Kupang, Podium One.net — Ketika gempa mengguncang Flores dan memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka, para tenaga kesehatan tidak memiliki pilihan untuk ikut berhenti.
Di tengah fasilitas kesehatan yang rusak, keterbatasan sarana, kelelahan fisik, hingga tekanan psikologis akibat bencana, mereka justru harus tetap berdiri di garis depan. Saat masyarakat membutuhkan pertolongan, para tenaga kesehatan harus hadir.
Mereka bukan hanya merawat korban. Mereka juga merupakan bagian dari masyarakat yang menjadi korban bencana.
Kondisi inilah yang mendapat perhatian serius Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena. Pemerintah Provinsi NTT memperkuat dukungan bagi tenaga kesehatan agar pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa Flores tidak terhenti, sekaligus memastikan keselamatan dan kesehatan mental para petugas yang bekerja tanpa mengenal batas waktu.
Berdasarkan data BPBD Provinsi NTT per 4 September 2026, sebanyak 654 fasilitas pelayanan kesehatan terdampak akibat bencana gempa.
Sementara korban meninggal dunia tercatat 129 orang, sebanyak 1.816 orang mengalami luka-luka, dan 130.763 orang harus mengungsi.
Di tengah besarnya dampak tersebut, kebutuhan pelayanan kesehatan meningkat tajam. Pada saat yang sama, sebagian fasilitas kesehatan mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan secara optimal.
Namun, pelayanan harus tetap berjalan.
Fasilitas Rusak, Pelayanan Tak Boleh Berhenti
Gambaran perjuangan para tenaga kesehatan terlihat di Puskesmas Nangaroro, Kabupaten Nagekeo.
Dua hari pertama setelah gempa bumi 15 Agustus 2026, pelayanan kesehatan terpaksa dipindahkan ke halaman puskesmas. Fasilitas yang tersedia sangat terbatas.
Dengan memanfaatkan tenda pesta yang dipinjam dari masyarakat, para tenaga kesehatan tetap membuka pelayanan dan menangani warga yang membutuhkan pertolongan.
Dalam kondisi tersebut, para nakes menghadapi situasi yang tidak mudah.
Mereka juga memiliki rumah, keluarga dan kehidupan pribadi yang terdampak gempa. Mereka juga dapat mengalami ketakutan dan kelelahan. Namun, ketika pasien datang membutuhkan pertolongan, tanggung jawab profesi memanggil mereka kembali ke garis depan.
Di situlah pengabdian tenaga kesehatan diuji.
Mereka tidak hanya menghadapi pasien dan luka akibat bencana, tetapi juga harus menghadapi dampak bencana yang mungkin mereka alami sendiri.
“Kita Harus Berdiri Lebih Tegak”
Saat berdialog dengan para tenaga kesehatan di Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Rabu (27/8/2026), Gubernur Melki menyampaikan apresiasi atas pengabdian mereka.
Melki menyadari para tenaga kesehatan berada dalam posisi yang sangat berat. Mereka merupakan bagian dari masyarakat terdampak, tetapi pada saat yang sama harus menjadi orang yang paling siap memberikan pertolongan.
“Tetap semangat. Biar kita juga termasuk yang terdampak, tapi kita harus berdiri lebih tegak dari masyarakat,” ujar Gubernur Melki.
Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya tanggung jawab tenaga kesehatan dalam situasi bencana.
Namun, berdiri lebih tegak bukan berarti mengabaikan keselamatan diri.
Gubernur Melki menegaskan bahwa keselamatan pasien dan tenaga kesehatan harus tetap menjadi prioritas.
“Untuk keselamatan bersama, sementara kita bertahan di tenda dulu untuk urusan pasien. Pastikan urusan kesehatan masyarakat tetap terlayani dengan baik,” tegasnya.
Dengan kata lain, pelayanan kesehatan dalam kondisi darurat harus tetap berjalan, tetapi dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan, kapasitas fasilitas, serta kemampuan tenaga kesehatan yang bertugas.
Nakes Juga Bisa Mengalami Trauma
Perhatian terhadap tenaga kesehatan kembali ditegaskan Gubernur Melki dalam rapat koordinasi bersama Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan jajaran terkait di Kupang, Rabu (2/9/2026).
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kesehatan mental dan trauma healing bagi tenaga kesehatan.
Menurut Melki, penanganan bencana tidak boleh hanya berorientasi pada korban yang dirawat. Orang-orang yang setiap hari berada di garis depan memberikan pelayanan juga membutuhkan perhatian.
“Trauma healing jangan hanya diberikan kepada masyarakat yang menjadi korban. Tenaga kesehatan kita juga harus mendapat perhatian. Mereka bekerja sejak awal bencana, menghadapi situasi yang berat, melayani pasien dan masyarakat, sementara mereka sendiri juga bisa mengalami kelelahan secara fisik maupun mental,” ujar Melki.
Pesan tersebut penting karena tenaga kesehatan sering kali dipandang sebagai pihak yang harus selalu kuat.
Padahal, mereka juga manusia.
Mereka dapat mengalami kelelahan, tekanan, kecemasan, kehilangan tempat tinggal, kehilangan anggota keluarga, maupun trauma akibat menyaksikan kondisi korban bencana.
Karena itu, menjaga kesehatan mental tenaga kesehatan bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga bagian dari menjaga kualitas dan keberlanjutan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
665 Relawan Dikerahkan
Untuk memperkuat pelayanan di lapangan, Dinas Kesehatan Provinsi NTT terus melakukan mobilisasi tenaga kesehatan dan relawan ke berbagai wilayah terdampak.
Sebanyak 665 relawan yang tergabung dalam 42 tim telah diterjunkan ke sejumlah titik pelayanan kesehatan di kabupaten terdampak.
Para relawan terdiri atas tenaga kesehatan dan tenaga nonkesehatan yang bekerja bersama untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dukungan tidak hanya diberikan melalui pengerahan personel.
Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Kesehatan juga mengirimkan obat-obatan dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) ke wilayah terdampak.
Bantuan juga mencakup Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil, serta pendistribusian pita Lingkar Lengan Atas (LILA) untuk membantu pemantauan kondisi gizi kelompok rentan.
Langkah tersebut menjadi penting karena masyarakat di pengungsian menghadapi berbagai risiko kesehatan, mulai dari keterbatasan akses pelayanan, masalah gizi, penyakit menular, hingga gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang berubah drastis.
Perkuat Penanganan dari Darurat hingga Pascabencana
Pemerintah Provinsi NTT juga menyiapkan sejumlah program untuk memperkuat penanganan sektor kesehatan melalui dukungan dana Bantuan Presiden sebesar Rp40 miliar yang dialokasikan bagi Pemerintah Provinsi NTT dalam penanganan gempa Flores.
Program yang diusulkan antara lain pengiriman Tenaga Cadangan Kesehatan–Emergency Medical Team (TCK-EMT) ke kabupaten terdampak, pengiriman tim pendampingan psikologis bagi korban bencana, dukungan operasional dan asesmen Health Emergency Operation Center, serta penanggulangan terpadu penyakit yang berpotensi berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa atau KLB.
Total usulan pembiayaan untuk mendukung berbagai program tersebut mencapai Rp1.866.100.400.
Langkah ini menunjukkan bahwa penanganan kesehatan akibat bencana tidak cukup dilakukan hanya pada saat korban membutuhkan pertolongan pertama.
Penanganan harus berlanjut dari masa tanggap darurat, pemulihan, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.
Melindungi Mereka yang Melindungi Masyarakat
Bagi Gubernur Melki, kekuatan sistem kesehatan dalam menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh jumlah obat, ambulans, gedung puskesmas atau rumah sakit.
Di balik seluruh sistem tersebut terdapat manusia yang menjalankannya.
Para tenaga kesehatan adalah salah satu kekuatan utama dalam penanganan bencana.
Mereka yang berada di balik tenda darurat. Mereka yang menangani pasien ketika fasilitas terbatas. Mereka yang tetap bekerja ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Karena itu, perhatian terhadap nakes harus berjalan beriringan dengan pelayanan kepada korban.
Mereka membutuhkan perlindungan, fasilitas kerja yang aman, dukungan logistik, istirahat yang cukup, serta pendampingan psikologis agar mampu menjalankan tugas secara berkelanjutan.
Sebab, tidak mungkin meminta tenaga kesehatan terus berdiri di garis depan jika mereka sendiri dibiarkan menghadapi kelelahan dan trauma seorang diri.
Gempa telah mengguncang Flores.
Tetapi pelayanan kesehatan tidak boleh ikut runtuh.
Di tengah tenda-tenda darurat dan puing-puing fasilitas kesehatan, para tenaga kesehatan terus menjaga satu hal yang paling dibutuhkan masyarakat dalam situasi bencana: harapan bahwa pertolongan masih ada.
Dan tugas pemerintah bukan hanya memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan.
Pemerintah juga harus memastikan mereka yang berdiri paling depan untuk melayani masyarakat tetap terlindungi, sehat, dan kuat.
Reporter: Polce Lerek
Editor: Redaksi Podium One.net