Kupang, Podium One.net — Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada medio Agustus 2026 tidak hanya meninggalkan luka dan kehilangan bagi masyarakat, tetapi juga mengguncang salah satu fondasi penting kehidupan publik: sistem pelayanan kesehatan.

Kerusakan fasilitas kesehatan di tujuh kabupaten di Pulau Flores membuat pelayanan medis masyarakat harus bertahan dalam kondisi darurat. Sejumlah tenaga kesehatan kini bekerja dari fasilitas sementara, termasuk tenda, sementara masyarakat tetap membutuhkan pelayanan kesehatan di tengah situasi pascabencana.

Kondisi inilah yang mendorong Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan anggaran sebesar Rp1,39 triliun kepada pemerintah untuk membangun kembali fasilitas kesehatan yang terdampak gempa Flores.

Usulan tersebut disampaikan Menkes Budi Gunadi Sadikin secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bersama Kabinet Merah Putih yang berlangsung secara virtual, Senin, 7 September 2026.

Menkes menjelaskan, berdasarkan perhitungan sementara bersama Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, kebutuhan anggaran untuk pemulihan fasilitas kesehatan mencapai Rp1,39 triliun.

Anggaran tersebut direncanakan untuk membangun kembali 165 Puskesmas dan 12 RSUD yang terdampak dan mengalami kerusakan akibat gempa.

Menurut Menkes, pelayanan kesehatan di sejumlah fasilitas tersebut saat ini masih berlangsung secara darurat menggunakan tenda. Kondisi ini tentu tidak ideal jika harus berlangsung dalam waktu panjang.

Karena itu, pembangunan kembali fasilitas kesehatan menjadi kebutuhan mendesak, bukan hanya untuk memulihkan bangunan yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat Flores kembali mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang aman, layak dan berkelanjutan.

“Hitungan sementara dananya sebesar Rp1,39 triliun,” jelas Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Dampak Besar terhadap Sistem Kesehatan

Sebelumnya, Gubernur NTT Melkiades Laka Lena dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto memaparkan kondisi pelayanan kesehatan pascagempa Flores melalui infografis berjudul “Dampak Gempa Flores terhadap Layanan Kesehatan.”

Data tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak berhenti pada kerusakan bangunan, tetapi telah memengaruhi kemampuan sistem kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Kerusakan terjadi di tujuh wilayah, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka.

Di sektor Puskesmas, tercatat 169 unit mengalami kerusakan, terdiri dari 40 unit rusak berat, 47 unit rusak sedang dan 82 unit rusak ringan.

Untuk kategori rusak berat, kerusakan terbesar tercatat di Manggarai Timur sebanyak 12 unit, Manggarai 11 unit dan Ngada 6 unit.

Namun persoalan tidak hanya terjadi pada Puskesmas.

Sebanyak 444 fasilitas penunjang kesehatan juga terdampak, terdiri dari 181 Pustu, 103 Polindes dan 160 Poskesdes.

Kerusakan fasilitas-fasilitas tersebut menjadi persoalan serius karena sebagian besar merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dasar masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari rumah sakit.

Pelayanan Kesehatan Dipaksa Bertahan dalam Situasi Darurat

Di tengah kerusakan tersebut, pelayanan kesehatan tetap harus berjalan.

Salah satu bentuk respons darurat dilakukan melalui RS Lapangan Aeramo di Kabupaten Nagekeo. Fasilitas ini memiliki kapasitas 150 tempat tidur dan telah memberikan pelayanan kepada 430 pasien rawat jalan serta 326 pasien rawat inap.

Operasional pelayanan tersebut didukung 21 tenaga operasional dan 12 tenaga persalinan.

Sementara itu, RS Lapangan Ruteng juga dimobilisasi dengan dukungan 16 tenda medis terpadu. Fasilitas ini memberikan pelayanan dengan kapasitas yang setara dengan rumah sakit tipe D.

Kehadiran rumah sakit lapangan menjadi bukti bahwa dalam situasi bencana, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti.

Ketika gedung rumah sakit maupun Puskesmas mengalami kerusakan, negara dituntut menghadirkan fasilitas pengganti agar masyarakat tetap memperoleh pertolongan medis.

Kelompok Rentan Menjadi Perhatian Utama

Di balik angka kerusakan infrastruktur, terdapat ribuan masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

Di Tuanggeo, tercatat sekitar 5.040 jiwa terdampak yang berada di 54 tenda pengungsian.

Di antara mereka terdapat 698 lansia, 27 bayi, 146 balita dan 14 ibu hamil.

Kelompok-kelompok ini memiliki kebutuhan kesehatan yang lebih kompleks dan rentan terhadap berbagai persoalan selama berada di lokasi pengungsian.

Karena itu, penanganan pascagempa tidak cukup hanya dengan memberikan obat atau mengobati korban luka.

Aspek kesehatan mental juga menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan.

Pemerintah melakukan upaya pencegahan syok dan trauma, terutama bagi masyarakat yang kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga, maupun mereka yang harus hidup dalam ketidakpastian di lokasi pengungsian.

Layanan keliling juga diarahkan untuk memantau kondisi kelompok rentan, termasuk lansia, serta memberikan dukungan Psychological First Aid atau PFA bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis akibat bencana.

Bukan Sekadar Membangun Gedung

Usulan anggaran Rp1,39 triliun pada akhirnya bukan sekadar persoalan membangun kembali bangunan yang rusak.

Lebih dari itu, pemulihan fasilitas kesehatan merupakan bagian dari pemulihan kehidupan masyarakat Flores secara keseluruhan.

Puskesmas, Pustu, Polindes, Poskesdes hingga rumah sakit merupakan mata rantai penting yang memastikan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan sejak tingkat desa hingga fasilitas rujukan.

Karena itu, pembangunan kembali fasilitas kesehatan pascagempa harus menjadi momentum untuk menghadirkan infrastruktur yang lebih aman, lebih tangguh terhadap bencana dan mampu menjamin kesinambungan pelayanan kesehatan.

Gempa telah merusak banyak fasilitas.

Namun pelayanan kesehatan tidak boleh ikut berhenti.

Kini, tantangannya adalah memastikan proses rehabilitasi dan pembangunan kembali berjalan cepat, tepat sasaran dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.

Sebab bagi korban bencana, pemulihan bukan hanya tentang kembali memiliki rumah. Pemulihan juga berarti memastikan ketika sakit, ketika melahirkan, ketika membutuhkan pertolongan darurat, selalu ada fasilitas kesehatan yang siap melayani.

Sumber : Biro Pres Sekretaris Presiden

Editor : Polce Lerek