Lomba Lari Bupati Cup II
SoE, PodiumOne.net – Lintasan lomba berubah menjadi panggung pembuktian bagi para pelajar Timor Tengah Selatan (TTS). Bukan hanya soal siapa yang tiba lebih dahulu di garis finis, tetapi tentang sejauh mana keberanian, disiplin, daya tahan dan semangat juang mampu membawa seorang pelajar menaklukkan jarak dan tekanan dalam sebuah kompetisi.
Semangat itu terlihat dalam Lomba Lari SD dan SMP Piala Bupati Cup II yang mempertemukan pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten TTS.
Pada kategori SMP putra dan putri, persaingan berlangsung ketat. Para peserta berlari membawa nama sekolah masing-masing sekaligus mempertaruhkan hasil latihan dan kemampuan yang telah mereka bangun sebelum turun ke lintasan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten TTS, Apris A. Manafe, SE., M.Si., merilis hasil lomba lari Bupati Cup II tingkat SMP putra dan putri yang berlangsung pada 3 Oktober 2026.
Jearni Ronci Olla Tercepat di Kategori Putri
Pada kategori Putri SMP, Jearni Ronci Olla dari SMPN Sutual tampil sebagai yang tercepat dengan catatan waktu 23 menit 39,60 detik.
Jearni berhasil mengungguli Agnes Besi dari SMPN 1 Mollo Utara yang finis di posisi kedua dengan waktu 24 menit 34,58 detik.
Posisi ketiga ditempati Wardi Denice Banu dari SMPN Kakan dengan catatan 25 menit 09,13 detik.
Selanjutnya, Magri A. Bay dari SMPN 2 Mollo Utara berada di posisi keempat dengan waktu 25 menit 36,53 detik, disusul Debora Feronika Lassa dari SMPN Baty di posisi kelima dengan 25 menit 41,86 detik.
Persaingan di kelompok berikutnya juga berlangsung ketat. Aprilia M. Tusi dari SMPN Linamnutu menempati posisi keenam dengan waktu 25 menit 42,80 detik, kemudian Indri Sila dari SMPN Satap Ebo di posisi ketujuh dengan 26 menit 00,03 detik.
Posisi kedelapan ditempati Sarnei Lenamah dari SMP Satap Oeue dengan waktu 26 menit 06,32 detik.
Sementara Cireti Tasia Kase dari SMPN Basmuti berada di posisi kesembilan dengan catatan 26 menit 10,72 detik, dan Ersa Paulina Pitay dari SMPN 1 Mollo Utara melengkapi jajaran 10 besar dengan waktu 26 menit 31,41 detik.
Simeon Esron Lassa Kuasai Kategori Putra
Jika kategori putri berlangsung ketat, persaingan di nomor Putra SMP juga tidak kalah menarik.
Simeon Esron Lassa dari SMPN Baty berhasil merebut posisi pertama dengan catatan waktu 20 menit 18,78 detik.
Simeon unggul atas Delvin Baifeto dari SMPN 2 Abani Selatan yang finis di posisi kedua dengan waktu 20 menit 30,79 detik.
Sementara itu, posisi ketiga ditempati Andika Tloen dari SMPK 3 Soe dengan catatan waktu 21 menit 01,40 detik.
Di posisi keempat, Yan H. Leri Tabetak dari SMPN Sutual mencatat waktu 21 menit 34,69 detik, disusul Kristope Petrus Lake dari SMPN Baty di posisi kelima dengan waktu 21 menit 35,42 detik.
Posisi keenam diraih Mika Banunu dari SMPN Nilopo dengan waktu 21 menit 37,76 detik.
Berikutnya, Jourel Alfaro Faot dari SMP Kr. I Aban Barat berada di posisi ketujuh dengan catatan 22 menit 01,82 detik.
Marten Odi Kune dari SMPN Sakteo menempati posisi kedelapan dengan waktu 22 menit 17,81 detik, sedangkan Yasti Fuka dari SMPN 2 Mollo Utara berada di posisi kesembilan dengan catatan 22 menit 22,69 detik.
Deretan catatan waktu tersebut menunjukkan satu hal penting: persaingan atlet pelajar TTS mulai bergerak dari sekadar partisipasi menuju kompetisi yang semakin serius.
Bukan Sekadar Mengejar Podium
Bupati Cup II memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menentukan siapa yang tercepat.
Di balik setiap catatan waktu terdapat proses panjang: latihan, kedisiplinan, dukungan orang tua, peran guru dan sekolah, hingga keberanian seorang pelajar untuk berkompetisi menghadapi peserta dari sekolah lain.
Lintasan menjadi tempat para pelajar belajar bahwa prestasi tidak lahir hanya dari bakat.
Bakat membutuhkan latihan. Kecepatan membutuhkan disiplin. Dan kemenangan membutuhkan mental untuk bertahan sampai garis akhir.
Karena itu, keberadaan kompetisi seperti Bupati Cup menjadi penting dalam membangun ekosistem olahraga pelajar di TTS.
Dari SMPN Sutual, SMPN Baty, SMPN 1 Mollo Utara, SMPN Kakan, SMPK 3 Soe dan sekolah-sekolah lainnya, muncul nama-nama baru yang dapat menjadi bagian dari masa depan olahraga TTS.
Hari ini mereka berlari sebagai pelajar.
Besok, bukan tidak mungkin sebagian dari mereka menjadi atlet yang membawa nama TTS di tingkat provinsi, nasional bahkan internasional.
Dari Eduardus Nabunome, Menjaga Regenerasi Atlet TTS
Harapan tersebut menjadi semakin penting jika melihat sejarah panjang TTS dalam melahirkan atlet berprestasi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten TTS, Apris A. Manafe, SE., M.Si., sebelumnya menegaskan bahwa predikat TTS sebagai “gudang atlet” harus dijaga melalui proses pembinaan yang berkelanjutan.
“TTS dikenal sebagai gudang atlet. Karena itu, kita berharap melalui Bupati Cup I dan II ini akan lahir bibit-bibit atlet dari TTS yang nantinya mampu bersaing bukan hanya di tingkat regional, tetapi juga nasional bahkan internasional.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Bupati Cup tidak ditempatkan semata sebagai agenda perlombaan tahunan.
Lebih jauh, ajang ini diarahkan menjadi salah satu ruang untuk menemukan dan menumbuhkan bibit atlet baru TTS.
Jejak prestasi atlet-atlet TTS sebelumnya menjadi bagian dari sejarah yang perlu diteruskan kepada generasi berikutnya. Salah satunya adalah Eduardus Nabunome, yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan atletik TTS dan NTT.
Kini, tongkat estafet itu berada di tangan generasi muda.
Mereka yang hari ini masih mengenakan seragam sekolah dan berlari di lintasan Bupati Cup, memiliki kesempatan untuk menulis babak baru dalam sejarah olahraga TTS.
Prestasi Tidak Lahir Secara Instan
Namun, jalan menuju prestasi tidak pernah pendek.
Seorang atlet membutuhkan latihan yang konsisten, pelatih yang kompeten, dukungan sekolah dan keluarga, fasilitas olahraga yang memadai serta kompetisi yang berkelanjutan.
Pemerintah juga memiliki peran penting untuk memastikan talenta yang muncul tidak berhenti setelah menerima medali atau berdiri di podium.
Karena itu, Bupati Cup II dapat dipandang sebagai bagian dari proses pembinaan yang lebih panjang: menemukan, menguji, membina dan mempersiapkan atlet muda TTS menuju level yang lebih tinggi.
Di sinilah nilai edukatif sebuah kompetisi olahraga.
Pelajar belajar menang tanpa merendahkan lawan. Belajar kalah tanpa menyerah. Belajar menerima hasil sekaligus mengevaluasi kekurangan.
Dan yang paling penting, mereka belajar bahwa prestasi adalah hasil dari proses.
Dari sebuah lintasan, mungkin hanya lahir seorang juara hari ini. Tetapi dari pembinaan yang konsisten, TTS dapat melahirkan generasi juara untuk masa depan.
Bupati Cup II pun bukan sekadar perlombaan mencari yang tercepat. Ia adalah investasi untuk menjaga api prestasi olahraga TTS tetap menyala.
Penulis : Polce Lerek