Kupang, Podium One.net — Bencana Gempa Flores bukan sekadar meninggalkan kerusakan bangunan dan memaksa masyarakat mengungsi. Skala dampaknya jauh lebih besar.
Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Republik Indonesia, Senin, (7/9/20206) Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, memaparkan secara langsung kondisi terkini penanganan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Flores.
Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan dalam rapat tersebut, bencana telah berdampak pada tujuh kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Manggarai.
Data tersebut menggambarkan betapa besar skala musibah yang harus dihadapi masyarakat dan pemerintah.
Sebanyak 133 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 1.107 orang mengalami luka-luka.
Tidak hanya itu, sebanyak 69.664 warga terpaksa mengungsi dan meninggalkan rumah serta lingkungan tempat tinggal mereka demi keselamatan.
Lebih dari 102 Ribu Rumah Rusak
Gubernur NTT juga menjelaskan bahwa dampak gempa terhadap permukiman warga sangat besar.
Tercatat sebanyak 102.243 unit rumah mengalami kerusakan.
Dari jumlah tersebut, 26.959 rumah mengalami rusak berat, 23.137 rumah rusak sedang, dan 52.147 rumah mengalami rusak ringan.
Data ini menunjukkan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Pemerintah tidak hanya dihadapkan pada persoalan menyediakan makanan dan tempat pengungsian, tetapi juga harus memikirkan bagaimana puluhan ribu keluarga dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan aman.
Pendidikan Menjadi Perhatian Serius
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian utama Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena adalah keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak.
Data menunjukkan sebanyak 2.457 satuan pendidikan terdampak bencana.
Kondisi inilah yang kemudian menjadi dasar penjelasan Gubernur NTT kepada Presiden mengenai kebutuhan mendesak akan tenda-tenda lapangan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar atau KBM.
Menurut Gubernur, di tengah masa tanggap darurat, kegiatan pendidikan harus mulai kembali dijalankan, terutama bagi siswa yang berada di kelas akhir.
Pembelajaran secara terbatas mulai didorong bagi siswa kelas VI SD, kelas III SMP dan kelas III SMA, termasuk pelayanan pendidikan bagi mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi yang terdampak.
Namun, proses belajar mengajar membutuhkan ruang yang aman.
Dengan 2.457 satuan pendidikan terdampak, kebutuhan ruang belajar sementara menjadi persoalan yang tidak bisa ditunda.
Karena itu, Gubernur NTT menjelaskan kepada Presiden bahwa apabila setiap sekolah membutuhkan sedikitnya tiga tenda untuk mendukung proses pembelajaran, maka diperlukan sekitar 10.000 tenda lapangan.
Tenda tersebut nantinya tidak sekadar menjadi tempat berteduh.
Tenda-tenda itu akan menjadi ruang kelas darurat, tempat anak-anak korban bencana tetap belajar dan menjaga harapan mereka untuk masa depan.
Bukan Hanya Sekolah, Pelayanan Dasar Juga Terdampak
Skala kerusakan akibat Gempa Flores juga menyentuh berbagai sektor pelayanan dasar masyarakat.
Tercatat 671 fasilitas kesehatan terdampak, disusul 620 rumah ibadah, serta 669 kantor pemerintahan.
Selain itu, terdapat 6.813 fasilitas umum yang mengalami dampak, termasuk 31 sarana air bersih.
Kerusakan tersebut menjadi tantangan besar dalam masa tanggap darurat.
Pemerintah harus memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, masyarakat memperoleh air bersih, serta berbagai pelayanan publik dapat kembali berfungsi.
Dalam kondisi seperti inilah, Gubernur NTT menegaskan pentingnya kerja sama seluruh pihak.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, lembaga kemanusiaan hingga masyarakat harus bergerak bersama agar penanganan bencana tidak hanya berhenti pada penyaluran bantuan.
Puluhan Ribu Ton Logistik Telah Disalurkan
Di tengah besarnya kebutuhan masyarakat, distribusi bantuan kemanusiaan terus dilakukan.
Berdasarkan data penanganan darurat, sebanyak 51,075 ton beras telah disalurkan kepada masyarakat terdampak.
Selain itu, bantuan berupa 4.157 dos mi instan, 2.821 dos air mineral, serta 2.762 kaleng ikan juga telah disalurkan.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di pengungsian, bantuan lainnya berupa 837 lembar selimut, 1.217 kotak susu, serta 300 paket hygiene kit turut didistribusikan.
Gubernur NTT menjelaskan bahwa secara umum aktivitas masyarakat mulai berangsur pulih.
Distribusi logistik berjalan dan kebutuhan makan serta minum masyarakat di sejumlah lokasi pengungsian terus diupayakan agar tetap terpenuhi.
Pelayanan kesehatan juga tetap berjalan dengan dukungan berbagai fasilitas darurat, termasuk obat-obatan, tenda dan genset.
Pemulihan Bukan Sekadar Membangun Kembali
Data yang dipaparkan Gubernur NTT memperlihatkan bahwa pemulihan Flores bukanlah pekerjaan sederhana.
Ada rumah yang harus dibangun kembali.
Ada fasilitas kesehatan yang harus dipulihkan.
Ada sarana air bersih yang harus diperbaiki.
Dan yang tidak kalah penting, ada ribuan anak yang harus segera kembali mendapatkan haknya untuk belajar.
Karena itulah, kebutuhan sekitar 10.000 tenda lapangan menjadi salah satu permintaan penting Gubernur NTT kepada Pemerintah Pusat.
Bagi masyarakat umum, tenda mungkin hanya dipandang sebagai tempat perlindungan sementara.
Namun bagi ribuan siswa di wilayah terdampak Gempa Flores, tenda dapat menjadi ruang kelas, tempat mereka kembali membuka buku, belajar, dan menata masa depan di tengah situasi bencana.
Gempa boleh merusak bangunan sekolah, tetapi pendidikan anak-anak Flores tidak boleh ikut berhenti.
Sumber : Biro Pers Sekretariat Presiden
Editor : Polce Lerek