Kupang, Podium One.net — Gempa bumi yang melanda wilayah Flores tidak hanya merusak rumah warga dan memaksa ribuan masyarakat bertahan di lokasi pengungsian. Bencana ini juga meninggalkan persoalan besar bagi dunia pendidikan.

Ketika sejumlah sekolah terdampak dan ruang-ruang belajar tidak lagi sepenuhnya aman digunakan, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur kini menghadapi tantangan untuk memastikan satu hal penting: anak-anak korban bencana tidak boleh kehilangan masa depan dan hak mereka untuk belajar.

Persoalan itulah yang disampaikan langsung Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bersama jajaran Kabinet Merah Putih, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BNPB, Kepala BMKG, serta para kepala daerah di wilayah Flores yang dilaksanakan secara daring, Senin, (7/9/2026).

Dalam rapat tersebut, Gubernur NTT memaparkan kondisi terkini masyarakat di wilayah terdampak Gempa Flores.

Menurutnya, kehidupan masyarakat secara perlahan mulai berangsur membaik. Distribusi bantuan logistik berjalan dengan baik, sementara kebutuhan makan dan minum masyarakat di sejumlah lokasi pengungsian terus mendapat perhatian.

Pelayanan kesehatan bagi warga terdampak juga dilaporkan tetap berjalan. Dukungan berupa tenda, obat-obatan hingga genset menjadi bagian dari upaya pemerintah dan berbagai pihak untuk memastikan pelayanan dasar tetap tersedia di tengah situasi darurat.

Namun, di tengah pemulihan kehidupan masyarakat, terdapat persoalan lain yang tidak kalah mendesak, yakni kelangsungan pendidikan anak-anak di wilayah bencana.

Pendidikan Tidak Boleh Berhenti

Gubernur Laka Lena menjelaskan bahwa dalam masa tanggap darurat, kegiatan belajar mengajar secara bertahap mulai kembali dilaksanakan.

Pelaksanaan pembelajaran tersebut masih dilakukan secara terbatas, terutama bagi siswa kelas akhir yang akan menghadapi proses kelulusan dan jenjang pendidikan berikutnya.

Kelas VI SD, kelas III SMP, dan kelas III SMA menjadi kelompok yang diprioritaskan untuk segera kembali mendapatkan pelayanan pendidikan.

“Pelayanan pendidikan kita dorong dan mulai berjalan dengan kebutuhan tenda dan sarana pendukung lainnya,” jelas Gubernur.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berbicara tentang penyelamatan korban dan pemenuhan kebutuhan pangan. Pemulihan pendidikan juga menjadi bagian penting dari pemulihan kehidupan masyarakat.

Anak-anak yang menjadi korban bencana membutuhkan kepastian bahwa meskipun bangunan sekolah terdampak, proses belajar mereka tidak boleh ikut terhenti.

2.457 Sekolah Terdampak, Butuh Sekitar 10.000 Tenda

Dalam rapat terbatas tersebut, persoalan kebutuhan sarana pendidikan mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

Setelah mendengarkan laporan Gubernur NTT, Presiden secara khusus meminta penjelasan mengenai kebutuhan tenda lapangan bagi sekolah-sekolah yang terdampak.

“Berapa tenda yang Anda butuh?” tanya Presiden kepada Gubernur NTT.

Menjawab pertanyaan tersebut, Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena menjelaskan bahwa terdapat sekitar 2.457 sekolah yang terdampak bencana.

Dengan perhitungan kebutuhan minimal tiga tenda untuk setiap sekolah, maka Pemerintah Provinsi NTT memperkirakan dibutuhkan sekitar 10.000 tenda lapangan.

Tenda-tenda tersebut nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai ruang belajar sementara bagi siswa SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi yang fasilitas pendidikannya terdampak Gempa Flores.

Kebutuhan ini bukan sekadar soal menyediakan tempat berlindung.

Lebih dari itu, tenda lapangan menjadi solusi darurat untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan sambil menunggu pemulihan dan perbaikan fasilitas pendidikan yang rusak.

Sekolah boleh terdampak bencana, tetapi semangat belajar anak-anak Flores tidak boleh ikut runtuh.

Pemerintah Pusat Siapkan Relaksasi Biaya Pendidikan

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur NTT juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Pusat atas perhatian terhadap masa depan pendidikan para korban bencana.

Menurut Gubernur, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Pendidikan Tinggi telah memberikan komitmen untuk menyiapkan berbagai bentuk relaksasi bagi siswa dan mahasiswa yang terdampak.

Relaksasi tersebut mencakup keringanan terhadap sejumlah kewajiban biaya pendidikan, termasuk Uang Kuliah Tunggal atau UKT bagi mahasiswa, serta bentuk keringanan biaya pendidikan bagi pelajar pada jenjang SD, SMP dan SMA sesuai kebijakan yang akan disiapkan pemerintah.

Kebijakan ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga korban bencana yang saat ini tengah berjuang memulihkan kehidupan dan kondisi ekonomi mereka.

Palue Butuh Armada Ferry

Selain persoalan pendidikan, Gubernur NTT juga menyampaikan kebutuhan transportasi laut bagi masyarakat di Pulau Palue, salah satu wilayah yang paling terdampak Gempa Flores.

Kebutuhan tersebut menjadi mendesak karena kapal yang selama ini melayani rute menuju Pulau Palue dijadwalkan menjalani masa perbaikan atau naik dok dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi itu dikhawatirkan dapat mengganggu mobilitas masyarakat sekaligus distribusi logistik menuju wilayah tersebut.

Menanggapi permintaan Gubernur NTT, Menteri Perhubungan yang turut hadir dalam rapat terbatas menyatakan akan segera mengirimkan satu armada kapal ferry untuk melayani masyarakat Pulau Palue.

Langkah cepat tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan wilayah terdampak bencana tidak mengalami keterisolasian.

Relaksasi Kredit bagi Masyarakat Terdampak

Tidak hanya persoalan fisik dan pendidikan, Gubernur NTT juga mengangkat dampak ekonomi yang kini mulai dirasakan masyarakat akibat bencana.

Salah satunya adalah masyarakat di Kabupaten Nagekeo yang mengalami tekanan ekonomi setelah Gempa Flores.

Gubernur meminta perhatian Pemerintah Pusat agar masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi dapat memperoleh kebijakan relaksasi terhadap kewajiban pembayaran kredit, baik kepada perbankan maupun lembaga keuangan nonperbankan seperti koperasi.

Permintaan tersebut diharapkan dapat menjadi jalan keluar sementara bagi masyarakat yang kehilangan atau mengalami penurunan sumber penghasilan akibat dampak bencana.

Bagi masyarakat korban gempa, pemulihan tidak hanya berarti membangun kembali rumah yang rusak.

Pemulihan juga berarti mengembalikan kehidupan, menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak, membuka kembali akses transportasi, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk bangkit secara ekonomi.

Kebutuhan sekitar 10.000 tenda lapangan yang disampaikan Gubernur NTT menjadi simbol bahwa pemulihan Flores harus dilakukan secara menyeluruh.

Di tengah reruntuhan akibat bencana, pendidikan harus tetap mendapat tempat.

Sebab dari ruang-ruang belajar darurat itulah, harapan anak-anak Flores akan terus dijaga.

Bencana boleh menghentikan aktivitas untuk sementara, tetapi pendidikan dan masa depan generasi NTT tidak boleh berhenti.

Sumber : Biro Pers Sekretaris Presiden

Editor : Polce Lerek