SoE, Podium One.net – Duka akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, bukan hanya dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak. Rasa kehilangan, kesedihan dan penderitaan para korban juga mengetuk hati masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Dari Kota SoE, gelombang kepedulian terus mengalir.
Masyarakat dari berbagai latar belakang, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan hingga instansi pemerintah bahu-membahu mengumpulkan bantuan kemanusiaan bagi saudara-saudara mereka yang terdampak bencana di Pulau Flores.
Bagi masyarakat TTS, bantuan yang diberikan bukan semata-mata tentang berapa besar nilai uang atau jumlah barang yang terkumpul. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi simbol persaudaraan, rasa kemanusiaan dan empati bahwa penderitaan warga Flores adalah duka bersama masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan pun kembali menyiapkan pengiriman bantuan kemanusiaan kloter kedua untuk disalurkan kepada para korban terdampak gempa di Pulau Flores.
Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, melalui Ketua Posko Bantuan Bencana Gempa Flores yang dipusatkan di kawasan Tugu Lilin SoE, Nikson Nomleni, S.Sos., M.Si, mengatakan penggalangan bantuan masih terus dibuka hingga Minggu, 30 Agustus 2026.
Bantuan kemanusiaan kloter kedua dari Kabupaten TTS direncanakan akan dilepas langsung oleh Bupati TTS pada Senin, 31 Agustus 2026.
Karena itu, masyarakat yang masih ingin menyampaikan kepedulian kepada para korban gempa Flores masih memiliki kesempatan untuk berpartisipasi melalui Posko Bantuan Kemanusiaan yang dipusatkan di kawasan Tugu Lilin SoE.
Ajakan tersebut ditujukan kepada seluruh elemen masyarakat, organisasi kemasyarakatan, komunitas, lembaga pendidikan serta lembaga keagamaan, baik gereja, pura maupun masjid.
Semangat yang dibangun sederhana, namun memiliki makna yang sangat besar: ketika saudara sedang tertimpa musibah, sesama tidak boleh tinggal diam.
Menurut Nikson yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas Asisten III Setda Kabupaten TTS, hingga pukul 12.00 Wita, bantuan yang telah masuk ke Posko Kemanusiaan Gempa Flores mencapai Rp322.024.777.
Bantuan tersebut terdiri dari uang tunai sebesar Rp137.960.277, serta berbagai bantuan barang dengan nilai mencapai Rp184.064.500.
Namun, angka tersebut bukanlah akhir.
Tim Posko Bantuan Gempa Flores di SoE masih terus melakukan pendataan terhadap bantuan yang masuk hingga batas waktu penutupan penggalangan pada Minggu, 30 Agustus 2026.
“Bantuan yang masuk berupa uang tunai dan barang terus didata oleh tim Posko Bantuan Gempa Flores di SoE. Nilainya tentu masih akan bertambah sampai penutupan pada Minggu, 30 Agustus 2026,” terang Nikson.
Di tengah berbagai keterbatasan dan persoalan yang juga dihadapi masyarakat TTS, kata Nikson kepedulian terhadap korban bencana Flores tetap tumbuh. Ada masyarakat yang menyumbang dalam jumlah besar. Ada pula yang memberikan apa yang mampu mereka sisihkan. Namun dalam kerja kemanusiaan, nilai sebuah bantuan tidak hanya diukur dari jumlah rupiah.
“Sebungkus makanan, pakaian layak pakai, air minum, kebutuhan bayi hingga uang yang disisihkan dari penghasilan sehari-hari, semuanya membawa pesan yang sama: masyarakat Flores tidak sedang menghadapi musibah ini sendirian,”ucap Nikson.
Bantuan kloter kedua dari Kabupaten TTS menjadi bukti bahwa solidaritas mampu menembus jarak geografis dan batas-batas wilayah. Dari Pulau Timor, masyarakat mengulurkan tangan kepada saudara-saudara mereka di Pulau Flores.
Menurut Nikson, bantuan kemanusiaan tersebut merupakan wujud nyata kepedulian dan rasa empati mendalam masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan terhadap para korban gempa.
“Bantuan ini membawa pesan bahwa mereka tidak sendirian. TTS hadir untuk membangun harapan agar mereka dapat kembali bangkit dari keterpurukan,” pungkas Nikson.
Lebih dari sekadar pengiriman logistik, gerakan kemanusiaan ini juga menjadi pelajaran penting tentang nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahwa bencana dapat merobohkan rumah, merusak fasilitas umum dan meninggalkan trauma. Namun kepedulian mampu membangun kembali harapan.
Ketika tangan-tangan masyarakat TTS bergandengan untuk Flores, sesungguhnya mereka sedang menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal jarak.
Dari Tugu Lilin SoE, bantuan akan kembali bergerak menuju Pulau Flores. Membawa makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan bagi para korban.Tetapi lebih dari itu, bantuan tersebut membawa sesuatu yang mungkin jauh lebih penting bagi mereka yang sedang berada dalam situasi sulit:
Sebuah pesan bahwa di tengah reruntuhan dan duka, masih ada saudara-saudara yang peduli. Masih ada tangan yang terulur. Dan masih ada harapan untuk bangkit kembali.
Penulis : Polce Lerek
Editor : Polce Lerek