• Gubernur NTT Terima Save the Children, Bahas Air Bersih, Pendidikan dan Perlindungan Anak Korban Gempa Flores

Kupang, Podium One.net – Di tengah kepungan duka dan ketidakpastian yang masih menyelimuti warga terdampak gempa bumi Flores, satu persoalan mendasar mulai mendapat perhatian serius: bagaimana memastikan anak-anak tetap aman, sehat, terlindungi, dan tidak kehilangan hak mereka untuk belajar.

Persoalan itulah yang menjadi salah satu fokus utama dalam audiensi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama Chief Executive Officer (CEO) Save the Children Indonesia, Desy Kurwiany, di Ruang Kerja Gubernur NTT, Senin (31/8/2026).

Pertemuan tersebut tidak sekadar membahas penyaluran bantuan. Lebih jauh, audiensi menjadi bagian dari upaya memperkuat respons kemanusiaan dan perlindungan anak di sejumlah wilayah yang hingga kini masih merasakan dampak gempa bumi Flores.

Dalam pertemuan itu, Desy Kurwiany didampingi Duta Pahlawan Anak Save the Children Indonesia, Krisdayanti dan Yuni Shara, serta Direktur CIS Timor, Haris Oematan.

Tiga Kabupaten Jadi Sasaran Respons Kemanusiaan

Save the Children Indonesia bersama mitra lokal CIS Timor akan melakukan peninjauan langsung ke sejumlah wilayah terdampak, terutama Kabupaten Nagekeo, Ngada, dan Manggarai Timur.

Desy menjelaskan, kehadiran Save the Children bukan hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi memastikan kebutuhan kelompok paling rentan, khususnya anak-anak, mendapat perhatian sejak masa tanggap darurat hingga proses pemulihan.

“Besok kami turun ke tiga kabupaten: Nagekeo, Ngada, dan Manggarai Timur. Kami fokus pada penyediaan air bersih dan air minum, pemenuhan kebutuhan pangan, serta penyiapan tenda ruang belajar sementara,” ujar Desy.

Bagi anak-anak korban bencana, kehilangan rumah dan lingkungan yang selama ini mereka kenal bukan sekadar persoalan tempat tinggal. Bencana juga dapat memutus rutinitas, mengganggu proses belajar, bahkan meninggalkan trauma yang tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Karena itu, Save the Children menempatkan pendidikan dan dukungan psikososial sebagai bagian penting dari respons kemanusiaan.

Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan tempat berlindung. Mereka membutuhkan ruang aman untuk belajar, bermain, berinteraksi, dan perlahan memulihkan rasa aman setelah mengalami peristiwa traumatis.

Air Bersih Menjadi Ancaman yang Tak Kalah Mendesak

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut positif langkah Save the Children Indonesia dan CIS Timor tersebut.

Menurut Gubernur, kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan paling mendesak di sejumlah lokasi pengungsian.

“Air bersih menjadi kebutuhan mendesak di posko-posko pengungsian karena banyak sumber air yang mulai keruh,” kata Gubernur Melki.

Persoalan air bersih dalam situasi bencana bukan perkara sederhana. Ketersediaan air yang aman sangat berkaitan dengan kesehatan pengungsi, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Di tengah kondisi darurat, kualitas air harus menjadi perhatian karena penggunaan air yang tercemar dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit.

Karena itu, distribusi air bersih dan air minum menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan warga selama berada di pengungsian.

Anak Tidak Boleh Menjadi Korban Kedua dari Bencana

Gubernur Melki menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada penyelamatan warga dan pemulihan bangunan yang rusak.

Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni pemulihan kehidupan sosial serta pemenuhan hak-hak dasar masyarakat, terutama anak-anak.

“Anak-anak menjadi kelompok rentan terdampak gempa Flores ini. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten agar kegiatan belajar mengajar dapat segera berjalan kembali meskipun dengan keterbatasan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan satu hal penting: anak-anak tidak boleh menjadi korban kedua dari sebuah bencana.

Ketika sekolah rusak, proses belajar terganggu. Ketika keluarga kehilangan tempat tinggal, rasa aman anak ikut terguncang. Dan ketika trauma tidak ditangani, dampaknya dapat terbawa jauh melampaui masa tanggap darurat.

Karena itu, pemulihan pendidikan dan dukungan psikososial harus berjalan beriringan dengan pemulihan infrastruktur.

Bantuan Mulai Bergerak di Sejumlah Wilayah

Sebelum audiensi dengan Gubernur NTT, Save the Children Indonesia bersama CIS Timor dan Humanitarian Forum Indonesia (HFI) telah melakukan Rapid Needs Assessment (RNA) di Kabupaten Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, dan Manggarai.

Hasil pemetaan kebutuhan tersebut menjadi dasar dalam menentukan bantuan yang harus diprioritaskan di lapangan.

Hingga saat ini, sejumlah bantuan kebutuhan dasar telah disalurkan, antara lain:

  • 80 paket sembako di Desa Golo Lalong dan Desa Biting, Manggarai Timur.
  • 50 selimut dewasa, 40 selimut anak, dan 40 matras di Manggarai Timur.
  • 194 paket logistik pangan berupa sarden, biskuit, air mineral, dan beras, ditambah 40 selimut anak serta 40 matras di Desa Wolomeze, Kabupaten Ngada.
  • 1.000 shelter kit dan jeriken telah tiba di Borong.
  • Layanan Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) telah menjangkau 104 anak usia 7–10 tahun di Ruteng dan Desa Golo Lalong.
  • Layanan dukungan psikososial tersebut kemudian diperluas ke Kabupaten Nagekeo oleh CIS Timor sejak 20 Agustus 2026.

Rangkaian bantuan tersebut menunjukkan bahwa respons bencana tidak hanya berbicara tentang berapa banyak paket bantuan yang dibagikan, tetapi juga tentang seberapa cepat kebutuhan dasar dan kebutuhan perlindungan masyarakat dapat dipulihkan.

Skala Bencana Flores Masih Sangat Besar

Urgensi respons kemanusiaan tersebut tidak terlepas dari besarnya dampak gempa bumi Flores. Berdasarkan data BNPB per 27 Agustus 2026, bencana tersebut telah mengakibatkan: 111 orang meninggal dunia, 1.672 orang luka-luka, dan 176.621 jiwa mengungsi. Kerusakan juga tercatat sangat besar, dengan 84.562 unit rumah, 1.918 fasilitas pendidikan, dan 118 fasilitas kesehatan terdampak.

Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa proses pemulihan tidak mungkin dibebankan kepada satu pihak saja. Dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai elemen lainnya.

Dari Tanggap Darurat Menuju Pemulihan

Pemerintah Provinsi NTT terus memperkuat koordinasi bersama pemerintah pusat, BNPB, BPBD, lembaga swadaya masyarakat, serta dunia usaha untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Kolaborasi dengan Save the Children Indonesia dan CIS Timor menjadi bagian dari upaya tersebut.

Namun, tantangan terbesar ke depan bukan hanya memastikan bantuan tiba di lokasi bencana. Tantangannya adalah memastikan kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan, sekolah kembali menjadi ruang belajar, anak-anak kembali mendapatkan rasa aman, dan keluarga perlahan mampu bangkit dari kehilangan.

Semangat “Ayo Bangun NTT” karena itu bukan sekadar slogan. Dalam situasi bencana, semangat tersebut menjadi panggilan untuk membangun kembali kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Sebab, rumah dapat dibangun kembali. Sekolah dapat diperbaiki. Infrastruktur dapat dipulihkan. Tetapi masa depan anak-anak tidak boleh ikut runtuh bersama bangunan yang roboh. Dan di tengah puing-puing bencana Flores, memastikan anak tetap terlindungi, tetap belajar, dan tetap memiliki harapan adalah bagian penting dari proses membangun kembali NTT.

(Tim Podium One.net)