Kupang, Podium One.net — Gempa bumi boleh merusak ruang kelas, tetapi tidak boleh mematikan masa depan anak-anak Flores.

Pesan itulah yang menjadi perhatian serius Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena dalam upaya mempercepat pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak gempa Flores. Di tengah masa tanggap darurat, ketika ribuan keluarga masih berada dalam ketidakpastian dan sebagian sekolah belum aman digunakan, kegiatan belajar-mengajar (KMB) siswa justru didorong untuk segera kembali berjalan.

Bagi Gubernur Melki, mengembalikan anak-anak ke dalam suasana belajar bukan semata-mata persoalan pendidikan. KMB menjadi bagian dari proses pemulihan psikologis siswa agar mereka tidak terus-menerus terjebak dalam suasana takut dan trauma akibat bencana.

Karena itu, dukungan langsung Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto diminta untuk mempercepat penyediaan tenda sebagai ruang belajar darurat di sekolah-sekolah terdampak.

Permintaan tersebut disampaikan Melki saat mengikuti rapat penanganan gempa bumi dan percepatan pemulihan wilayah terdampak yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Posko Penanganan Gempa Bumi Yonif TP 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026) lalu.

“Untuk kebutuhan pendidikan, kami punya 1.041 satuan pendidikan tingkat SMA, SMK dan SLB se-NTT. Secara khusus untuk Flores, kami minta agar pendidikan di tenda bisa segera digelar. Kami butuh tenda agar pendidikan bisa segera dimulai. Karena kalau pendidikan sudah mulai berjalan, ini juga bisa mengurangi traumatis anak-anak,” ujar Gubernur.

KMB Jangan Menunggu Sekolah Kembali Sempurna

Pesan Gubernur Melki jelas: pendidikan tidak boleh menunggu sampai seluruh bangunan sekolah selesai diperbaiki.

Dalam kondisi darurat, ruang belajar dapat dipindahkan ke tenda, ruang kelas yang masih aman, bangunan sementara, bahkan ruang terbuka yang memungkinkan. Yang terpenting, anak-anak tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar, berinteraksi dengan teman, bertemu guru, dan perlahan kembali merasakan kehidupan normal.

Langkah tersebut penting karena bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Di balik dinding sekolah yang retak dan ruang kelas yang rusak, terdapat ribuan anak yang menghadapi ketakutan, kehilangan rasa aman, bahkan trauma.

Karena itu, KMB di masa tanggap darurat memiliki fungsi ganda: menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus menjadi bagian dari pemulihan trauma anak.

Pemerintah Provinsi NTT mendorong penyediaan tenda belajar dengan kapasitas sekitar 30 hingga 50 siswa. Tenda tersebut diharapkan menjadi ruang aman sementara agar proses pembelajaran dapat kembali berlangsung di sekolah-sekolah yang bangunannya belum memungkinkan digunakan.

1.378 Satuan Pendidikan Terdampak

Besarnya tantangan pemulihan pendidikan tergambar dari data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

Gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan yang tersebar di tujuh kabupaten dan mencakup delapan jenjang pendidikan.

Dari jumlah tersebut terdapat 204 PAUD, satu TK, 701 SD, 287 SMP, 116 SMA, 63 SMK, lima SLB serta satu satuan pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C.

Dampaknya juga dirasakan langsung oleh 177.678 siswa serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.

Sementara itu, sebanyak 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan, dengan 502 sekolah tercatat mengalami kerusakan berat.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya bagaimana membangun kembali gedung sekolah, tetapi bagaimana memastikan anak-anak tetap belajar selama proses pemulihan berlangsung.

KMB Mulai Bergerak di Tengah Keterbatasan

Semangat untuk tidak menghentikan pendidikan mulai terlihat di sejumlah sekolah terdampak.

Di SMA Negeri Maurole, Kabupaten Ende, misalnya, kegiatan belajar-mengajar kembali dilaksanakan secara terbatas dengan memanfaatkan tenda dan ruang terbuka.

Sementara di SMAN 4 Satarmese, Kabupaten Manggarai, pembelajaran dilakukan menggunakan ruang darurat.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa sekolah tidak selalu harus menunggu bangunan permanen berdiri untuk kembali menghadirkan proses belajar.

Dalam situasi bencana, kreativitas dan keberanian beradaptasi menjadi bagian penting dari penyelamatan pendidikan.

Gubernur: Pendidikan Harus Menjadi Tanda Pemulihan

Komitmen tersebut kembali ditegaskan Melki dalam rapat koordinasi penanganan dampak gempa di sektor pendidikan bersama jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT di Kupang, Rabu (2/9/2026).

Melki menegaskan, bergeraknya kembali sektor pendidikan akan memberikan tanda nyata bahwa proses pemulihan telah dimulai.

“Pendidikan bergerak akan menimbulkan suasana bahwa pemulihan itu terasa. Harus mulai dibuka agar kondisi pemulihan semakin nyata,” katanya.

Dengan demikian, KMB menjadi salah satu indikator bahwa kehidupan masyarakat mulai bangkit.

Anak-anak kembali membawa buku. Guru kembali berdiri di depan kelas. Teman-teman kembali berkumpul. Dan sekolah, meskipun belum sempurna, kembali menjalankan fungsinya sebagai ruang belajar sekaligus ruang pemulihan.

Tenda, Bambu dan Terpal Jadi Solusi Darurat

Untuk mempercepat pembukaan kembali ruang belajar, Melki meminta kebutuhan tenda dipetakan secara sistematis dan sekolah yang paling membutuhkan harus menjadi prioritas.

“Kita perlu memberikan yang utama, yaitu tenda untuk ruang kelas. Daerah yang membutuhkan tenda harus kita prioritaskan. Kita harus adakan dengan cepat,” tegasnya.

Selain tenda, material lokal seperti bambu dan terpal juga dapat digunakan untuk membangun ruang belajar sementara.

Pengalaman pembangunan sekolah darurat di Kabupaten Nagekeo dinilai dapat menjadi contoh bagi wilayah terdampak lainnya.

“Gunakan contoh di Nagekeo. Gunakan bambu dan terpal. Ini sangat mendesak,” ujarnya.

Melki juga meminta pendataan kerusakan sekolah dilakukan secara akurat dan diverifikasi. Perguruan tinggi, khususnya mahasiswa dan tenaga ahli teknik sipil serta arsitektur, didorong ikut membantu mengidentifikasi kondisi bangunan sekolah.

Langkah ini penting agar penanganan tidak sekadar cepat, tetapi juga aman dan tepat sasaran.

Bukan Hanya Gedung, Anak dan Guru Juga Harus Dipulihkan

Pemulihan pendidikan, menurut Melki, tidak boleh berhenti pada pembangunan kembali bangunan sekolah.

Yang harus dipulihkan adalah seluruh ekosistem pendidikan.

Siswa membutuhkan rasa aman. Guru membutuhkan dukungan. Sekolah membutuhkan ruang belajar. Dan keluarga membutuhkan kepastian bahwa anak-anak mereka tetap mendapatkan pendidikan meski berada dalam situasi bencana.

Karena itu, persoalan trauma menjadi perhatian serius.

Melki mengingatkan bahwa trauma akibat bencana tidak akan hilang dalam waktu singkat. Proses pemulihan psikologis bahkan dapat berlangsung berbulan-bulan.

“Trauma healing ini masih akan terjadi berbulan-bulan. Tiap sekolah perlu ada tim pendampingan. Harus ada kekuatan dari sekolah sendiri, jangan hanya berharap dari luar,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi kesehatan mental masyarakat di lokasi pengungsian jauh lebih berat dibanding situasi normal. Anak-anak, keluarga, maupun guru yang kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan rumah membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan.

Karena itu, KMB harus dirancang bukan sekadar mengejar materi pelajaran, tetapi juga menjadi ruang aman bagi siswa untuk kembali berinteraksi dan membangun kepercayaan dirinya.

Pendampingan psikososial dapat dikembangkan melalui pendekatan pendidikan, seni, budaya, permainan, serta kearifan lokal. Dengan cara tersebut, sekolah dapat menjadi tempat anak-anak mengekspresikan rasa takut dan perlahan menemukan kembali semangat mereka.

Jam Belajar Masyarakat Kembali Dihidupkan

Ketika sekolah belum sepenuhnya mampu menjalankan KMB secara normal, Gubernur Melki juga mendorong pengaktifan kembali Jam Belajar Masyarakat.

Program tersebut dapat menjadi alternatif bagi anak-anak untuk tetap belajar di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian, keberlangsungan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua, pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, komunitas budaya, lembaga adat dan seluruh elemen masyarakat harus ikut menjadi bagian dari proses pemulihan.

Sementara itu, untuk pemulihan jangka menengah dan panjang, tercatat 882 ruang kelas membutuhkan revitalisasi. Pemerintah Provinsi NTT juga telah melakukan kerja sama dengan kementerian terkait untuk mendukung program revitalisasi sekolah.

Pemerintah pusat pun menyiapkan pembangunan sekolah darurat berbasis material lokal sebagai solusi sementara sebelum rehabilitasi dan rekonstruksi permanen dilakukan.

KMB Adalah Pesan Bahwa Anak-Anak Flores Tidak Boleh Kehilangan Masa Depan

Pada akhirnya, perjuangan menghidupkan kembali KMB di tengah masa tanggap darurat bukan hanya tentang membuka pintu sekolah atau mendirikan tenda belajar.

Ini adalah tentang mengembalikan harapan.

Ketika seorang anak kembali duduk di bangku belajar meski ruang kelasnya hanya berupa tenda, di situlah pesan pemulihan mulai terlihat.

Ketika seorang guru kembali mengajar meski sekolahnya belum pulih sepenuhnya, di situlah semangat bangkit mulai tumbuh.

Dan ketika anak-anak kembali belajar, tertawa, berinteraksi dan menatap masa depan, maka bencana tidak berhasil merampas seluruh harapan mereka.

Gubernur Melki menegaskan, yang dibangun kembali bukan hanya sekolah, tetapi kehidupan pendidikan itu sendiri.

“Yang kita pulihkan bukan hanya bangunan sekolah. Kita harus memulihkan anak-anak, guru dan seluruh kehidupan pendidikan. Sekolah harus kembali menjadi ruang yang aman agar anak-anak bisa belajar dan perlahan pulih dari trauma.”

Reporter: Polce Lerek
Editor: Tim Redaksi Podium One.net