SoE, Podium One.net – Gelombang cuaca ekstrem yang menyelimuti kawasan pegunungan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, kembali membawa kerugian bagi para peternak. Suhu udara yang anjlok hingga mencapai 7 derajat Celsius dalam sepekan terakhir diduga menjadi penyebab puluhan ekor sapi mati kedinginan di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara.
Peristiwa ini bukan sekadar kehilangan hewan ternak. Bagi masyarakat di wilayah tersebut, sapi merupakan tabungan hidup sekaligus penopang utama ekonomi keluarga selain sektor pertanian. Kematian puluhan ekor sapi berarti hilangnya sumber pendapatan yang selama ini menjadi andalan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga berbagai kebutuhan sosial masyarakat.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten TTS, drh. John CHR. Banunaek kepada media ini Kamis, (30/7/2026 menjelaskan bahwa kasus kematian ternak akibat cuaca ekstrem sebenarnya telah terjadi sejak Juni 2026 dan terus berlanjut hingga akhir Juli.
Berdasarkan hasil investigasi tim lapangan, sapi-sapi yang mati umumnya menunjukkan gejala tubuh gemetar hebat, kehilangan tenaga, kemudian roboh sebelum akhirnya mati. Kondisi tersebut mengarah pada gangguan fisiologis akibat paparan suhu yang sangat rendah dalam waktu cukup lama.
“Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan ternak mengalami gejala menggigil, kemudian ambruk dan mati. Kami masih terus melakukan pendataan untuk memastikan jumlah keseluruhan ternak yang terdampak,” ujar John.
Hingga 29 Juli 2026, data sementara mencatat sedikitnya 49 ekor sapi telah mati di Desa Tunua. Sementara itu, pendataan di Desa Fatumnasi dan sejumlah desa lainnya masih terus berlangsung.
Dari hasil pendataan, pemilik ternak yang mengalami kerugian terbesar adalah Yakob Baun dengan delapan ekor sapi mati. Disusul YMTM (Yayasan Mitra Tani Mandiri) yang kehilangan enam ekor sapi jantan berusia dua tahun, kemudian Martinus Baun sebanyak lima ekor sapi betina berumur delapan tahun.
Sejumlah peternak lainnya juga mengalami kerugian cukup besar. Sefnat Nomeni kehilangan tiga ekor sapi, Mikael Hana tiga ekor, sementara Apris Uki, Lukius Liem, Okran Naben, Melianus Hana, Elisa Fukusa, Yakob Baun, Yuliana Anin, Marten Banfatin, Demetrius Naben, dan Neno Naben masing-masing kehilangan dua ekor sapi.
Selain itu, belasan peternak lainnya tercatat kehilangan masing-masing satu ekor sapi, di antaranya Paulus Baun, Yafet Mnune, Danial Faot, Frangky Bifel, Imanuel Lake, Simon Imanuel Sanam, Yohanis Sanam, Zadrak Aplgi, Osias Naben, Yustus Bana, hingga Isak Baun.
Jika ditelusuri berdasarkan wilayah, kematian ternak di Dusun II Desa Tunua mencapai 15 ekor, sedangkan di Dusun III sebanyak 34 ekor, sehingga total sementara mencapai 49 ekor sapi.
John Banunaek menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara karena tim Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten TTS masih berada di lapangan untuk melakukan pendataan lanjutan.
“Ini merupakan data per 29 Juli 2026. Pendataan di Desa Fatumnasi dan beberapa desa lainnya masih berlangsung sehingga data akan terus diperbarui,” jelasnya.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga berdampak serius terhadap sektor peternakan. Suhu udara yang turun drastis dapat menyebabkan hipotermia pada ternak, terutama jika sapi dipelihara di padang penggembalaan terbuka tanpa perlindungan kandang yang memadai. Kondisi tersebut menyebabkan tubuh ternak kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuh menghasilkan panas, sehingga berujung pada kematian.
Pemerintah mengimbau para peternak untuk meningkatkan langkah antisipasi dengan menyediakan kandang yang mampu melindungi ternak dari angin dingin, memastikan kecukupan pakan dan air minum, serta segera melaporkan apabila ditemukan gejala ternak menggigil atau menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca yang semakin ekstrem menuntut kesiapsiagaan seluruh pihak. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, kerugian ekonomi masyarakat peternak berpotensi semakin besar dan dapat mengancam ketahanan pangan serta kesejahteraan keluarga di wilayah pegunungan Timor Tengah Selatan.
Reporter & Editor: Polce Lerek