SoE, PodiumOne.net – Di balik kebanggaan mengenakan seragam kebesaran Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN) Kampus Ben Mboi di Belu, tersimpan kegelisahan mendalam yang kini membayangi para alumni Cohort 3 beserta keluarga mereka.
Harapan besar yang selama ini dirawat orang tua tentang masa depan anak-anak mereka kini berhadapan dengan kenyataan yang tidak mudah diterima. Setelah diwisuda pada 3 September 2026, puluhan alumni justru menghadapi ketidakpastian setelah mengikuti seleksi penerimaan anggota TNI Angkatan Darat.
Dari 55 mahasiswa UNHAN Ben Mboi Belu yang mengikuti seleksi tersebut, sebanyak 41 orang dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Bagi keluarga yang selama bertahun-tahun menaruh harapan besar pada pendidikan anak-anak mereka, kenyataan tersebut menghadirkan pertanyaan tentang masa depan, kepastian karier, serta bagaimana para alumni harus melanjutkan perjalanan hidup setelah menyelesaikan pendidikan.
Luka Batin Orang Tua: Sebelumnya Bangga, Sekarang Gelisah
Salah seorang anggota Paguyuban Orang Tua/Wali Kadet Mahasiswa UNHAN Ben Mboi Belu Cohort 3, Maxi Lake, kepada awak media di SoE, Jumat, (16/10/2026) mengungkapkan bahwa situasi tersebut menimbulkan beban psikologis, bukan hanya bagi para alumni, tetapi juga bagi orang tua dan keluarga mereka.
Dengan nada kecewa, Maxi menggambarkan bagaimana kebanggaan keluarga terhadap pendidikan anak di UNHAN kini bercampur dengan rasa malu, kegelisahan, dan ketakutan menghadapi pertanyaan lingkungan sekitar.
Menurutnya, selama menempuh pendidikan, anak-anak mereka dikenal sebagai kadet yang memiliki masa depan menjanjikan. Seragam kebesaran UNHAN yang dikenakan ketika pulang ke kampung halaman menjadi simbol kebanggaan keluarga sekaligus harapan masyarakat bahwa mereka kelak akan memiliki masa depan yang lebih pasti.
Namun, ketika harapan tersebut berhadapan dengan kenyataan tidak lolos seleksi TNI, muncul tekanan emosional yang tidak sederhana.
“Kalau saya sebagai orang tua saja sudah merasa malu, tentu anak saya bisa merasakan beban yang jauh lebih berat. Tetangga dan keluarga selama ini melihat mereka sebagai anak-anak yang masa depannya sudah pasti,” ungkap Maxi.
Ia khawatir, tekanan sosial tersebut membuat para alumni merasa enggan pulang ke kampung halaman karena takut menghadapi pertanyaan dan penilaian masyarakat.
Bagi Maxi, persoalan ini bukan semata-mata tentang lolos atau tidak lolos seleksi militer. Lebih dari itu, ada harga diri, kondisi psikologis, dan masa depan anak-anak yang perlu mendapat perhatian serius.
“Jangan sampai anak-anak merasa malu untuk pulang kampung karena tertekan secara psikologis. Kami sebagai orang tua juga mengalami beban psikologis. Kami hanya ingin ada kepastian mengenai masa depan mereka,” tegasnya.
Harapan terhadap UNHAN dan Pemerintah
Maxi menjelaskan, keputusan keluarga mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada UNHAN dilandasi harapan besar terhadap masa depan yang dijanjikan melalui sistem pendidikan dan persyaratan yang berlaku saat penerimaan kadet.
Menurutnya, para orang tua memahami bahwa pendidikan di UNHAN merupakan kesempatan istimewa. Para kadet memperoleh fasilitas pendidikan, pembinaan, dan dukungan selama menempuh pendidikan. Mereka juga menerima uang saku bulanan yang, menurut Maxi, selama ini diberikan secara teratur.
Karena itu, ketika sebagian besar peserta dari kelompok mereka dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam seleksi TNI AD, orang tua merasa perlu mendapatkan penjelasan yang terang mengenai hubungan antara pendidikan yang telah ditempuh, persyaratan awal penerimaan, dan peluang kelanjutan karier setelah wisuda.
Maxi menegaskan, para orang tua tidak bermaksud menuntut agar setiap alumni otomatis diterima menjadi anggota TNI tanpa melalui ketentuan yang berlaku. Namun, mereka menginginkan penjelasan yang transparan tentang mekanisme seleksi, persyaratan yang harus dipenuhi, serta langkah yang dapat ditempuh oleh alumni yang belum lolos.
Bagi keluarga, kepastian informasi menjadi sangat penting agar anak-anak tidak terus berada dalam situasi menunggu tanpa arah.
“Ketika anak-anak masuk, kami melihat ada harapan besar bagi masa depan mereka. Sekarang kami ingin mengetahui bagaimana kelanjutan mereka setelah menyelesaikan pendidikan,” ujarnya.
Sulit Bertemu Pejabat, Keluhan Orang Tua Belum Tersampaikan
Kegelisahan para orang tua semakin bertambah karena mereka mengaku kesulitan menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pihak yang memiliki kewenangan.
Maxi mengatakan, perwakilan orang tua telah berupaya menemui pimpinan UNHAN di Jakarta. Mereka juga berharap dapat bertemu Menteri Pertahanan untuk menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi para alumni Cohort 3.
Namun, menurut pengakuannya, upaya tersebut belum membuahkan kesempatan untuk menyampaikan keluhan secara langsung kepada pejabat yang mereka harapkan.
Situasi itu membuat orang tua merasa kebingungan mengenai ke mana mereka harus mencari penjelasan dan meminta pertanggungjawaban kelembagaan atas persoalan yang dihadapi anak-anak mereka.
Mereka memandang Kementerian Pertahanan memiliki posisi strategis dalam memberikan penjelasan karena UNHAN berada dalam lingkup kelembagaan pertahanan negara.
Maxi menegaskan, kedatangan mereka bukan untuk melakukan demonstrasi terhadap Menteri Pertahanan. Mereka ingin menyampaikan kegelisahan, meminta ruang dialog, dan memperoleh jawaban yang dapat menjadi pegangan bagi keluarga.
“Kami sebenarnya bukan mau berdemo. Kami hanya ingin curhat dan menyampaikan keluhan hati kami kepada Bapak Menteri Pertahanan. Mudah-mudahan melalui rekan-rekan media, suara kami bisa didengar,” ungkapnya.
Alumni Masih di Kampus, Persoalan Biaya Makan Dipertanyakan
Selain persoalan seleksi TNI AD, orang tua juga mengkhawatirkan kondisi para alumni setelah wisuda.
Maxi menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, sebagian alumni masih berada di lingkungan kampus. Sebelumnya, beberapa di antara mereka sempat meminta izin untuk bermalam di rumah teman di Atambua dan tidak langsung pulang ke rumah masing-masing.
Keberadaan mereka di kampus menimbulkan pertanyaan baru bagi orang tua, terutama mengenai dukungan kebutuhan dasar setelah mereka resmi menyelesaikan pendidikan.
Maxi mengaku memperoleh informasi dari komunikasi dengan pihak dekan bahwa tidak tersedia anggaran makan bagi para alumni tersebut. Ia menyebut, menurut informasi yang diterimanya, biaya makan mereka tidak lagi tercakup dalam alokasi APBN setelah wisuda.
Namun, status pembiayaan dan bentuk dukungan yang masih diberikan kepada para alumni perlu memperoleh penjelasan resmi dari pihak UNHAN agar tidak menimbulkan ketidakpastian berkepanjangan.
Bagi para orang tua, persoalan ini mendesak karena anak-anak mereka sedang berada dalam masa peralihan: pendidikan telah selesai, tetapi kelanjutan karier belum memperoleh kejelasan yang memadai.
Mereka berharap pihak kampus dan kementerian terkait segera menjelaskan status para alumni, tanggung jawab pembiayaan setelah wisuda, serta mekanisme pendampingan bagi mereka yang belum lolos seleksi TNI.
UNHAN Ben Mboi, Kodam, dan Korem: Apa Manfaatnya bagi Anak-anak NTT?
Dalam penyampaiannya, Maxi juga mengajukan pertanyaan mendasar tentang tujuan pembangunan UNHAN Ben Mboi di Belu dan manfaat nyata yang diharapkan bagi generasi muda Nusa Tenggara Timur.
Ia menghubungkan harapan tersebut dengan pembangunan institusi pertahanan di wilayah NTT, termasuk keberadaan Kodam XXVII/Sobe Sonbai dan sejumlah Korem yang disebutnya dalam penyampaian aspirasi.
Menurut Maxi, pembangunan institusi pendidikan dan pertahanan seharusnya menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia, membuka kesempatan bagi putra-putri daerah, serta mendorong kemajuan masyarakat di kawasan perbatasan.
Ia menilai, semangat pembangunan UNHAN Ben Mboi yang dipahami orang tua sebagai peluang untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat NTT perlu diikuti dengan kejelasan mengenai manfaat pendidikan dan prospek para lulusannya.
Pertanyaan yang disampaikan bukan semata-mata mengenai peluang menjadi anggota TNI. Lebih luas, orang tua ingin mengetahui bagaimana investasi negara dalam pendidikan para kadet dapat berkontribusi terhadap pembangunan manusia dan masa depan generasi muda di wilayah perbatasan.
Bagi mereka, fasilitas pendidikan yang baik perlu berjalan beriringan dengan sistem pembinaan karier yang jelas, informasi yang terbuka, dan pendampingan bagi lulusan yang menghadapi hambatan.
Meski demikian, persoalan kelulusan seleksi TNI harus tetap ditempatkan dalam kerangka ketentuan penerimaan yang berlaku. Status sebagai alumni UNHAN tidak dengan sendirinya dapat dipahami sebagai jaminan otomatis menjadi prajurit, kecuali terdapat ketentuan resmi yang secara jelas mengatur hal tersebut.
Karena itu, penjelasan mengenai persyaratan awal, standar kelulusan, kuota, dan mekanisme seleksi menjadi bagian penting untuk menjawab keresahan para orang tua.
Menanti Jawaban dan Jalan Keluar
Keluhan orang tua kadet Cohort 3 UNHAN Ben Mboi Belu kini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari fasilitas yang disediakan atau seremoni wisuda yang dilaksanakan.
Ada fase setelah kelulusan yang juga membutuhkan perhatian: bagaimana alumni memahami pilihan masa depan mereka, bagaimana mereka memperoleh informasi mengenai peluang karier, serta bagaimana keluarga mendapatkan penjelasan ketika harapan mereka tidak berjalan sesuai perkiraan.
Para orang tua berharap Menteri Pertahanan, pimpinan UNHAN, dan pihak terkait bersedia membuka ruang komunikasi agar persoalan ini dapat dibicarakan secara terbuka dan proporsional.
Mereka membutuhkan penjelasan mengenai hasil seleksi, peluang mengikuti tahapan atau seleksi berikutnya sesuai ketentuan, alternatif pengembangan karier bagi alumni yang belum lolos, serta kepastian tentang status dan dukungan bagi mereka setelah wisuda.
Langkah tersebut penting bukan untuk mengesampingkan standar seleksi TNI, melainkan untuk memastikan bahwa setiap persoalan memperoleh penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan setiap alumni mengetahui arah yang dapat ditempuh.
Di balik kegelisahan para orang tua, ada harapan agar anak-anak mereka tidak kehilangan kepercayaan diri dan tidak merasa bahwa perjuangan pendidikan selama ini berakhir tanpa masa depan.
Kini, keluarga menanti jawaban. Bukan sekadar janji, melainkan penjelasan yang terbuka, mekanisme yang jelas, dan solusi konkret yang sesuai dengan aturan.
Bagi para orang tua kadet Cohort 3 UNHAN Ben Mboi Belu, yang mereka perjuangkan bukan hanya kesempatan anak-anak mengenakan seragam TNI, tetapi juga kepastian informasi, penghargaan atas proses pendidikan yang telah dilalui, serta kesempatan membangun masa depan secara bermartabat.
Polce Lerek | PodiumOne.net