabupaten TTS, Rudolf E.L. Malo, ST., MT, melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) James Pah, saat ditemui PodiumOne.net di Kantor Dinas PRKP Kabupaten TTS, Kamis, 24 September 2026.

Menurut James Pah, pembangunan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Air Limbah Domestik dalam Daerah Kabupaten/Kota.

Program ini dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama Program DAK Infrastruktur Bidang Sanitasi Nomor PRKP.09.03.C/396/VI/2026, tertanggal 15 Juni 2026.

64 Keluarga Mendapat Fasilitas Sanitasi

James menjelaskan, pembangunan fasilitas sanitasi tersebut menyasar 64 penerima manfaat di Desa Benlutu.

“Untuk penerima manfaat sendiri, totalnya ada 64 penerima manfaat. Konstruksi yang kami laksanakan atau dibangun juga berjumlah 64 unit WC sehat,” jelasnya.

lebih lanjut James mengatakan, Pembangunan fasilitas sanitasi ini tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan fisik. Lebih jauh, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi yang layak, sekaligus mendorong lingkungan permukiman yang lebih sehat.

Dengan tersedianya fasilitas sanitasi yang memenuhi standar kata James,, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan dan berbagai persoalan kesehatan yang berkaitan dengan pengelolaan air limbah domestik.

Progres Fisik 40 Persen, Keuangan 70 Persen

Hingga September 2026, pekerjaan pembangunan telah menunjukkan perkembangan. James mengatakan, progres fisik pekerjaan telah mencapai sekitar 40 persen, sementara realisasi keuangan telah mencapai 70 persen.

Pekerjaan tersebut ditargetkan terus dikebut sehingga pada akhir Oktober 2026, progres fisik maupun realisasi keuangan diharapkan telah mencapai 100 persen.

“Targetnya sesuai waktu yang sudah ditentukan. Kami berharap pada akhir Oktober pekerjaan fisik sudah mencapai 100 persen dan keuangan juga mencapai 100 persen,” ujarnya.

Berdasarkan dokumen kontrak, pekerjaan memiliki waktu pelaksanaan selama 154 hari kalender, terhitung sejak 15 Juni 2026 hingga 15 November 2026.

Nilai Kontrak Lebih dari Rp1 Miliar

Program pembangunan sanitasi di Desa Benlutu tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp1.008.299.600.

Pekerjaan dilaksanakan oleh TPS-KSM Tafena Kuan, yang berada di Desa Benlutu, Kecamatan Batu Putih.

Dari total anggaran tersebut, pencairan dilakukan dalam tiga tahap, yakni:

  • Tahap I: 25 persen
  • Tahap II: 45 persen
  • Tahap III: 30 persen

James menjelaskan, pencairan tahap pertama telah terealisasi 100 persen. Sementara pencairan tahap kedua sedang dalam proses.

“Dana tahap kedua sementara dalam proses pencairan dari rekening KSM sesuai dengan peruntukan pembiayaan kegiatan di lapangan, baik untuk pembayaran material maupun upah pekerjaan,” jelasnya.

Ia berharap proses pencairan tahap kedua dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu sehingga pembiayaan pekerjaan di lapangan dapat terus berjalan sesuai jadwal.

Menggunakan Tangki Septik Fabrikasi

Dalam pembangunan fasilitas sanitasi tersebut, teknologi yang digunakan ditentukan berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat masyarakat penerima manfaat di tingkat desa.

James mengatakan, berdasarkan keputusan bersama masyarakat, pilihan teknologi yang digunakan adalah tangki septik fabrikasi.

Pilihan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pembangunan karena teknologi sanitasi yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat penerima manfaat.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima hasil pembangunan, tetapi juga terlibat dalam proses pengambilan keputusan terkait fasilitas sanitasi yang akan dibangun.

Didampingi Fasilitator dan Tim Teknis

Untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai ketentuan, masyarakat mendapatkan pendampingan dari tenaga fasilitator.

James menjelaskan terdapat dua orang fasilitator, yakni fasilitator teknik dan fasilitator pemberdayaan.

Pendampingan dilakukan sejak tahap awal, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan pembangunan, hingga nantinya memasuki tahap serah terima pekerjaan.

“Fasilitator mendampingi mulai dari proses awal, dari perencanaan, sekarang dalam proses pelaksanaan, dan nanti sampai dengan serah terima pekerjaan,” katanya.

Selain fasilitator, Dinas PRKP Kabupaten TTS juga melibatkan tim teknis yang melakukan monitoring secara berkala selama pekerjaan berlangsung.

Pengawasan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan pembangunan tetap berada dalam koridor teknis dan ketentuan program yang telah ditetapkan.

Dikerjakan Secara Swakelola Masyarakat

Hal menarik dari program sanitasi ini adalah pola pelaksanaannya yang menggunakan sistem swakelola masyarakat.

Menurut James, pelaksanaan tersebut mengacu pada petunjuk teknis program sanitasi yang bersumber dari DAK.

Seluruh kegiatan dilaksanakan melalui Tim Pelaksana Swakelola Kelompok Swadaya Masyarakat (TPS-KSM) Desa Benlutu.

Dengan pola tersebut, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pelaksanaan pembangunan.

Pola swakelola diharapkan kata James dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun. Sebab, sanitasi yang sehat bukan hanya persoalan tersedianya bangunan fisik, tetapi juga menyangkut perilaku hidup bersih, pemeliharaan fasilitas, serta kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan.

Sanitasi Sehat, Investasi untuk Masa Depan

Pembangunan 64 unit WC sehat di Desa Benlutu pada akhirnya bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur.

Di balik setiap unit yang dibangun, terdapat tujuan yang lebih besar: mendorong terciptanya lingkungan permukiman yang sehat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sanitasi yang layak menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana fasilitas tersebut digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Dengan target penyelesaian pekerjaan yang terus dikejar, pembangunan 64 unit fasilitas sanitasi di Desa Benlutu diharapkan dapat rampung sesuai jadwal dan segera memberikan manfaat nyata bagi seluruh penerima manfaat.

Polce Lerek
PodiumOne.net