SoE, Podium One.net – Dari tanah pegunungan Mollo yang sejuk, sebuah langkah menuju kemandirian pangan nasional kembali dimulai. Bukan dengan senjata, bukan pula melalui operasi penegakan hukum, tetapi dengan bibit bawang putih yang ditanam bersama di atas tanah.

Jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia menggelar gerakan penanaman bawang putih secara serentak di 17 Polda dari total 34 Polda di Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan Polri terhadap program pemerintah dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional, khususnya untuk komoditas bawang putih.

Untuk wilayah Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan atau TTS menjadi salah satu daerah yang dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan bawang putih.

Penanaman dilaksanakan di Desa Netpala, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Kawasan dataran tinggi Mollo dipilih karena memiliki kondisi agroklimat yang dinilai sesuai untuk pengembangan komoditas bawang putih.

Mewakili Kapolda NTT, Direktur Bimbingan Masyarakat Polda NTT, Kombes Pol Sajimin, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa program penanaman bawang putih merupakan bentuk nyata dukungan Polri terhadap kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan sekaligus kemandirian pangan nasional.

Menurutnya, keterlibatan Polri dalam program tersebut bukan untuk mengambil alih peran petani.

Sebaliknya, Polri hadir untuk mendampingi, mengawal serta membangun kolaborasi bersama pemerintah daerah, kelompok tani dan seluruh elemen masyarakat demi menyukseskan program strategis nasional.

“Polri hadir bukan untuk menggantikan posisi petani, tetapi mendampingi, mengawal dan bersama-sama seluruh elemen masyarakat menyukseskan program nasional yang diturunkan pemerintah pusat,” demikian penegasan Kombes Pol Sajimin.

Ia menjelaskan, berdasarkan koordinasi dengan Kementerian Pertanian, terdapat sejumlah daerah di NTT yang memiliki potensi pengembangan bawang putih, yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan, Malaka dan Timor Tengah Utara.

Namun, Kabupaten TTS dinilai memiliki potensi paling besar.

Untuk tahap pengembangan, Kabupaten TTS mendapatkan alokasi lahan seluas 20 hektare, sementara Kabupaten Malaka seluas 7 hektare dan Kabupaten Timor Tengah Utara atau TTU seluas 3 hektare.

Karena itu, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah atau aparat keamanan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan.

Kombes Pol Sajimin pun meminta jajaran Polres TTS, Pemerintah Kabupaten TTS, kelompok tani dan seluruh elemen masyarakat untuk membangun koordinasi dan kolaborasi yang kuat.

Sebab, dari sebuah bibit yang ditanam hari ini, diharapkan akan tumbuh harapan baru bagi petani, daerah dan ketahanan pangan Indonesia.

Di tengah semangat membangun kemandirian pangan, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan kepedulian kemanusiaan.

Mengakhiri sambutannya, Kombes Pol Sajimin mengajak seluruh tamu undangan untuk sejenak menundukkan kepala dan mendoakan masyarakat di Pulau Flores yang sedang menghadapi bencana alam.

Doa bersama itu menjadi pengingat bahwa di tengah upaya membangun ketahanan pangan, nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama tetap harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Sebelumnya, Kapolres Timor Tengah Selatan, AKBP Kristyan B. Martino, S.H., S.I.K., M.M., C.E.L.M., dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan penanaman bawang putih merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mendukung percepatan program swasembada pangan nasional.

Dukungan tersebut, kata Kapolres, tidak berhenti pada seremoni penanaman.

Polri akan melakukan pengawalan dan pendampingan secara terpadu, mulai dari persiapan lahan, proses penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga masa panen dan produksi.

Langkah tersebut dilakukan agar program pengembangan bawang putih dapat berjalan aman, lancar dan memberikan hasil yang maksimal.

Secara teknis, berdasarkan kondisi agroklimat dan pengalaman pengembangan bawang putih sebelumnya, terdapat dua wilayah di Kabupaten TTS yang dinilai sangat potensial untuk pengembangan komoditas tersebut.

Kedua wilayah itu adalah Kecamatan Mollo Utara dan Kecamatan Fatumnasi.

Sementara itu, Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Liu, S.H., S.I.P., M.H., menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten TTS menyambut baik program yang diinisiasi oleh Polri tersebut.

Pemerintah daerah, kata Bupati, siap memberikan dukungan melalui penyediaan lahan, bibit serta tenaga pendamping teknis dari Dinas Pertanian.

Sedangkan untuk kebutuhan pupuk, direncanakan akan mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia sesuai hasil koordinasi yang telah dilakukan.

Bupati Eduard Markus Liu juga mengajak para penyuluh pertanian lapangan, kelompok tani dan seluruh masyarakat untuk membangun koordinasi yang kuat.

Menurutnya, keberhasilan program swasembada pangan tidak dapat dibebankan kepada satu institusi saja.

Diperlukan kerja bersama antara pemerintah, aparat keamanan, tenaga teknis dan masyarakat.

Sebab, ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang seberapa luas lahan yang ditanami.

Lebih dari itu, ketahanan pangan adalah tentang kemampuan sebuah bangsa untuk memproduksi kebutuhan pangannya sendiri, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Pantauan media di lokasi, kegiatan penanaman bawang putih di Desa Netpala berlangsung dengan melibatkan unsur pemerintah, TNI, Polri, DPRD, kejaksaan, instansi pertanian, Bulog, pemerintah kecamatan, kelompok tani serta berbagai elemen masyarakat.

Turut hadir mewakili Kapolda NTT, Direktur Bimas Polda NTT Kombes Pol Sajimin, S.I.K., M.H., Wadir Krimsus Polda NTT AKBP Hario Prasetyo Seno, S.H., S.I.K., M.M., Bupati TTS Eduard M. Liu, Ketua DPRD TTS Mordekai Liu, Dandim 1621 TTS Letkol Czi Ari Setiawan Wibowo, Kapolres TTS AKBP Kristyan B. Martino, serta sejumlah pimpinan instansi dan pemangku kepentingan lainnya.

Dari Desa Netpala, gerakan penanaman bawang putih ini membawa pesan penting. Bahwa swasembada pangan tidak hanya dimulai dari kebijakan besar di tingkat pusat. Ia juga  dimulai dari tanah-tanah pertanian di daerah.

Dari tangan para petani. Dari kerja sama lintas sektor. Dan dari kesadaran bersama bahwa masa depan pangan Indonesia harus dibangun dengan kekuatan sendiri.

Ketika bibit bawang putih mulai ditanam di tanah Mollo, harapan pun ikut ditanam: TTS bukan hanya menjadi daerah penghasil, tetapi dapat menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kedaulatan dan swasembada pangan.

Reporter/Editor : Polce Lerek